Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label jalan hidup

Jalan Hidup Nan Sulit Memaksaku Mengajar

  Oleh Tabrani Yunis   Perjalanan hidup untuk mengubah nasib, keluar dari belenggu kemiskinan ternyata memang tidak mudah. Apalagi bila surah terperosok terlalu dalam di jurang kemiskinan itu. Tentu sangat sulit untuk bangkit dan semakin sulit bila tidak ada kemauan  atau tekat untuk keluar dari jurang itu. Oleh sebab itu,  setiap orang miskin harus berupaya untuk keluar dari belenggu kemiskinan itu. Kita tidak mungkin berharap orang lain yang mengeluarkan kita dari belenggu tersebut. Mengapa demikian? Sebenarnya, Allah tidak akan mengubah nasib  seseorang atau suatu kaum, kecuali orang atau kaum itu sendiri yang mengubahnya. Caranya? Sebagai manusia, kita diharuskan belajar. Kita harus mendapatkan  pendidikan. Hal ini jugular yang saya alami.  Terus terang, hati saya sangat gembira tatkala sudah mendapat bekal ijasah SPG dan kemampuan bahasa Inggris dan  lulus  atau diterima di Program Diploma 2 Universitas Syiah Kuala. Anehnya, kegembiraan ...

Giat Belajar Bahasa Inggris, Bisa Mengubah Hidup

  Oleh Tabrani Yunis   Perjalanan mengubah nasib, tentu tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Bagi orang –orang dari keluarga berada, atau kaya, jalan hidup tentu tidak sesulit mereka yang berasal dari keluarga miskin. Maka, bukan hal yang aneh bila banyak orang kaya, yang melewati jalan yang mudah, tanpa onak, bahkan tidak ada hambatan atau rintangan yang berarti. Namun, tidak sedikit pula orang yang harus menempuh perjalanan mengubah nasib dengan susah payah, berat, berpeluh dan bahkan sangat menderita, dan sulit keluar dari penderitaan dan belenggu kemiskinan. Semakin rendahnya ilmu, ketrampilan seseorang (orang miskin), maka semakin sulit jalan yang harus ditempuh. Sebaliknya, semakin tinggi atau banyak ilmu seseorang, maka semakin mudah baginya untuk keluar dari belenggu kemiskinan. Jadi, untuk memudahkan jalan perbaikan nasib atau keluar dari belenggu kemiskinan, jalan yang harus ditempuh adalah dengan belajar, menambah dan meningkatkan pengetahuan, ketr...

Memilih Sekolah, Membangun Masa Depan

  Oleh Tabrani Yunis Bagian ke tiga Ketika masih duduk di bangku kelas 3 SMP Negeri Manggeng, Aceh Barat Daya (dulu Aceh Selatan) pada tahun 1978-1979, ibu saya berkata:  “Top (nama kecil pangilan ibu), Ibu ingin bertanya sedikit tentang sekolahmu, bagaimana kelanjutan pendidikanmu? Kiita tidak punya biaya. Kalaupun mau sekolah hanya ada dua pilihan, pertama, bersekolah di kampung dan kamu masuk SMA yang ada di kampung saja atau pilihan kedua, kamu melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Tapak Tuan” .   Inilah dua pilihan berat yang harus saya hadapi saat itu. Kedua pilihan ini tidak menjadi permintaan saya. Kalau melanjutkan ke SMA, saya akan menganggur setelah itu. Karena pasti tidak mampu melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang lokasinya berada di Kota Banda Aceh. Lalu, kalau masuk SPG, saya tidak punya minat sedikitpun untuk menjadi guru. Saya menganggap menjadi guru adalah sebuah bencana. Bencana karena melihat kondisi kehidupan guru yang sangat tidak beruntung....