Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

BURUNG BALAM KAMI

Oleh Delia Rawanita  " Ayah, lihatlah. Ada burung masuk ke dalam rumah kita" teriak Niki gembira.  " Tutup pintunya, biar tidak  keluar" teriak Biyu dari dalam kamar. Benar saja burung itu terperangkap di ruang tamu. Tubuhnya lemah tidak bergerak, pasrah.  " Kasihan, pasti kamu lapar, ya" kata Niki sambil mengelus bulu burung dengan hati hati.   Biyu segera mengambil air dan beras.  Burung Balam berwarna putih bersih ternyata jinak, dalam sekejap burung tersebut sudah mulai berani beradaptasi, paruhnya dengan lincah mematuk beras yang diberikan Niki.  Syukurlah, burung Balam sesat tersebut selamat di tangan Dua kakak beradik ini. Apalagi mereka ternyata  penyayang binatang. " Yah, belikan sangkar buat burung ini " rengek Niki pada Ayah " Kasihan burungnya, sudah tidak bebas hidupnya" sahut Ayah " Jangan dilepas ya, Yah" kata Biyu sedih. " Oke, mumpung hari libur, bagaimana kalau Ayah bikin tempat singgah burung di samping...

TETESKAN SEDIKIT SAJA AIRMATA KITA

  Oleh Nurdin F.Joes Teteskan sedikit saja airmata kita Masih banyak saudara kita, pedih menderita Ada yang belum makan pagi Sementara kita sudah selesai mencuci tangan, menutup makan malam  Teteskan sedikit saja airmata kita Tetangga kita masih mengurung diri di rumah yatim, miskin, dan duafa Sementara kita sudah berkeliling kota Meniup terompet kegembiraan Merayakan tahun yang berganti  Teteskan sedikit saja airmata kita Tubuh jiwa petani terbakar matahari Tanah ladangnya kering kerontang Irigasi yang kita bangun tak berfungsi Dan benih tanaman yang kita salurkan banyak pula yang palsu Sementara kita telah banyak mengambil laba  Teteskan sedikit saja airmata kita Para nelayan mengayuh sampan Mencari nafkah anak istrinya Matanya perih menatap sampan sampan bermesin Bergerak secepat angin Sementara bantuan yang kita berikan Sering-sering cacat tercela  Teteskan sedikit saja airmata kita Saudara kita tertatih ke taman-taman perobatan Mencari beberapa butir obat p...

Hujan di Penghujung Tahun

Oleh Halimah  Berdomisili di Agam, Sumatera Barat Tak terasa tahun 2021 hampir berlalu/ Tiba masanya Fajar 2022 segera datang/ Hanya sayang kita tak bisa lagi berhati riang/ Hujan di penghujung tahun turun bak air dituang/ Dingin nya gunung Marapi dan Singgalang/ Dahsyat amat menusuk tulang/ Daku terus merenung dengan hati gamang/ Doa ku semoga janji baik segara datang/ Bukittinggi begitu ramai oleh pendatang/ Bercengkerama di bawah jam gadang/ Betapa berbeda nya tahun sekarang/ Bahaya Covid 19 masih menghadang/ Banyak orang frutasi dan meradang/ Buruh, pegawai, dokter serta pedagang/ Biaya hidup terus naik tinggi menjulang/ Betapa negeri ini serasa mau tumbang/ Berharap semoga corona cepat hilang/ Padangkudo, 31 Desember 2021 Penulis: Halimah, S.Pd - Agam

IBU TERBAIK SEPANJANG MASA

Oleh Halimah Ibu.... Engkau wanita sederhana Tak berpendidikan  Bukan pula wanita pekerja Walau hanya tamatan sekolah rakyat saja Tapi perjuanganmu sungguh luar biasa Ibu... Seluruh hidupmu Engkau abdikan untuk keluarga Engkau besarkan kami dengan segenap jiwa raga Engkau didik kami dengan adat dan agama Engkau antarkan kami menuju gerbang cita-cita Ibu... Engkau sungguh wanita mulia Engkau selalu ada saat kami merana Engkau ajari kami untuk saling selalu menjaga Engkau tanamkan sifat bersahaja Engkau wariskan kesabaran yang tiada tara Ibu... Walau kini engkau telah lama tiada Namun jejakmu tetap abadi di tiap sudut rumah kita Wajah teduhmu tetap lekat di mata Hanya doa terbaik yang bisa kami kirim untuk mu    bunda juga buat ayah tercinta Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di syurga Semoga Allah kabulkan segala doa hambaNya Padangkudo, 22-12-2021

