Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Guru Honorer

Badruddin, 20 Tahun Mengajar Sebagai Guru Honorer Rp 300.000 Per Bulan

Foto MRI Aceh Utara – Semangat Badruddin (55) mendidik murid-muridnya tak lekang waktu setelah 20 tahun mengabdikan diri sebagai guru honorer di SDN 13 Blang Talon, Kutamakmur, Aceh Utara. Setiap hari ia menempuh perjalanan ke sekolah sejauh dua kilometer, terkadang mengenderai sepeda motor atau mendayung sepeda ontel miliknya.  Pribadi yang dikenal dekat dengan murid-muridnya itu selalu tampil ceria dan ramah seperti saat dijumpai Ketua Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aceh Utara Muhadaruddin pada Jumat (6/12) di SDN 13. Bukan hanya mengajar, ia kerap ringan tangan menjaga kebersihan sekolah. Pria kelahiran 1 Februari 1964 ini sudah mengajar di sekolah tersebut sejak tahun 2000 hingga saat ini, dengan gaji Rp 300.000 per bulan. Dari penghasilan tersebut ia menghidupi istri dan anaknya yang menetap di Gampong Buket, Kuta Makmur, Aceh Utara. Di samping mengajar, Badruddin membagikan waktu bertani di sawah atau kebun.  Upah yang diterima Badruddin dari mengajar m...

Guru Honorer Tidak Akan Pernah Dihargai

Oleh Tabrani Yunis Beberapa hari lalu, sempat membaca sebuah postingan di  www.Watyutink.com tentang nasib guru honorer di tanah air. Tulisan itu membuat judul yang bernada tanya “ Kapan Jasa Guru Honorer dihargai? “tulisannya Shenny Fierdha, kontributor watyutink.com. Judul yang sesungguhnya mudah terjawab, terutama oleh para guru honorer sendiri. Kendatipun mudah terjawab, tidak salah bila soal nasib guru honorer yang terus terombang ambing kita ulas lagi, sebagai sebuah sikap atau bahkan tindakan untuk melawan lupa. Oleh sebab itu, tidak salah bila hal ini perlu diulas,  disuarakan, karena soal ini, sesungguhnya sudah tergolong dalam kategori klasik. Ini kasus lama yang harus diungkit lagi, karena memang nasib guru honorer hingga kini belum ada kata pasti. Namun, yang pasti adalah guru honorer, walau namanya begitu indah “ honor”, ibarat orang yang mendapat penghargaan sebagai doctor honoris causa, ternyata guru honorer, hingga kini masih belum dihargai. B...

Ketika Asa Menjadi Guru Itu Terwujud

Oleh Iskandar Is Kepala SD Negeri 2 Krueng Simpo, Juli, Bireuen, Aceh. Catatan Seorang Guru Bagian ke tiga ( tamat) Mulai Mengabdi              Kinilah saatnya aku melepaskan apa yang sudah lama telah kupendam dalam benak hati ini semakin jauh telah kucita-citakan. Tepat waktu tahun 2000 aku mencoba berani kan diri untuk mencoba mengabdi di sekolah pedalaman tidak lepas dari sekolah yang sangat terpencil. Sebab dalam hatiku jika kita mengabdi di daerah terpencil itu cepat diperhatikan oleh pejabat yang berwenang.  Padahal itu perasaan hatiku saja, tapi impian itu ternyata sia-sia. Semua sirna, semua berbalik arah kenyataannya bukan seperti yang sebenarnya kita bayangkan. Hari demi hari bulan demi bulan tahun demi tahun berganti terus kujalani, ternyata hasilnya belum kunjung tiba.             Begitulah perjalanan hidup seorang ...

Sembara Di Balik Gegana

Oleh : Arni Savitrie Aku adalah salah satu dari mereka yang mengabdi berpuluh – puluh tahun, menjadi guru. Guru, itulah predikat yang aku dan kawan-kawan sandang. Menjalankan tugas profesi tanpa lelah, walau hujan gerimis, jalan becek, kami tetap melaksanakan tugas dengan penuh semangat. Walau kami masih menjadi tenaga guru honorer. Perjalanan hidup sebagai guru honorer selama bertahun-tahun itu menjadi pengetahuan yang terus menggumpal. Ya, setiap kulayangkan pandanganku ke angkasa, seakan – akan aku menyentuh kaki langit yang terlihat rendah, kurasakan keagungan Tuhan yang Esa di jiwaku. Detik waktu terus bertambah meninggalkan kesan yang berbeda di relung hati yang gelisah.  Tahun baru, tanggal 01 Januari 2018 semua manusia di belahan dunia, dari barat sampai ke timur sibuk dengan aktivitas menyambut tahun baru masehi dengan gegap gempita. Sedangkan tahun baru Islam 01 Muharam berlalu begitu saja tanpa ada kesan yang bermakna. Sungguh amat disayangkan....! T...