Oleh Iqbal Perdana Staf di Center for Community Development and Education Ibarat tsunami, ibarat jatuh cinta. Kini dunia gambar bergerak (film) tidak dapat dibendung, arusnya begitu kencang. Tenaganya begitu kuat. Jika tidak “dikawal”, maka efek buruknya berimbas pada pribadi dan keluarga. Lebih jauh, pranata sosial berubah tak karuan, sampai menalak budi pekerti yang luhur. Hilangnya identitas diri dan perangai buruk lainnya seperti bom waktu yang setiap saat dapat meledak. Semua itu bisa terjadi jika setiap pribadi yang menikmati film tidak mengedepankan budaya sensor mandiri . Sebab di Indonesia, bukan hanya beras yang diimpor, tetapi juga tontonan. Akhir-akhir ini, berseliweran di berbagai stasiun televisi tanah air sinetron-sinetron impor, kebanyakan dari India dan Turki. Durasinya bisa sampai 6 jam (dengan judul yang berbeda-beda). Penikmatnya kebanyakan ibu-ibu rumah tangga juga anak-anak gadis tanggung yang jomblo, sisanya laki-laki melankolis yang tampakn...
Majalah Perempuan Kritis dan Cerdas