Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

TETESKAN SEDIKIT SAJA AIRMATA KITA

  Oleh Nurdin F.Joes Teteskan sedikit saja airmata kita Masih banyak saudara kita, pedih menderita Ada yang belum makan pagi Sementara kita sudah selesai mencuci tangan, menutup makan malam  Teteskan sedikit saja airmata kita Tetangga kita masih mengurung diri di rumah yatim, miskin, dan duafa Sementara kita sudah berkeliling kota Meniup terompet kegembiraan Merayakan tahun yang berganti  Teteskan sedikit saja airmata kita Tubuh jiwa petani terbakar matahari Tanah ladangnya kering kerontang Irigasi yang kita bangun tak berfungsi Dan benih tanaman yang kita salurkan banyak pula yang palsu Sementara kita telah banyak mengambil laba  Teteskan sedikit saja airmata kita Para nelayan mengayuh sampan Mencari nafkah anak istrinya Matanya perih menatap sampan sampan bermesin Bergerak secepat angin Sementara bantuan yang kita berikan Sering-sering cacat tercela  Teteskan sedikit saja airmata kita Saudara kita tertatih ke taman-taman perobatan Mencari beberapa butir obat p...

IBU TERBAIK SEPANJANG MASA

Oleh Halimah Ibu.... Engkau wanita sederhana Tak berpendidikan  Bukan pula wanita pekerja Walau hanya tamatan sekolah rakyat saja Tapi perjuanganmu sungguh luar biasa Ibu... Seluruh hidupmu Engkau abdikan untuk keluarga Engkau besarkan kami dengan segenap jiwa raga Engkau didik kami dengan adat dan agama Engkau antarkan kami menuju gerbang cita-cita Ibu... Engkau sungguh wanita mulia Engkau selalu ada saat kami merana Engkau ajari kami untuk saling selalu menjaga Engkau tanamkan sifat bersahaja Engkau wariskan kesabaran yang tiada tara Ibu... Walau kini engkau telah lama tiada Namun jejakmu tetap abadi di tiap sudut rumah kita Wajah teduhmu tetap lekat di mata Hanya doa terbaik yang bisa kami kirim untuk mu    bunda juga buat ayah tercinta Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di syurga Semoga Allah kabulkan segala doa hambaNya Padangkudo, 22-12-2021

17 Belas Tahun Lalu Aceh Berduka

Oleh: Faiza Warahmah (Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya) Mengayun kembali sejarah dulu Mengingat luka lama saat lautan itu mengamuk Menerkam bak srigala Menyantap bak harimau yang tengah memakan mangsa, Semua itu,  Menghabiskan nyawa dan Menyertakan tangis di depan mata Saat itu juga Teriakan pecah  dimana mana Orang tua kehilangan anak Anak kehilangan orang tua Mengenggam sudah tak bisa  Mencari entah dimana Suara takbir bergema di angkasa Membuat riuh seisi dunia  Kabar burung sudah terbang dilangit sana Memberi tahu aceh  sedang berduka Ya allah.. Sungguh luar biasa kuasaMU Sebuah gesekan menguncang tanah rencongku Mengibas peluh pada negriku Membuat isak disetiap sedu Ku tahu, semua bencana adalah takdir dan kehendaMU  Yang membuat sejarah kami pilu Banyak duka di antara cerita itu Dan semoga trauma mereka, kami dan kita cukup sampai disitu Ya allah tuhanku.. Ku tadahkan tangan ku kelangit Berdoa pilu untuk saudaraku Semoga surga semua ...

ENGKAU TAK PERNAH MEMBENCI

  Nurdin F.Joes: **  Tuhanku kekasih Engkau tak pernah membenci kecuali menguji sejauh mana kami bersabar sejauh mana kami merela  Dengan gempa bumi 26 Desember 2004 itu dengan skala 8,9 Skala Richter pada pukul 07.58 lebih 38 detik pada episentrum 2,19 lintang utara --- 95,6 bujur timur dengan kedalaman 20 km di laut dan menjatuhkan ribuan rumah kami itu pun bukan kebencian dari-Mu itu adalah ujian sejauh apa kami bersabar sejauh apa kami dapat merela  Dengan tsunami 15 menit kemudian mematikan ratusan ribu korban menghanyutkan ribuan rumah rakyat menjatuhkan satu ton airmata itu pun bukan benci dari-Mu itu adalah ujian sejauh apa kami bersabar sejauh apa kami dapat merela  Tuhanku penyayang gempa telah Kau kirimkan tsunami telah Kau kirimkan karena kami sengaja meminta karena kami sengaja merela Di luar rumah-Mu ujian ini kami minta dari kantor-kantor pemerintah kami minta dari tangis anak yatim itu kami minta dari tangisan para janda kami minta dari dayah-day...

Ibu

  Sri Ramona Hus (Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya) Ibu  Ratu yang tak bermahkota Namun bertelapak kaki syurga Itulah gelar yang tersemat pada dirimu. Ibu Setiap saat kau berada di sisiku Menemaniku dari kecil hingga usia tuaku Mengasihiku dengan penuh kasih sayang. Ibu Terlalu banyak luka yang kugoreskan di hatimu Terlalu banyak air matamu berjatuhan karena diriku Namun do'a dan maafmu terlalu besar untukku. Ibu  Di sini kuberjuang untuk meraih cita-citamu Menerjang rintangan demi sebuah impianmu Ibu Kumohon do'amu selalu di setiap sujudmu Syukur dan do'a ku kepada Allah agar kau selalu bahagia.

