Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Politik

Memilih "Presiden" UI

Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok Mumpung sedang hangat, ada baiknya saya berkisah sedikit tentang bagaimana cara seorang rektor UI terpilih, karena pasti tidak banyak yang paham mekanismenya sehingga Prof. Ari Kuncoro menjadi "Presiden" UI. Pemilihannya jelas tidak sedemokratis Pilpres di Indonesia. Rektor UI dipilih oleh Anggota Majelis Wali Amanat (MWA) dengan voting. Mendikbud memiliki sepertiga suara. Anggota MWA (jumlahnya saya lupa, baca di Statuta UI di Internet), selain Mendikbud "ex officio" wakil pemerintah, terdiri dari wakil Senat Akademik UI (dipilih oleh semua Anggota Senat), wakil Masyarakat (biasanya tokoh yang dikenal, di sinilah Menteri/Mantan, pengusaha besar dan lain-lain masuk), Wakil no staf akademik dan wakil mahasiswa.  Siapakah yang memilih anggota MWA yang diusulkan itu? Mereka adalah Senat Akademik UI (SAUI) dan anggota SAUI ini dipilih dan diusulkan oleh setiap SA Fakultas dan SA Fakultas inilah yang secara demokratis dipilih oleh p...

Kritik Busuk Sang Penerka

( Lelucon Kini Para Penerka Mimpi ) Oleh : Syuhada Maufid Bukhari “ Berkoar-koar adalah cara mutakhir dalam mengais rezeki,tak terkecuali oleh penerka mimpi di negeri ini. Berbagai cara dilakukan dalam menunjukan aksi, mulai debat di televisi bahkan bakar spanduk sana-sani,tujuan hanya satu yaitu perbaikan negeri. Saat diwawancara oleh salah satu tim wartawan televisi mereka ditanyai tentang perihal aksi, para pengkritik beralasan hanya untuk dan atas nama rakyat yang tersebar di seantero negeri. Melihat aksi pengkritik memang menyentuh hati, apalagi memperjuangkan aspirasi kaum marjinal daerah kampung priyayi. Koar sana dan sini sudah barang tentu aksi jitu dalam memperjuangkan aspirasi, apalagi di depan penguasa negeri. Tokoh sekaliber Wiji Thukul Wikana seorang aktivis kontra Orde baru dalam sebuah syairnya “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam,kritik dilarang tanpa alasan,dituduh subversif   dan menggangu keamanan,maka hanya ada satu kata :LAW...

RATUSAN PEREMPUAN KOMUNITAS DI BANDA ACEH DILATIH PENDIDIKAN POLITIK

B anda Aceh, 11/10/19 – Ratusan perempuan akar rumput di kota Banda Aceh mendapatkan pelatihan pendidikan politik di tingkat komunitas pada 9-10 Oktober 2019 di Hotel de Pade, Banda Aceh. “Tujuan pertemuan hari ini untuk meningkatkan kapasitas perempuan Banda Aceh agar bisa berpartitisipasi lebih maksimal dalam mengambil keputusan di tingkat gampong, begitu juga di tingkat kota. Kita juga ingin membangun konsilidasi jaringan perempuan di kota Banda Aceh, sehingga kita bisa menjadi komunitas atau forum besar yang bisa bersama memperjuangkan hak perempuan dan memajukan hak perempuan di Banda Aceh,” kata Khairani Arifin, mewakili direktur Flower Aceh dalam sambutannya pada pelatihan pendidikan politik komunitas dengan tema“Memperkuat Kepemimpinan Perempuan Akar Rumput Untuk Kota Banda Aceh Gemilang.” Khairani menjelaskan keberadaan kelompok perempuan di desa sangatlah penting. Kelompok tersebut bisa menjadi wadah untuk memperkuat kepemimpinan perempuan akar rumput untuk mencapai ...

