Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Perjalanan

KELUARLAH DARI ZONA NYAMAN

  Oleh Satria Dharma Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur Seminggu ini, hari yang bermakna bagi kami. Kami merayakan hari ultah pernikahan kami dan juga hari ultah saya yang tanggalnya berdekatan. Berdasarkan angka saat ini saya lebih tua dari sebelumnya. Tapi rasanya sih sama saja dengan kemarin-kemarin. I still feel like forty punjul rodok akeh.  Biasanya kami membuat pesta kecil dan mengundang keluarga dan teman-teman untuk makan bersama di rumah atau di resto untuk merayakannya.Tapi kali ini kami ingin merayakannya dengan cara yang lain. Kali ini kami ingin merayakannya berdua saja. Let's say honeymoon yang ke sekian ribu kalinya. Lagipula pandemi juga belum benar-benar berlalu dan kumpul-kumpul dalam jumlah besar juga masih dilarang. Karena ini hari penting, maka kami perlu membuat sebuah resolusi untuk hidup kami. Resolusi kami untuk tahun-tahun ke depan adalah untuk menikmati hidup dengan cara baru, yaitu berani melakukan hal-hal baru dan berani keluar dari zona nyaman k...

Niat Baik Yang TIdak Selalu Baik

Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok Puluhan Tahun yang lalu, saya pulang petang hari bertaksi dari Bandara Soekarno Hatta menyusuri jalan pasar Minggu menuju Depok dan macet lebih dari 2 jam di sekitar Poltangan, lokasi di antara stasiun pasar Minggu dan flypass Tanjung Barat. Peristiwa yang tak pernah saya alami sejak muda menyusuri jalan ini. Pasti ada peristiwa luar biasa, apakah mobil ditabrak KRL? Ketika saya berhasil dengan susah payah lolos, ternyata penyebabnya adalah tablik akbar di jalan di sisi rel KA dan di depan POM bensin. Saat itu jalur di bawah flypass belum ditutup. Dampaknya pasti sudah bisa dibayangkan, kemacetan terjadi di mana mana dan siapakah yang akan berfikir dan berpendapat bahwa tablik akbar itu berniat buruk memacetkan jalan? Jelas terang benderang bahwa niat diadakan tablik akbar pasti baik, menyampaikan pesan pesan luhur kepada umat manusia. Lantas kok bisa diselenggarakan di sana? Saya tak faham apakah ini kreatif atau bahlul. Demikian pula semalaman m...

Perjalanan Mengubah Nasib

  Oleh Tabrani Yunis           Bagian ke dua    Dilahirkan dari keluarga miskin atau kaya, bukanlah sebuah pilihan. Artinya, tidak seorang pun bisa memilih agar lahir atau tidak lahir dari keluarga miskin. Begitu juga sebaliknya tidak bisa menolak atau meminta agar lahir dari keluarga kaya. Itu adalah ketentuan Allah semata. Namun, orang akan lahir dari keluarga miskin dan juga ada dari keluarga kaya dan berpendidikan tinggi. Keduanya bukan karena mereka bisa memilih. Yang jelas, hidup dari kedua strata tersebut pasti beda nikmatnya. Beda hidup si kaya dan si miskin. Biasanya, anak yang lahir di kekuarga kaya, bisa menikmati hidup dalam segala kemudahan dan tergantung seberapa sejahteranya atau kayanya orang tua mereka. Mereka bisa menikmati apa yang disebut hidup sejahtera. Sementara anak yang lahir dari keluarga miskin, menikmati apa adanya sesuai dengan kemampuan orang miskin. Tak dapat dipungkiri pula, dalam banyak kasus, keluarga miskin juga ...