Jerit Tangis Belantara Leuser

Dok Pribadi Karya Hamdani Mulya Leuser menangis dalam isak tak terkira Mendesah karena pohon yang tumbang dan ranting yang dicincang Leuser menjerit menggelegar seperti suara pohon yang dikorbankan oleh kaum penebang Demi dijadikan lumbung uang Sungai yang dulu biru Gemercik airnya suara merdu Laksana alunan puisi bertalu-talu Kini bercampur debu dan serbuk kayu pun Mengalir di rimba Aceh itu Karena ulah mesin gergaji yang dikemudikan orang tak dikenali Lalu banjir bandang pun datang menyapu Hingga atap rumah roboh karena longsor Mari! Ayolah mari ... Rawatlah hutan negeri ini Sebagai rasa syukur atas karunia Ilahi ya Rabbi Seperti mimpi-mimpi burung yang dulu bernyanyi di sarangnya Sambil menatap sungai jernih di pagi hari Berdiri di ranting dan pohon yang dulu indah itu Masih ada lagi yang peduli hutan Aceh yang ranum segar itu? Setelah tsunami datang menyapu Aceh dalam tangis pilu yang tak bertepi itu Semoga tak lagi datang banjir bandang yang pernah menerjang Tangse di Pidie pada h...

Untaian Puisi-Puisi Mustiar Ar.

                     PINJAMKAN AKU RINCONGMU Di sini  Gelisah mengapung Menyesak di dada Perjuanganmu diludahi Ampon.. Pinjamkan aku rencongmu Akan kuretas jantungnya ex korem, 12.06 2021 BULAN HAMIL III Ah bulanku hamil Ie ketuban berserak Di trotoar Meulaboh, 2020 AKU  Seekor camar gelisah  Rumahnya dihempas badai  Aku 2021 PUISIKU  Ribuan doa,disematkan Pada ratebnya - puisi hidupku Meulaboh, 2021 I B     U Kucium kening matahari dan sejumput asa kusemat di bahunya Ibu lihatlah anakmu kini masih saja tegar walau kadang badai ini mencabik tubuh - hingga berkeping keping Ibu Di hatiku penuh rasa cinta seperti yang kau ajarkan ketika di meunasah kubu  Meulaboh,22.12.2014

Rindu Diam Dalam Kalbu

Oleh Savitri Jumiati Ranting dedaun tak berkutat Senja merah semburat kulihat Tak ada angin yang berisik kudengar Hampir sunyi hujung jejalan menuju pulang Terenyuh aku tika suara adzan berkumandang Ini aku yang menatap pedih airmata Separuh jiwa diambingkan pekat Entah arah benak yang mulai lupa Saat lembar kalimat ku telah lesap Membawa wajah kembang Melayu Kali ini aku lepas kata Yang mana buta tak bertuan guru Sajak jiwa dalam hati Di kaki bumi merahnya tanah Rinduku diam pada kalbu Itu engkau .  Bekasi Minggu 19 Desember 2021 Telaga Sastra Cinta "Savitri J (Saju Enma)"

KEPADA PARA PEREMPUAN, IBU KAMI

Nurdin F.Joes: Kepada para perempuan kami kepada ibu kami di tanganmu kami titipkan embun di dadamu kami sematkan cinta dan di lehermu kami kalungkan bunga Agar, para lelaki kami selalu kuat dan teguh mengayuh sampan menyeberangkan anak-anak dalam samudra raya meskipun di gelap buta Dengan itu, di masa depannya anak-anak kami tidak meraba matahari tetapi mendekap purnama  Kepada para perempuan kami kepada para ibu kami jangan pernah abaikan sejuk butir embun jangan pernah singkirkan putik-putik cinta juga jangan pernah lupakan tangkai-tangkai bunga Agar, dadamu memancarkan mata air dan anak-anak kami damai merebahkan diri pada putih dadamu Lalu mendengar alun musik dalam erat dekapmu  Banda Aceh, 20 September 2002  Penulis merupakan pemenang Lomba Cipta Puisi Untuk Kemerdekaan Namibia (Toward Namibian Independence) dilaksanakan Kantor Penerangan PBB (UNIC) tahun 1987 melalui puisi berjudul Menangislah untuk Anak-anak Negeri (Weep for the Children of the Land) dan mendapat...

Bisakah Kuwujudkan?

  Karya: Putri Ratasya Siswa SMAN 1 Lhokseumawe Mimpi yang kugantungkan di bintang bintang Segenggam harapan yang telah kupajangkan di bulan Sekepal tekad yang kurekatkan di langit Ribuan keinginan yang sering kukisahkan kepada malam Bahkan cita cita yang kuselipkan di antara bait bait puisi ini  Bisakah kuwujudkan?  Lhokseumawe, 18 Desember 2021