Serumpun Puisi Mohd. Adib. Ab, Rahman

TIBA-TIBA SAJA KAU MENAIKI KERETA PERGI KE WILAYAH LENYAP   Tiba-tiba saja kau menaiki kereta pergi ke wilayah lenyap pelita terpadam di gubuk buruk di belasah angin lalu timbul gelap bagai nasib malang orang-orang tertindas hanya kerana kemiskinan itu bangsaku sendiri, kerana malaskah atau takdir yang salah? betapa pedih batin ditusuk belati seperti kisah mangsa covid19 satu demi satu tumbang tidak ada yang mampu menghiburkan kecuali hati yang sabar, doa berterusan dan pasrah   Kau tak pernah nyalakan lampu isyarat di persimpangan bagiku peristiwa berlaku terlalu pantas, tak terduga ketika belum sepenuhnya aku terjemah dan membaca kau   Aku bersama sepi pada pusara pahlawan tak dikenang walau semalam berjuang tegakkan keadilan di negeri ini kini aku taman tanpa bunga kau daun yang tinggalkan dahan moga esok menghulurkan tangan ketiadaanmu berganti hidupku meriah dengan langgam-langgam bulan   Karya, MOHD ADID AB RAHMAN Jasin, Melaka 24 Disember, 2021     ...

Ibu

  Sri Ramona Hus (Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya) Ibu  Ratu yang tak bermahkota Namun bertelapak kaki syurga Itulah gelar yang tersemat pada dirimu. Ibu Setiap saat kau berada di sisiku Menemaniku dari kecil hingga usia tuaku Mengasihiku dengan penuh kasih sayang. Ibu Terlalu banyak luka yang kugoreskan di hatimu Terlalu banyak air matamu berjatuhan karena diriku Namun do'a dan maafmu terlalu besar untukku. Ibu  Di sini kuberjuang untuk meraih cita-citamu Menerjang rintangan demi sebuah impianmu Ibu Kumohon do'amu selalu di setiap sujudmu Syukur dan do'a ku kepada Allah agar kau selalu bahagia.

Jerit Tangis Belantara Leuser

Dok Pribadi Karya Hamdani Mulya Leuser menangis dalam isak tak terkira Mendesah karena pohon yang tumbang dan ranting yang dicincang Leuser menjerit menggelegar seperti suara pohon yang dikorbankan oleh kaum penebang Demi dijadikan lumbung uang Sungai yang dulu biru Gemercik airnya suara merdu Laksana alunan puisi bertalu-talu Kini bercampur debu dan serbuk kayu pun Mengalir di rimba Aceh itu Karena ulah mesin gergaji yang dikemudikan orang tak dikenali Lalu banjir bandang pun datang menyapu Hingga atap rumah roboh karena longsor Mari! Ayolah mari ... Rawatlah hutan negeri ini Sebagai rasa syukur atas karunia Ilahi ya Rabbi Seperti mimpi-mimpi burung yang dulu bernyanyi di sarangnya Sambil menatap sungai jernih di pagi hari Berdiri di ranting dan pohon yang dulu indah itu Masih ada lagi yang peduli hutan Aceh yang ranum segar itu? Setelah tsunami datang menyapu Aceh dalam tangis pilu yang tak bertepi itu Semoga tak lagi datang banjir bandang yang pernah menerjang Tangse di Pidie pada h...

Untaian Puisi-Puisi Mustiar Ar.

