Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Memilah Sampah Dari Rumah

  Oleh Tabrani Yunis Usai membantu membuka toko POTRET Gallery yang beraalamat di jalan Prof. Ali Hasyimi, Pango Raya Banda Aceh pagi ini, aku langsung menuju mobil dan meluncur ke arah kantor Gubernur Aceh. Setiba di depan hotel Hermes Palace, tiba-tiba mata tertuju ke sebuah baliho besar berwarna hijau. Baliho itu mengundang perhatianku. Barangkali karena aku concern dengan persoalan sampah. Ya, bagiku iklan yang ditampilkan itu menarik dan menggelitik pikiranku. Baliho besar, berwarna hijau dengan tulisan besarnya berbunyi, “ Memilah Sampah di Sekolah”, dan di bawah tulisan itu ada gambar bangunan sekolah dengan 4 buah tong sampah ( garbage bins). Ke empat tong sampah itu diwarnai dengan warna berbeda dan disertai tulisan sebagai keterangan. Tong atau garbage bin pertama berwarna biru dengan tulisan “ Kertas”. Tong kedua berwarna kuning dengan tulisan “Botol”. Tong ke tiga, warna ungu dengan tulisan”plastik” dan tong ke empat, berwarna hijau, dengan tulisan “ residu”. Jadi, bali...

5 Alasan Pentingnya Menjaga Rekomendasi

  Oleh Tabrani Yunis   Rekomendasi, sudah pasti kata ini adalah kata pinjaman atau  borrowing word.  Pastinya dari bahasa Inggris. Kalau tak percaya, silakan buka kamus bahasa Inggris, pasti menemukan kata “recommendation” ini. Sebagai kata serapan atau pinjaman, maka dalam bahasa Indonesianya, kata recommendation berubah sedikit saja, tanpa banyak perubahan menjadi lebih garing didengar dan diucapkan. Ya, menjadi rekomendasi atau malah sering disingkat menjadi kata rekom. Lalu, apa    maknanya? Perlu bagi kita mengetahui arti atau maknanya bukan? Sebaiknya kita fahami pada setiap kali kita menggunakan kata itu.   Ya, kalau kita mengacu kepada pengertian yang diberikan dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia, rekomendasi itu dimaknai sebagai sebuah saran, anjuran, referensi dan bahkan mendapat kepercayaan atau trust. Pertanyaan lanjutan adalah, siapa yang memberikan rekomendasi tersebut? Tentu saja, bisa orang lain yang memberikan rekomendasi kepada kita,...

Pendidikan dan Middle Income Trap

  Oleh Ahmad Rizali  Berdomisili di Depok Dua puluh tahun silam, sebuah riset oleh tim Jepang yang tidak dipublikasikan dengan semarak menyebutkan bahwa di masa depan (saat ini) 3 jenis bisnis yang tumbuh pesat adalah: Wellness, Education dan Digital/IT. Riset itu terbukti. Kemarin seorang wartawan ekonomi dari sebuah lembaga besar membandingkan nasib Amerika Selatan yang terengah -engah keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah menuju penghasilan tinggi. Mencemaskannya, sang wartawan menilai negara Asean dengan rujukan Amerika Latin. Dituliskan, Indonesia, Filipina dan Thailand bisa bernasib buruk karena sektor pendidikan dianggarkan kecil terhadap PDB negaranya. Saya melihatnya sebagai kepedulian terhadap pendidikan dengan benar. Meski dianggarkan 20 % terhadap APBN, jika tidak fokus, maka bak menggarami air laut. Apalagi jika 20% itu terhitung kecil (relatif dibanding negeri acuan) persentasenya terhadap PDB, selesai sudah. Tak berdampak. Betul, APBN kita terbatas....

