Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Guru Menulis

Menghadirkan Tuhan Dalam Buku

  Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok, Penulis dan Pendiri Ikatan Guru Indonesia ( IGI) Ketua IGI Kota Bogor, ibu Siti Amalia mengirimiki buku esainya dan saya sangat senang bahwa guru, mohon maaf, semakin banyak yang mampu menulis dengan renyah dan nyaman dibaca, tidak seperti buku teks yang sering dijejalkan ke murid-muridnya. Nyaris di semua esainya, bu guru Amalia menuliskan dengan lengkap acuan buku, makalah dan dokumen yang dikutipnya. Sehingga dapat dibayangkan berapa puluh dokumen dan buku/makalah yang beliau baca untuk menghasilkan sebuah buku yang termasuk tidak tebal itu. Daftar acuan itu menunjukkan dahsyatnya bu Amalia dalam membaca yang tidak hanya teks bahasa Indonesia saja, namun tak sedikit yang dalam bahasa Inggris. Saya pikir saat ini masih belum banyak guru yang terlihat "keranjingan" membaca seperti beliau. Bagi sesama guru, buku ini akan bisa menjadi inspirasi bagaimana mengajar di kala pandemik karena sangat banyak hal teknis yang beliau sampaikan. B...

Menulis di Media dan Memetik Hasilnya

Oleh Tabrani Yunis Idealnya, seorang   sarjana, lulusan perguruan tinggi itu mampu atau bisa menulis, bahkan sangat mahir. Dikatakan demikian, karena ketika menyandang status sebagai mahasiswa, sering mendapat tugas menulis dari dosen, seperti menulis makalah atau tugas karya ilmiah. Bahkan sebagain tugas akhir untukm bisa meraih gelar sarjan, seorang calon sarjana harus mampu menulis skripsi. Jadi, seorang calon sarjana akan bisa menjadi sarjana, kalau sudah berhasil menulis skripsi dan mempertanggungjawabkan skripsinya lewat sidang sarjana. Bila lulus, baru sah menjadi sarjana apabila ia mampu dan lulus ujian akhir itu. Hebat bukan? Tentu saja hebat dan bahkan membanggakan, karena lulusn menjadi sarjana. Namun, sayangnya banyak sarjana yang lulus dan meraih gelar sarjana, kemudian menyatakan bahwa mereka tidak bisa menulis. Bila tidak percaya, cobalah ajak mereka yang sudah sarjana tersebut menulis, mengisi ruangb opini di media massa, maka sering sekali kita mendapatka...

Apakah Tulisan Anda Cukup Menarik dan Penting Dibaca?

Oleh Tabrani Yunis. ( Sebuah Catatan Yang Tercecer)  Bagian ke dua Ini adalah tulisan lanjutan. Ya, lanjutan dari tulisan sebelumnya yang diposting di  www.potretonline.com pada tanggal 20 Juli 2019 lalu, dengan judul “ Berbincang Tentang Menulis, sembari menikmati Mie Aceh”. Tulisan yang menjadi catatan yang tercecer, agar tidak lupa. Sebut saja ini sebuah tulisan untuk melawan lupa. Dengan harapan tulisan ini bisa menjadi pengingat ( reminder ) akan sebuah kegiatan yang sangat positif dalam membangun kapasitas menulis orang-orang muda di Aceh kala ada pihak yang peduli dan mau berbuat untuk orang muda Aceh, walau sudah hampir setahun berselang. Maka, wajar pula tulisan ini disebut sebagai catatan yang tercecer, di mana bagian pertama mungkin sudah dibaca. Kalau pun belum, bisa dicari di  www.potretonline.com . Nah, apa yang perlu dicatat dalam tulisan bagian kedua ini adalah terkait dengan lokasi atau location. Walau ini selama ini, dalan masyaraka...

Aku Punya Mau

Oleh Khairanil Fitri Guru SMA Negeri 1 Bireun, Aceh Menulis, salah satu dari empat ketrampilan berbahasa itu, sesunggunya merupakan ketrampilan berbahasa yang sangat menyenangkan. Menulis menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan pikiran, pendapat atau bahkan mereproduksi berbagai macam informasi, pengetahun dan lainnya lewat tulisan. Karena menulis tersebut sebagai kegiatan yang menyenangkan dan membanggakan, sebenarnya banyak sekali orang di dalam masyarakat kita yang ungin menggunakan ketrampilan ini untuk berbagi informasi, pengetahuan dan ilmu pengetahuan.  Namun ketika ingin menulis, banyak hal yang menghambat. Banyak hal yang mengganjal, sehingga sulit mewujudkan tulisan. Seringkali, ketika punya keinginan untuk menulis rintangan besar yang pertama muncul adalah tidak adanya ide atau gagasan yang akan ditulis. Padahal, ide itu adalah yang harus ada. Bagaimana bisa menulis kalau tidak ada ide? Mengawang-awang  bukan? Oleh sebab itu, kalau in...