Perkutut Kampung Menjelajah Dunia

Foto : Kamboja Oleh Tabrani Yunis Kata pepatah, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa. Pepatah ini, tentu tidak berlaku bagi semua orang. Tidak semua orang akan bisa hidup lebih lama dan tidak semua orang bisa berjalan lebih jauh, karena syarat untuk bisa berjalan lebih banyak dan lebih jauh tersebut bukan ditentukan oleh satu faktor. Banyak faktor yang mungkin bisa membuat seseorang untuk bisa mewujudkan aktivitas berjalan lebih banyak dan lebih jauh tersebut. Bisa jadi karena faktor usia yang begitu pendek. Namun, ada orang yang usianya panjang, namun langkahnya tidak begitu panjang. Artinya perjalanan yang ia tempuh, hanya terbatas di area kelahiran. Ia tidak mendapatkan kesempatan, karena terbatasnya ilmu, teman dan pengetuhuan, serta karier yang tidak gemilang, sehingga tidak ada sumber keuangan yang membuat ia bisa menempuh perjalanan yang jauh. Seperti kita ketahui bahwa  untuk mendapatkan kesempatan banyak berjalan sangat ditentukan oleh kondisi ekonom...

MENCARI PERMATA DI LEUBOK PUSAKA

(Catatan Perjalanan ke Sekolah Terpencil) Oleh Baihaki Berdomisili di Banda Aceh Selama ini saya hanya mendengar dari cerita sohibku Khaidir Rasyid, guru yang bertugas di SMP Negeri 5 Langkahan, sekolah terpencil yang berada dalam kawasan Kabupaten Aceh Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Bener Meriah. Sebelum menuju ke Kabupaten Aceh Tamiang dalam rangka kegiatan Hari Aksara Internasional (HAI) tingkat Provinsi Aceh tanggal 22 Oktober 2019 esoknya. Shubuh itu, saya turun dari bus di terminal Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara. Rasa penasaran saya dimana lokasi SMP Negeri 5 Langkahan itu terpenuhi. Tepat pukul 08.00 WIB  pagi, saya bersama Khaidir Rasyid dengan mengendarai Motor Yamaha MX dari Panton Labu langsung menuju Langkahan. Cuaca mendung diiringi hujan rintik tak menjadi halangan untuk menembus jalan terjal bebatuan yang sebagiannya dikelilingi hutan. Akhirnya, perjalanan 40 Km dengan jarak tempuh dua jam perjalan...

Menceklis Salah Satu Mimpi

Oleh Alisa Sharfina Yuzka Keinginan untuk merasakan kuliah di luar negeri sudah ada sejak saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di umur meranjak 20 tahun ini, saya memiliki kesempatan mengikuti program  Student Exchange  yang diselenggarakan oleh pihak Universitas, tepatnya pada Universitas Islam Ar-Raniry Fakultas Psikologi. Program ini diselenggarakan setiap tahun oleh pihak Fakultas khusus mahasiswa semester 4 dan ini merupakan tahun ke 4 untuk program pertukaran pelajar ke negri Jiran, Malaysia pada Universitas Utara Malaysi (UUM). Untuk mengikuti program ini pihak fakultas akan menyeleksi para calon mahasiswa yaitu seleksi IPK dan TOEFL. Ketika sudah dinyatakan lulus, mahasiswa akan mengurus segala keperluan untuk persiapan berangkat seperti membuat passport, visa, mengisi borong  ( formulir) permohonan, dan sebagainya.             University Utara Malaysia (UUM) merupakan kampu...

Ancaman Bencana Alam di Depan Mata

Dok Pribadi (Catalan Perjalanan keliling Aceh) Bagian Pertama Oleh Tabrani Yunis Dalam perjalanan keliling Aceh pada hari Rabu, hingga Jumat, 11-13 Desember 2019 lalu, perjalanan dimulai pantai barat-selatan Aceh. Garis mulai (starting point)  adalah  Banda Aceh ke Calang, singgah Meulaboh, makan mie rebus di Blang Pidie dan berhenti sejenak menyaksikan latihan seni debus di Lhok Bengkuang, Tapak-tuan. Usai meneguk secangkir the hangat yang disajikan gadis kecil, puterinya Sarbunis dan berbincang-bincang sejenak, jarum jam sudah menunjukan pukul 21.30 WIB. Ada keinginan untuk mencari hotel di Tapaktuan, untuk merebahkan badan. Namun, diskusi singkat dengan dua rekan seperjalanan, akhirnya memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan ke Subulussalam. Aku bertanya pada sang sopir, apakah masih sanggup untuk melanjutkan perjalanan ke Subulussalam. Dengan penuh yakin, ia berkata, sanggup. Maka, mobil Avanza yang kami gunakan meluncur ke jalan raya dan...