Seni, Muda, Budaya dan Nasionalisme

  Oleh Hafidh Mulyansyah Putra Berdomisili di Bandung, Jawa Barat     Nasionalisme itu apa sih? Saya bertanya pada diri sendiri ini. Saya paham betul bahwa nasionalisme dibentuk dari 2 gabungan kata, nasional dan isme. Nasional berarti bangsa sendiri dan isme menunjukkan sifat atau karakter, jadi nasionalisme berarti sifat kebangsaan. Definisi simpel itu selalu menjadi isu hangat di bawah langit-langit Indonesia hingga sekarang. Namun apakah kita sadar bahwa apresiasi terhadap penganut sifat kebangsaan ini masih saja kurang dihargai? Terutama pada pelaku seni, lebih spesifik lagi pada pelaku seni muda tradisional, yang saya sebut  the real hero  saat ini. Oke, sebaiknya kita awali dengan menerawang tentang seni tradisional itu sendiri. Siapa itu pelaku seni muda tradisional? Apa sih peran pentingnya? Seberapa pentingnya dalam menumbuhkan sifat kebangsaan ini?    Seni dan budaya, dua kata yang berbeda arti, saling berkaitan, sehingga terkadang disamaart...

Ranah (Pendidikan) Kebudayaan di Kemdikbud

  Oleh Ahmad Rizali  Berdomisili di Depok,Jawa Barat Mendikbud itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Artinya, selain urusi Pendidikan juga urusi Kebudayaan. Beberapa tetua, bahkan menyatakan bahwa Pendidikan itu sub dari Kebudayaan. Jadi sudah tepat diurusi dalam satu kementrian, meski masih juga ada yang protes mengapa bukan disebut Menbuddik. Tidak asik nampaknya kata akronim Menteri Kebudayaan dan Pendidikan, Ministry of Culture and Education. Ada ujar ujar menarik "tanpa kebudayaan, maka anda tak punya identitas" dan saya sepenuhnya setuju dengannya. Oleh karena itu, Nawacita presiden Jokowi di periode pertama sangat kental nuansa kebudayaannya dan seingat saya 4 dari 9 butir nawacita terkait Kebudayaan, dan Pendidikan hanya sebutir. Apakah lantas kebijakan anggaran juga seperti itu?  Entahlah, dengan sedih hati saya katakan tidak. Ditjen yang dipimpin oleh Hilmar Farid sangat kesulitan mengembangkan diri karena ketatnya anggaran. Pendidikan juga memiliki Pusat Pembi...

Semangat Bangsa Milenial Muda di Hari Sumpah Pemuda

Oleh Meliana Eka Suci Pada tahun 2021 ini, usia Sumpah pemuda sudah mencapai angka 93 tahun sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda di Batavia atau sekarang kita sebut Jakarta, yang diselenggarakan selama dua hari, tanggal 27-28 Oktober.  Setiap tanggal 28 Oktober kita bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Kita sebagai bangsa Indonesia yang berjiwa muda tidak seharusnya hanya menurut apa kata orang yang menyuruh kita untuk melakukan ini dan itu. Seharusnya kita sebagai bangsa muda Indonesia, memiliki jiwa muda membara. Dengan jiwa muda yang kita miliki, semangat yang membara dalam raga kita akan menggelora untuk mewujudkan tekad untuk meraih cita-cita yang ingin kita raih. Lakukanlah apa yang terbaik untuk diri sendiri. Jangan mudah terpancing oleh perkataan orang lain yang membuat semangat kita    menurun.  Jika merasa keadaan sedang tidak baik-baik saja, istirahatlah sejenak. Tetapi jangan putus semangat untuk cita-cita yang ingin kita capai. “Bangkit”, adala...

Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya

  Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok Meskipun para pendiri negeri ini sudah tepat mendahulukan anjuran membangun Jiwa kemudian membangun Badan, namun jelas adalah sebuah kelalaian jika badan tidak dibangun normal. "Abnormalitas" dapat dilihat benderang dengan angka prevalensi bayi lahir mengidap "stunting" alias kunthet atau kerdil. Kekerdilan badan biasanya diikuti oleh otak dan jelas volume otak yang kerdil, maka potensi (nalar)nya juga menciut. Dalam kondisi ini, jika terjadi harus diakui bahwa kita gagal membangun badan. Bagaimana mungkin bisa optimal membangun jiwa, jika badannya tidak normal alias kerdil? Seorang kawan mengisahkan, di Kab Jember, data 2020 menunjukan bahwa 4 dari 10 bayi yang lahir di sana adalah bayi kerdil. Angka baseline RPJM 2019-2024 di 27 % dan ditargetkan dicapai menjadi 14 % di akhir Tahun 2024. Campuran fakir dalam kondisi tubuh dan potensi nalar, jelas akan berlanjut dengan fakir dalam ekonomi. Biasanya, kalangan elit sosial dan ...

NYALI NADIEM?

Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok  Dua pekan lalu saya menonton film dengan kisah seorang agen FBI muda yang berlatar penggila olahraga ekstrim dan bertugas menangkap seorang "kriminal ekologis" (disebut demikian karena mereka memusuhi perusahaan yang mengeruk isi bumi dan merusak alam). Asik, karena saya pernah nyerempet-nyerempet beberapa kegilaan seperti ini juga. Yang ingin saya singgung adalah tentang keberanian dan kenekatan, modalnya nyali.  Kawan saya dulu bilang "Koperasi Mahasiswa di prodi Teknik/Rekayasa seringkali lebih maju dari pada prodi Ekonomi, karena mahasiswa Teknik tak tahu koperasi sebanyak mahasiswa prodi ekonomi, sehingga nekat saja..." Nekat artinya, nyali dipraktikkan tanpa perhitungan nalar. " Sisakan sedikit ketakutan pada dirimu, agar kalian tidak nekat" ujar seorang pesohor olahraga ektrim.  Nadiem itu nyaris "nul puthul" dalam pengalaman Pendidikan, sehingga nyaris tak punya jejaring di dunia yang oleh seorang s...

Standar Pendidikan Indonesia di Masa Depan

Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok  Dalam masa injury time, BSNP mengadakan 2 seri FGD dengan mengundang responden yang dianggap pakar dalam bidang pendidikan. Mungkin karena durasi saya aktif di dunia pendidikan, atau pengalaman saya nyaris pernah terlibat di semua jenjang atau dikenal oleh kawan saya yang berkawan dengan tokoh BSNP, jadilah saya responden pakar yang diminta menjawab pertanyaan terstruktur dari tim pakar BSNP. Di bawah ini esai ringkasan jawaban saya (semoga dapat A+). Standar Pendidikan masih diperlukan, meskipun BSNP diamputasi, namun 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) wajib diubah total, mengapa ?  8 SNP itu, meskipun disusun sangat lengkap dengan acuan perundangan yang kokoh dan mencakup semua keinginan tujuan pendidikan di Konstitusi, namun sangat ideal sehingga terkesan yang akan dituju dengan 8 SNP ini adalah "manusia super" uber alles atau insan kamil (Iqbal, 1964). Di lain sisi, pelaksana standar ini masih dalam tahap pemula (novice), sehingga ...

Demokrasi Dirampas Covid?

Oleh Muzirul Qadhi Mahasiswa Universitas Bina Bangsa Getsempena, Banda Aceh, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Sejak Pemerintah Indonesia menetapkan Covid 19 sebagai bencana nasional, tampak terlihat perubahan secara drastis, baik demokrasi maupun secara ekonomi kerakyatan. Hal tersebut tidak terlepas dari lahirnya kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid 19. Namun di sisi lain, ada hak – hak rakyat yang tidak terpenuhi yang tentunya akan dapat menjadi preseden buruk bagi Indonesia ke depan. Sebelum penulis mengulas lebih jauh, penulis akan menerangkan terlebih dahulu apa itu Corona Virus (Covid 19). Dalam catatan World Health Organization (WHO), virus corona adalah    keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Pada manusia sendiri corona diketahui menyebabkan infeksi pernafasan, mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Mers dan Sars.  Covid 19 merupakan penyakit menular dan pertama kali ditemukan di Wuhan, China ...