Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Legenda

Empe Tega

  Oleh : Indra Mardiani, S. Pd   Alkisah di sebuah desa di Aceh Besar, hidup seorang perempuan kecil dengan neneknya.Perempuan itu sering disebut dengan Inoeng dan neneknya dipanggil dengan sebutan Empe. Kehidupan mereka sangatlah memprihatinkan, tetapi mereka menjalani kehidupan dengan penuh syukur dan pantang menyerah. Sayangnya,    keprihatinan tersebut dari hari ke hari semakin tak dimengerti oleh Inoeng. Seringkali ia tidak punya makanan yang bisa dimakan. Inoeng biasanya bekerja mencari kayu bakar ke hutan dan menukarnya dengan beras. Sedihnya, pekerjaan itu tak dapat ia lakukan, karena ia harus menjaga neneknya sakit. “ Inoeng, jak kenoe sajan Empe, picet ulee siat ,” ( Inoeng, kemari sebentar, tolong pijit kepala nenek,” “Get, Empe” Inoeng tak pernah membantah apa yang diminta oleh neneknya. Ketika Inoeng memijit kepala neneknya, ia berdoa dalam hati agar neneknya mau makan dan minum, walaupun hanya air putih yang ada di rumahnya. Selama sakit satu gelas air ...

Legenda Sungai Indung

Foto Mongabay Oleh : Siti Maimunah, S.Sos.I   Sungai adalah aliran air permukaan yang bentuknya memanjang dan mengalir secara terus menerus dari hulu ke hilir. Ada juga yang menyebut sungai adalah air tawar dari sumber alamiah yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah  dan bermuara ke laut. Gemericik air yang mengalir membuat suasana dingin semakin menjadi, karena semalam hujan tak berhenti hingga adzan subuh berkumandang. Indung,    seorang nenek yang tinggal di dekat sungai besar di desa Jagong Jeget.    Ia hanya seorang diri tinggal di rumah itu dan memang tidak ada rumah lain selain rumah Indung. Walaupun seorang diri, Indung tetap bersemangat dalam mencari nafkah untuknya sendiri. Bukan tidak punya sanak saudara, akan tetapi sanak saudaranya tinggal  agak jauh dari sungai itu. Indung tidak mau ikut dengan anaknya karena Indung membuka warung sembako di kediaman yang sangat sangat sederhana itu. Sangat sederhana, karen...

Asal Mula Mukim Cot Saluran

Oleh: Amira Uzlifatul Jannah Siswi Kelas VIII SMP Fajar Hidayah   Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil di pinggiran kota kerajaan, hiduplah beberapa Puak keluarga dengan damai. Semuanya aman tenteram tanpa ada yang mengganggu. Sehari-hari, penduduk desa menggarap sawah atau menggembala ternak. Hari itu, penduduk desa berembuk untuk memperbaiki balai desa. Disepakatilah untuk diadakan gotong royong. Semua orang berbondong-bondong datang dengan alat-alat di tangan. Ada yang membawa cangkul, linggis, parang dan ibu-ibu membawa minuman serta cemilan. Suasana saat itu riuh rendah. Beberapa orang bekerja sambil berdendang. Beberapa lainnya saling bergurau. Ketika hari menjelang siang, seorang lelaki tua yang tinggal di kebun dekat persawahan sibuk mencangkuli bebatuan di tempat yang akan digunakan untuk peletakan batu pondasi. Ketika ia berusaha mencungkil batu yang tancapannya paling dalam, sedikit air terciprat ke wajahnya. “Hah, apa ini?” gumamnya. Lelaki yang kerap disapa Yah Bit ...

SEPASANG BATU DI TEPI DANAU LAUT TAWAR

Oleh Cut  Alya  Allyva  Pelajar KELAS Vll-2  SMP N 1 Bandar Dua, Pidie Jaya, Aceh Pada zaman dahulu kala di negeri Aceh, hiduplah seorang gadis berparas cantik.  Si gadis amat menyanyangi dan mencintai keluarganya. Begitu pun keluarganya amat menyanyangi dan mencintai gadis itu. Kecantikan  gadis tersebut terdengar sampai ke negeri seberang lautan. Seorang pemuda tampan yang berasal  dari keluarga terhormat datang ke desa  dimana si gadis tinggal. Si pemuda mengajukan pinangannya untuk memperistri si gadis. Si gadis tidak semerta- merta menerima pinangan itu, ia harus berembuk dahulu dengan keluarganya .  “Tampaknya,  ia pemuda yang baik dan bertanggung jawab.  Sikapnya santun dan bersahaja. Pantas kiranya ia  menjadi suamimu,” kata ayah si gadis.  Si gadis akhirnya menerima pinangan si pemuda setelah keluarganya memberi restu padanya. Pesta pernikahan pun la...

Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga

Sebuah Cerita rakyat dari Kota Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan Oleh : Keumala Fadhiela. ND Pernah kah kamu berkunjung ke Kota Tapaktuan? Kota Tapaktuan yang terkenal dengan sebutan Kota Naga, merupakan ibu kota dari kabupaten Aceh Selatan. Sejak dulu Aceh Selatan terkenal dengan panorama keindahan alam yang begitu mengagumkan. Kabupaten ini berbatas dengan Aceh Singkil di sebelah Utara, Aceh Tenggara di sebelah Selatan, Aceh Barat Daya di sebelah Barat dan Aceh Singkil di sebelah Timur. Tapaktuan, sebuah kota yang dikelilingi deratan gunung dan laut biru yang indah, ternyata menyimpan cerita rakyat yang menarik. Tahukah kamu bagaimana kisah asal usul nama Tapaktuan itu? Nah, inilah sebuah kisah tentang Naga, Tuan Tapa dan Putri Bungsu cantik nan jelita. Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang naga raksasa yang tinggal di gua dan lautan lepas Aceh Selatan. Sepasang naga sakti ini berasal dari lautan Negeri Cina yang diusir karena membawa sial pada negerinya. Karena tidak mempuny...