                     PINJAMKAN AKU RINCONGMU Di sini  Gelisah mengapung Menyesak di dada Perjuanganmu diludahi Ampon.. Pinjamkan aku rencongmu Akan kuretas jantungnya ex korem, 12.06 2021 BULAN HAMIL III Ah bulanku hamil Ie ketuban berserak Di trotoar Meulaboh, 2020 AKU  Seekor camar gelisah  Rumahnya dihempas badai  Aku 2021 PUISIKU  Ribuan doa,disematkan Pada ratebnya - puisi hidupku Meulaboh, 2021 I B     U Kucium kening matahari dan sejumput asa kusemat di bahunya Ibu lihatlah anakmu kini masih saja tegar walau kadang badai ini mencabik tubuh - hingga berkeping keping Ibu Di hatiku penuh rasa cinta seperti yang kau ajarkan ketika di meunasah kubu  Meulaboh,22.12.2014

Rindu Diam Dalam Kalbu

Oleh Savitri Jumiati Ranting dedaun tak berkutat Senja merah semburat kulihat Tak ada angin yang berisik kudengar Hampir sunyi hujung jejalan menuju pulang Terenyuh aku tika suara adzan berkumandang Ini aku yang menatap pedih airmata Separuh jiwa diambingkan pekat Entah arah benak yang mulai lupa Saat lembar kalimat ku telah lesap Membawa wajah kembang Melayu Kali ini aku lepas kata Yang mana buta tak bertuan guru Sajak jiwa dalam hati Di kaki bumi merahnya tanah Rinduku diam pada kalbu Itu engkau .  Bekasi Minggu 19 Desember 2021 Telaga Sastra Cinta "Savitri J (Saju Enma)"

Teruntuk Yang Terkasih, Ibu

Oleh: Faiza Warahmah Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya   Ibu... Kau adalah wanita terhebat  Setiap sekat kau jadikan tanggung jawab Semua peluh kau buat runtuh Bahkan, semua rasa sendu kau buat jadi merdu Ibu... Kau Adalah satu kata yang tak mungkin Semua orang mengerti bahasanya Kata mereka, ibu    seperti ini Kataku, ibu merwarnai Kata mereka, ibu seperti itu Kataku, ibu membawa warna baru. Kata mereka, ibu pemarah, pengatur,    sadis Kataku. Ibu humoris Kenapa?  Karna ibu adalah tahta di atas segala tahta. Yang tanpa ibu hidup bagai syair tanpa makna Ibu... Sembari kumeneguk wedang jaheku Sembari kudengar rintikan hujan di kotaku Sembari itu pula aku terus mencintaimu Ibu... Selama ini kau membesarkanku. Menjadikan aku berguna pada masanya Dan kutau, bu, Ada denting nada luka yang mengalun di relung hatimu Bersimpuh pada sayatan luka yang menjadi Tapi, dengan tekad teguhmu, menguatkanku. Kau campakkan egomu demi menyelematkan egoku ...

KEPADA PARA PEREMPUAN, IBU KAMI

Nurdin F.Joes: Kepada para perempuan kami kepada ibu kami di tanganmu kami titipkan embun di dadamu kami sematkan cinta dan di lehermu kami kalungkan bunga Agar, para lelaki kami selalu kuat dan teguh mengayuh sampan menyeberangkan anak-anak dalam samudra raya meskipun di gelap buta Dengan itu, di masa depannya anak-anak kami tidak meraba matahari tetapi mendekap purnama  Kepada para perempuan kami kepada para ibu kami jangan pernah abaikan sejuk butir embun jangan pernah singkirkan putik-putik cinta juga jangan pernah lupakan tangkai-tangkai bunga Agar, dadamu memancarkan mata air dan anak-anak kami damai merebahkan diri pada putih dadamu Lalu mendengar alun musik dalam erat dekapmu  Banda Aceh, 20 September 2002  Penulis merupakan pemenang Lomba Cipta Puisi Untuk Kemerdekaan Namibia (Toward Namibian Independence) dilaksanakan Kantor Penerangan PBB (UNIC) tahun 1987 melalui puisi berjudul Menangislah untuk Anak-anak Negeri (Weep for the Children of the Land) dan mendapat...