Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Budaya

MENDIDIK ANAK ALA LUQMANUL HAKIM

Oleh: Teuku Hendri Saifullah Mendidik anak merupakan usaha yang tidak bersifat sementara atau sesaat (temporary), melainkan    usaha yang terus menerus. Seorang anak akan menjadi tumpuan harapan orang tuanya kelak, jika mereka sudah besar. Walaupun hal ini tidak pernah terucap dari mulut setiap orang tua kepada anaknya. Mendidik anak bukanlah merupakan hal yang mudah, tidak bisa dilakukan dengan serampangan dan juga bukan bersifat sampingan. Mendidik anak sama kedudukannya dengan kebutuhan pokok dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim. Bahkan mendidik anak adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap orang tua. Karena ini merupakan perintah dari Allah sebagaimana firmanNya dalam QS. At-Tahrim : 6 یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. [QS. At-Tahrim...

PAHIT DI SUDUT BIBIR

        (Puisi Di Perjalanan) *Khayalis : Syamsuarni Setia Pahit di sudut bibir Ditelan susah dibuang sayang Biar kukulum di bawah lidah Perasaan pun terguncang ombak Dihembus badai bahari Dalam pekat sore memudar wajah yang sesaat hadir Membawa terbang angan dalam sepoi angin Pahit di sudut bibir Kubiarkan tiba di batas kota Ketika kepak elang pulang ke sarang Burung-burung terbang meramaikan angkasa Gelisah kejauhan kala awan memerah Lantunan azanpun menidurkan senja membangunkan malam Ketika terpercik liur di bawah lidah  Mengulum pahit Lalu kau datang mengajak bermain Menemani diri dalam sendiri Akupun larut dalam khayal Kini tiba di batas kota Di tiang Barat rona senjapun masih tersisa Bercengkrama dengan kekasihnya bintang Seketika aku satukan liur dan pahit dalam manis adonan  Kuucapkan Alhamdulillah Akhirnya dengan mengingatMu ya Allah Pahit di sudut bibir jadi manis Kutelan habis saat tiba    di kotaku (Bakongan, 12/8/2021)

DUGAAN

Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok Saya menduga, saudara kita yang masih dengan tenang menuju ke masjid untuk solat jumat itu, seperti perokok yang kecanduan dalam    arti positif. Jika tidak menuju masjid ketika hari jumat siang waktu waktu dhuhur itu, seperti gimana gitu. Para perokok juga punya anekdot "merokok bisa mati, tidak merokok juga mati, mari kita merokok saja". Selain itu, dugaan lain n, ada pula yang begitu percaya kepada takdir. Meski dihindari toh jika akan mati, saat diam di rumah juga mati,    lantas ditunjukkanlah bukti bukti itu. Yang terbesar adalah mereka yang berang dengan kebijakan pemerintah yang melarang umat Islam ke mesjid dan menuding macam macam. "Mal tidak ditutup,    mengapa rumah Tuhan ditutup ?    Padahal    Mal juga ditutup kecuali order daring.  Saya tadi kaget, ketika santai bersiap mandi waktu dhuhur, masjid di RW tetangga yang rekor kematian melewati RW kami, tetap menyelenggarakan jumat da...

Kesombongan

Oleh Ahmad Rizali Saya mulai faham mengapa contoh kesombongan itu ditahbiskan kepada Iblis yang jelas percaya kepada Allah dari pada manusia yang tak mempercayaiNya. Bersyukurlah jika diberi karuniaNya untuk selalu berupaya meluruhkan kesembongan dalam keseharian. Kesombongan sering dengan sangat halus menempel di hati atas, rasa percaya diri, kecerdikan, kekuatan, kecantikan fisik dan wajah, kekayaan, sebut saja semua aktivitas manusia bisa disusupi kesombongan itu. Kadangkala, kesombongan berwajah sangar dan ini lebih mudah diingatkan. Di lain waktu dia akan berwajah sinis dan sarkastik, inipun masih mudah diingatkan oleh pihak lain.  Namun adakalanya kesombongan itu dibalut dengan pakaian humor dan sikap jenaka serta yang paling berbahaya adalah kesombongan yang berbaju perilaku sangat baik. Kedua jenis kesombongan ini lebih berbahaya dari "tidak mau menerima kebenaran" dan hanya bisa dikenali oleh pelaku, setan dan malaikat serta Tuhan. Kesombongan jenis inilah yang wajib...

TRADISI KEGIATAN RAMADAN DESA KAMI

Oleh :Hasbi Yusuf   Ketika masa kecil, kami tinggal bersama orang tua di sebuah desa yang agak jauh dari keramaian kota. Kehidupan di desa saat itu sungguh menyenangkan. Suasana kehidupan masyarakat sangatlah akrab, antara satu warga dengan warga yang lainnya terasa seperti bersaudara. Hampir semua kegiatan besar dilakukan bersama-sama secara gotong royong. Gotong royong merupakan energi dan potensi terbesar yang dimiliki masyarakat desa, tidak terkecuali dalam menyambut dan mengisi kegiatan bulan Ramadan. Sebulan sebelum masuk bulan Ramadan, Peutuwa Meunasah (imam Meunasah) bersama tokoh masyarakat mengadakan rapat menyambut bulan suci Ramadan. Rapat ini dilaksanakan untuk memastikan segala sesuatu yang berkaitan dengan persiapan kegiatan desa dalam menyambut dan mengisi kegiatan bulan Ramadan.  Agenda rapat biasanya terkait penujukan personil kegiatan, petugas masak ie bu lada, petugas kebersihan dan cuci piring, dengan termasuk  pembahasan tentang penentuan besar insen...

Kuncinya Terlatih

Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok Intensitas aktivitas, apapun memang sangat tergantung dengan kebiasaan atau sering tidaknya atau frekuensi aktivitas. Ada guru yang entah guyon atau serius mengatakan, membaca artikel lebih dari 1 halaman membuat kepalanya puyeng. Jika itu fakta, maka saya menduga "hipotetically" memang wajar karena saluran saraf otak yang akan aktif saat membaca tidak terlatih. Saraf itu akan meregang dan kejang-kejang seperti otot kaki yang tak biasa jogging, dipaksa jogging. Berbuat baik dan yang lebih khusus lagi, berprasangka baik juga mesti dilatih agar tidak "irritating" karena kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter itu wajib dimulai dengan aksi dan dilakukan dengan pembiasaan atau frekuensi aktivitas yang tertata dan dijalankan dengan disiplin. Sama juga dengan berbuat buruk. Kondisi terpaksa saja, jika sejak awal belum pernah mencuri, maka akan merasa "irritating" tak nyaman. Namun jika sudah terlatih alias sering dilakukan,...