Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rumah Puisi

PANDEMI

Oleh: Attaya Nada Pelajar Kelas:IX-1 SMP Negeri 1 Darul Imarah, Aceh Besar   Kesekolah setiap pagi hari Bertemu teman riang sekali Belajar dan bersenda gurau setiap hari Bertemu guru yang menyenangkan hati   Akan tetapi, datang pandemi Sekolah pun menjadi sepi Senda gurau bersama teman tiada lagi   Corona, lekaslah engkau pergi Sudah banyak kematian di negri ini Mengiris-iris hati ibu pertiwi   Ya tuhan Semoga virus ini cepat berlalu Agar kami bisa menuntut ilmu Berjumpa dengan teman dan para guru

Hanya Asa

Oleh Azhari Jannah Pelajar MTsN 1 Aceh Tamiang Setiap tetesan air hujan mengandung kerinduan Lantas, terik mentari yang kan tenggelam membawa langkah berpijak diiringi tangisan. Malam berlalu ditemani waktu embun pagi muasal kehidupan.   Sepi sudah, Bahagiaku dulu sebelum kau datang Perjalanan berujung senyuman Sebuah cerita yang tak ingin kulupakan; Salam tangan berbalut rindu Ingin selalu di sini dan tak ingin pergi.   Luas kisahku, banyak bintang yang kutunjuk Meski secercah harapan yang cerah dan sekarang kunikmati dengan kesedihan Tiada lagi tulisan yang menari di atas kertas hanya membisu di dalam buku.   Corona, Bentukmu kecil tak kasat mata Garang menerjang makan korban jadi wabah Pandemi ini semakin liar saja   Yang Maha berkehendak lintas benua Virus serta maut merajalela Do’a nan ikhtiar dibungkus usaha dan upaya Kini, kupasrah kepada Tuhan!   Tualang Cut, 08 November 2021

Destinasi Wisata Sastra Rumah Puisi Taufiq Ismail

Oleh  Siti Raudhatul Hamdiyati Alumni Bahasa dan Sastra Arab FAH UIN Ar-Raniry, Banda Aceh Rumah Puisi Taufiq Ismail terletak di daerah yang sejuk dengan hamparan pesona hijaunya alam dengan pertemuan kaki Gunung Singgalang dan Gunung Merapi. Lokasinya terletak di Jalan Raya Padang Panjang – Bukittinggi Km. 6, Aie Angek, Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pembangunan Rumah Puisi bermodalkan uang dari hadiah sastra Habibie Award 2007 sebesar US$ 25.000 atau jika dijadikan dalam rupiah yaitu Rp. 200 juta setelah dipotong pajak. Kemudian Sastrawan kelahiran Bukittinggi tersebut mewujudkan mimpinya untuk membangun rumah puisi yang berlokasi di tanah kelahirannya tersebut. Rumah Puisi yang digagas Taufiq Ismail bersama Ati yakni istrinya pada tahun 2008, dibangun dengan tujuan utama untuk menambah kecintaan membaca buku dan kemampuan menulis pada setiap generasi penerus bangsa. Beliau menciptakan lingkungan di sekitar Rumah Puisi begitu asri. Selain itu, R...