Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Feature

Penerima Manfaat Pokir Harus Sesuai Dengan Data BDT

Banda Aceh- Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhuri MM mengaku prihatin dengan angka kemiskinan di Aceh. Rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa masyarakat miskin di Aceh tertinggi se-Sumatera. Persentase penduduk miskin Aceh pada periode Maret 2018 mencapai 893 ribu orang atau 15,97 persen, meningkat 0,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kedepannya, Alhudri berharap semua stakeholder dapat bersinergi, terencana dan tepat sasaran dalam menekan dan menanggulangi angka kemiskinan di Aceh sesuai dengan basis data terpadu (BDT) yang dimiliki oleh Pemerintah Aceh. Begitupun untuk pokok pikiran (Pokir) yang sebelumnya disebut asprasi anggota DPR, tahun anggaran 2019 juga harus disesuaikan dengan data BDT. “Kalau pun nanti ada Pokir dari DPR maka kegiatannya kita kembalikan ke daerah pemilihanya. Namun untuk penerima manfaatnya tetap harus merujuk pada BDT,” tegas Alhudri saat membuka Workshop Ekpose Hasil Penjajakan Awal dan Studi Kelayakan Komunit...

Jambo Ranup Seorang Perempuan

Mulia wareh ranup lampuan, Mulia rakan mameh suara. Karya: Shiti Maghfira Siswi Bahasa Jepang Kougetsu School/ siswa SMA Negeri 3 Banda Aceh             Hujan mengguyur deras Serambi Makkah beberapa pekan ini. Menjadikan kota berselimut dingin dan kabut. Kebanyakan orang memilih untuk meringkuk di rumah. Tapi bagi sebagian orang, menikmati hujan sambil berjalan-jalan, menyuguhkan kesenangan yang tak terkira. Di sinilah aku, pada petang, di bawah hujan, tepat di sekitar kawasan salah satu tempat wisata Islami di negeriku, Masjid Raya Baiturrahman.             Ramai sekali orang yang bertandang ke tempat ini. Juga para pedagang yang memenuhi sekitaran kawasan ini. Walaupun sudah tertera papan larangan untuk berjualan, tapi mereka sepertinya mengabaikan larangan tersebut. Di antara pedagang tersebut, ada sejumlah perempuan yang menjual barang yang sama. Jumlahny...

Pengupas Cangkang Kehidupan

Oleh: Iqbal Perdana Staff di CCDE Tubuhnya bergetar saat mengupas seonggok cangkang petang itu. Nur harus mengayunkan  sikien  c atok  (alat untuk mengupas cangkang tiram) empat sampai lima kali agar bibir cangkang lumat, “Kalau besar sampai 7 kali,” katanya. Mengadu  sikien catok  dan cangkang begitu saja tidak cukup, “Ada celahnya, harus diarahkan ke celah itu,” terang Nur sambil menunjuk celah pada wujud cangkang itu. “Mungkin untuk pertama tidak bisa melihat, karena sedikit sukar untuk dicari.” Tangan kirinya dibalut sarung tangan berwarna coklat, sedang tangan kanannya telanjang, hanya menggenggam  sikien catok . Sarung tangan yang ia gunakan juga sudah sobek, agaknya tidak layak pakai, ada bolong besar di jari telunjuk dan jari tengah sarung itu. Alhasil, banyak luka bekas sayatan cangkang tiram yang menganga di telapak tangannya. Nur. Wanita berumur setengah abad itu berprofesi sebagai nelayan tiram. Berawal dari membuntut teman, “Jadi ke...