Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Sepasang Percakapan di Meja Bundar

  Oleh Firman Fadilah   Mereka saling tatap di depan sebuah kafe. Seorang lelaki dan perempuan. Ke empat mata itu seolah menelisik ragu, kemudian bertanya-tanya apa iya masing-masing di antara mereka sedang berhadapan dengan orang yang benar? Mereka berdua sama-sama memakai masker. Wajah yang semula familiar tampak asing. Namun, dari garis alis dan kerut di dahi membuat mereka kemudian yakin bahwa mereka telah bertemu dengan orang yang tepat.   "Selamat pagi," ucap seorang lelaki, memecah kecanggungan.   Dalam banyak kesempatan, biasanya lelaki memang terlebih dahulu memulai, kemudian perempuan yang mengakhiri.   Mereka melepas masker dan seketika itu tampak sesungging senyum yang masih canggung. Padahal, mereka berdua adalah pasangan yang sudah bertunangan, seminggu yang lalu.   Mereka berdua duduk di kursi dengan meja bundar yang melingkar. Meja itu memberi kesempatan bagi mereka untuk duduk berhadapan, bertatap muka, seperti sepasang kekasih lain di seki...

Gitar Kecilku

  Foto dok.Nokenstudio Oleh: Aulia Manaf Aku sangat merindukan kamu, Banyu! Merindukan senyummu. Merindukan segalanya darimu. Namun hanya satu hal yang tak bisa aku terima. Kau telah merusak salah satu kebahagiaanku. Kau telah menghancurkan salah satu bagian hidupku. Kini rinduku musnah. Seolah setetes embun pagi yang jatuh ke tanah ini. *** Tak dapat kupungkiri bahwa Pak Majid adalah orang yang paling baik yang aku kenal, selain orangtuaku tentunya. Dia salah satu pejabat Kecamatan di kota ini. Sudah membantu keluargaku dalam hal keuangan . Memberikan aku segala keperluan sekolah , mulai aku kelas tiga SD sampai sekarang lulus SMA. Itu semua terjadi karena Bapakku sebagai tulang punggung keluarga sudah tiada, dan hanya ibu yang menjadi tukang cuci seterika yang menghidupi. Keluarga kecil kami dengan satu adikku yang selisih tiga tahun. “Kamu mau kuliah, Laras?”, Tanya Pak Majid suatu hari. “Tidak, Pak. Cukuplah lulus SMA saja. Saya mau kerja,Pak.”Aku menjawab dengan nada yakin. Le...

“POTRET SINGKAT SEORANG ANAK NEGERI DALAM MERAJUT MIMPI”

 Oleh Juliana A. Hamid Berdimisili di Banda Aceh   Seragam putih merah masih melekat di tubuh gadis mungil itu. Matahari menyinari bumi Allah dengan cahaya kuningnya, yang panasnya seakan menyengat sampai ke sumsum tulang. Seakan dapat mendidihkan ubun-ubun kepala. Bayangan kelam pohon asam pinggiran kota memberi keteduhan. Lalu lalang kendaraan yang menggepulkan asap pekat bukan persoalan lagi bagi seruni bocah yang  berusia 10 tahun itu.  Debu menderu terpingkal menjungkal menerjang bukan masalah baginya untuk tetap setia membantu ibunya berjualan di pinggir jalan. Hangat cuaca, angin mendesir, dedaunan kering-kering berjatuhan ibarat salju berguguran di musim dingin. SubhanaAllah panasnya siang ini keluhku. Hampir 300 meter jauhnya aku mendorong kereta kesayanganku ini untuk mencari bensin. Alhamdulillah, yang dicari akhirnya dapat juga...terlihat seorang bocah kecil berseragam sekolah yang kulihat dari kejauhan tadi dengan ramah dan senyum manisnya menyapaku deng...

Berbeda

Oleh Nova Julia Mahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling,  Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh Setiap sore seperti saat ini, aku selalu duduk di ayunan belakang rumah yang baru kami tempati beberapa minggu lalu.  Entah kenapa, saat pertama kali kemari, ayunan ini sudah langsung menarik perhatianku, hingga aku tak pernah absen untuk menaikinya.    Hingga matahari hampir sampai di peraduannya dan suara ibu sudah memanggilku untuk masuk ke dalam rumah.  Kami hanya tinggal berdua. Ayahku sudah meninggal ketika aku berusia 7 tahun. Penyebabnya sampai sekarang aku masih bertanya-tanya.    Pernah sekali aku bertanya pada ibu tentang itu, tapi beliau selalu mengatakan itu sudah kehendak tuhan, atau beliau selalu mengalihkan pembicaraan.    Aku Ziy, seorang gadis yang hampir berusia 15 tahun.  Kata ibuku, aku mempunyai suatu kemampuan yang orang lain tidak bisa melakukannya.  Sampai sekarang aku masih belum tahu kem...