Oleh : Indra Mardiani, S. Pd Alkisah di sebuah desa di Aceh Besar, hidup seorang perempuan kecil dengan neneknya.Perempuan itu sering disebut dengan Inoeng dan neneknya dipanggil dengan sebutan Empe. Kehidupan mereka sangatlah memprihatinkan, tetapi mereka menjalani kehidupan dengan penuh syukur dan pantang menyerah. Sayangnya, keprihatinan tersebut dari hari ke hari semakin tak dimengerti oleh Inoeng. Seringkali ia tidak punya makanan yang bisa dimakan. Inoeng biasanya bekerja mencari kayu bakar ke hutan dan menukarnya dengan beras. Sedihnya, pekerjaan itu tak dapat ia lakukan, karena ia harus menjaga neneknya sakit. “ Inoeng, jak kenoe sajan Empe, picet ulee siat ,” ( Inoeng, kemari sebentar, tolong pijit kepala nenek,” “Get, Empe” Inoeng tak pernah membantah apa yang diminta oleh neneknya. Ketika Inoeng memijit kepala neneknya, ia berdoa dalam hati agar neneknya mau makan dan minum, walaupun hanya air putih yang ada di rumahnya. Selama sakit satu gelas air ...
Majalah Perempuan Kritis dan Cerdas