Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Carpen

Padamnya Lentera

Oleh  Cut Putri Monica Weta Siang hari sepi aku duduk memangku sebuah notebook dan sebuah pulpen. Aku bingung mau berbuat apa? Menulis puisikah atau menulis sebuah cerpen. Kuhela nafas panjang dan sedikit mengenang masa kecilku. Dalam keluarga papa dan mama. Aku cucu pertama sehingga kasih sayang, perhatian semua tercurah hanya untuk ku. Aku hidup dalam kebahagiaan dan berkecukupan. Sejenak aku terbawa dalam kenangan lama, aku terhenyak dari lamunan seketika saat adikku datang mengagetkanku. “Ha, apa tuch tulis surat cinta ya? Nanti adek bilang pada mama” ledek adikku. Tanpa menjawab aku abaikan ucapan adikku. Kembali kuraih pulpen dan buku yang terlepas dari tangan dan pangkuanku. Aku berpikir menulis tentang perjalanan kehidupan keluargaku. Memang aku masih terlalu kecil untuk menulis semua cerita tentang keluargaku, karena dalam cerita ini terjadi berbagai macam peristiwa yang sampai kini membekas dalam benakku. Dalam keluarga kami ada empat hamba Allah, papa, mama, aku dan adik...

TERNYATA SALAH

Oleh :  Aniesa Salsabila Pelajar SMP IT Nurul Ishlah, Banda Aceh        “Kukuruyuk-kukuruyuk” terdengar suara ayam berkokok, aku tersontak kaget segera bangun dan duduk diatas kasur. Aku menoleh ke arah jam dinding menunjukkan jam 06.00. Segera mandi dan bersiap  untuk berangkat sekolah. Tak lupa sebelum berangkat sekolah aku sarapan dengan terburu buru. Setelah sarapan aku menghampiri ibu dan ayah untuk berpamitan berangkat sekolah. Tanpa berlama lama  akupun berjalan keluar rumah dengan tergesa gesa untuk menuju sekolah yang terletak  jauh dari rumahku.              Aku melirik jam tangan, sudah menunjukkan pukul 07.30.  Pertanda sudah telat. Aku langsung berlari dengan kencang agar bisa sampai ke sekolah. Dari kejauhan sudah terlihat bangunan sekolah yang berwarna hijau dari balik pepohonan. Saat sampai di depan sekolah ternyata pintu pagar sudah ditu...

BEBEK GORENG

dok.dimanaja Oleh Tanjung Files/ Fileski  Berdomisili di Madiun Monas menjadi lautan manusia. Hamparan yang biasanya hijau bila dilihat dari atas gedung-gedung sekelilingnya itu, kini berubah warna menjadi putih bak kapas, yang bertebaran di sepanjang jalan menuju satu pusat tugu bermahkota api itu. Imron seorang pemuda asal Madiun yang merantau ke Jakarta, hari ini sedang mengikuti pengajian akbar di Monas. Berjubel jamaah dari segala penjuru menjadikan keimanannya semakin kuat, bahwa ia merasa jalan yang ia tempuh saat ini adalah jalan kebenaran yang mutlak dan surga nampak jelas terlihat di depan matanya. Sepulang dari pengajian, imannya jadi berlipat ganda. Kini apapun yang tak sesuai dengan pemahamannya, ia anggap sesat dan pantas untuk dihujat, atau kalau perlu dilenyapkan dari muka bumi. Ia tak ingin ada tuhan-tuhan lain yang disembah. Semenjak saat itu ia sangat membenci dan berusaha keras meyakinkan setiap orang di sekitarnya agar punya kualitas keimanan seperti dirinya. S...