Etika Meningkatkan Kualitas Manusia dalam Berpolitik Perspektif Aristoteles

Dok. Pribadi Oleh: Afdhal Jihad Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, STFI Sadra Jakarta Etika merupakan cabang filsafat yang merefleksikan tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral. Etika merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia.  Manusia dari kodratnya merupakan makhluk berpikir. Di era reformasi ini banyak terjadi kemerosotan etika termasuk etika politik dalam pelaksanaan sistem politik demokrasi yang ada di Indonesia. Indonesia memiliki empat model demokrasi yang sudah dilalui, dimulai demokrasi parlementen, demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila dan demokrasi reformasi. Demokrasi yang ditanamkan selama bertahun-tahun dengan berbagai modelnya, tak kunjung menghasilkan buah demokrasi yaitu kesejahteraan rakyat, keadilan sosial dan ekonomi, pemeritahan yang stabil dan jaminan kebesan dan kesetaraan. [1] Dapat disimpulkan bahwa selama ini demokrasi di Indonesia adalah demokrasi procedural. Artinya demokrasi yang hanya ...

Derita Caleg Perempuan

Dok. Tagarnews Oleh Rahmi Fajri Pegiat Sosial  Pesta demokrasi dalam rangka memilih Presiden dan wakil Presiden (Pilpres) dan pemilihan calon anggota legislative tahun 2019, sudah selesai dilaksanakan secara serentak di tanah air pada tanggal 17 April 2019 lalu. Namun hasilnya masih belum diperoleh secara utuh, karena hasil Pilpres yang sangat dinanti-natikan oleh kedua paslon Presiden dan wakil Presiden tersebut akan diumumkan pada tanggal 22 Mei 2019 mendatang. Pesta Pilpres dan Pileg yang serentak ini sangat menjadi perhatian public, yang secara aktif mendukung masing-masing calon, khususnya partai politik yang mungkin sudah bersusah payah memenuhi kriteria untuk bisa ikut pesta rakyat tersebut. Salah satu syarat mutlak adalah yang mengharuskan 30 persen calon dari kalangan perempuan untuk ikut pemilu ligislatif.  Keberadaan perempuan dalam partai politik merupakan keniscayaan, karena sebuah partai politik akan lolos verifikasi apabila memiliki kader atau qu...

Tirai Indonesia

Dok: lontar.id Oleh : Nsyah Ilusi terlarut dalam narasi Emosi terlarut dalam ambisi Ambisi tak lagi tercipta dalam solusi Untuk mencapai kedamaian yang serasi Pesta politik akan segera dimulai Para calon terus mencari amunisi Dengan masa sebagai peluru Untuk melumpuhkan lawan Dengan uang sebagai senjata Untuk menjatuhkan lawan Mengalang buana mencari populasi Mengarak masa untuk berpolitik  Yang dinamakan politik "KORBAN" Politik ( Kampanye Orasi Bencana ) Berpihak dengan yang penting Saling terbuka dengan pilihan masing-masing Tak ada lagi kata netral  Dalam pemilihan kali ini Penulis & jurnalis juga ikut berkolaborasi Dengan melayangkan tulisan & kabar Hoax Untuk menjatuhkan pesaing-pesaing  Demi kepentingan pribadi Medsos sebagai kunci para politisi Yang mana yang lebih tajam Dalam mengasah Taji Kata KPU dengan debat bisa sebagai solusi Memecahkan berbagai macam masalah tentang Indone...

Panggung Politik

Dok. Koran Jakarta Oleh : Nsyah Meraih dalam impian Merajut dalam harapan Demi satu tujuan cita-cita Masa depan negara Menua dalam usia  Terbengkalai dalam waktu Dengan ambisi yang terus dipacu  Demi sebuah mahkota sang istana negara Kampanye sana sini  Demi puluhan, ribuan, bahkan jutaan suara untuk menang Menghamburkan uang hingga triliunan Untuk posko kemenangan  Angin surga dihembuskan dari ujung Sumatra hingga Papua Rakyat kecil sebagai sasaran empuk  Dari segelintiran kertas biru hingga merah  Yang bergambar pahlawan yang dijanjikan  Saling menyindir  Dengan cara mempropaganda satu sama lain  Dengan satu tujuan  Meraih kursi sang istana negara  Berdebat sana sini Yang satu salah kan yang dua Yang dua salah kan yang satu Inilah nama-nya politik Aceh Besar, Lambada lhok, Sabtu 26 Januari 2019