Oleh:Ulfah Irani Z “Aku tidak butuh pertolonganmu! Aku hanya ingin rasa sakit ini berhenti,”teriaknya berulang kali. Aku yang berdiri tegak di hadapannya kala itu, hanya bisa mematung dan menahan pukulan demi pukulan dilayangkan ke tubuhku. Ia sedang melampiaskan amarahnya. *** Malam ini, tiga Februari, aku melihat lagi, perempuan itu berdiri di tepi jembatan merah itu, sambil memandang sungai keruh yang berwarna teh susu. Seorang perempuan renta penuh kerutan di wajahnya, kulitnya sawo matang dengan selendang putih polos menutupi rambutnya yang telah beruban. Ia mengenakan baju berlengan panjang berwarna hitam, tubuh bagian bawahnya dililit sarung bermotif garis biru hitam menyerupai rok. Perempuan itu hanyut dalam kesendiriannya. Terkadang, ia seperti sedang berdialog dengan seseorang. Bahkan, ia pernah kedapatan tertawa cekikikan menyapa ikan-ikan yang sedang berenang. Perempuan itu masih di sana, sekarang ia terduduk lesu, dengan tangan yang memeluk erat kedua lulutnya. Ia sedang m...
Majalah Perempuan Kritis dan Cerdas