Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label POTRET Budaya

TETESKAN SEDIKIT SAJA AIRMATA KITA

  Oleh Nurdin F.Joes Teteskan sedikit saja airmata kita Masih banyak saudara kita, pedih menderita Ada yang belum makan pagi Sementara kita sudah selesai mencuci tangan, menutup makan malam  Teteskan sedikit saja airmata kita Tetangga kita masih mengurung diri di rumah yatim, miskin, dan duafa Sementara kita sudah berkeliling kota Meniup terompet kegembiraan Merayakan tahun yang berganti  Teteskan sedikit saja airmata kita Tubuh jiwa petani terbakar matahari Tanah ladangnya kering kerontang Irigasi yang kita bangun tak berfungsi Dan benih tanaman yang kita salurkan banyak pula yang palsu Sementara kita telah banyak mengambil laba  Teteskan sedikit saja airmata kita Para nelayan mengayuh sampan Mencari nafkah anak istrinya Matanya perih menatap sampan sampan bermesin Bergerak secepat angin Sementara bantuan yang kita berikan Sering-sering cacat tercela  Teteskan sedikit saja airmata kita Saudara kita tertatih ke taman-taman perobatan Mencari beberapa butir obat p...

Hujan di Penghujung Tahun

Oleh Halimah  Berdomisili di Agam, Sumatera Barat Tak terasa tahun 2021 hampir berlalu/ Tiba masanya Fajar 2022 segera datang/ Hanya sayang kita tak bisa lagi berhati riang/ Hujan di penghujung tahun turun bak air dituang/ Dingin nya gunung Marapi dan Singgalang/ Dahsyat amat menusuk tulang/ Daku terus merenung dengan hati gamang/ Doa ku semoga janji baik segara datang/ Bukittinggi begitu ramai oleh pendatang/ Bercengkerama di bawah jam gadang/ Betapa berbeda nya tahun sekarang/ Bahaya Covid 19 masih menghadang/ Banyak orang frutasi dan meradang/ Buruh, pegawai, dokter serta pedagang/ Biaya hidup terus naik tinggi menjulang/ Betapa negeri ini serasa mau tumbang/ Berharap semoga corona cepat hilang/ Padangkudo, 31 Desember 2021 Penulis: Halimah, S.Pd - Agam

Serumpun Puisi Mohd. Adib. Ab, Rahman

TIBA-TIBA SAJA KAU MENAIKI KERETA PERGI KE WILAYAH LENYAP   Tiba-tiba saja kau menaiki kereta pergi ke wilayah lenyap pelita terpadam di gubuk buruk di belasah angin lalu timbul gelap bagai nasib malang orang-orang tertindas hanya kerana kemiskinan itu bangsaku sendiri, kerana malaskah atau takdir yang salah? betapa pedih batin ditusuk belati seperti kisah mangsa covid19 satu demi satu tumbang tidak ada yang mampu menghiburkan kecuali hati yang sabar, doa berterusan dan pasrah   Kau tak pernah nyalakan lampu isyarat di persimpangan bagiku peristiwa berlaku terlalu pantas, tak terduga ketika belum sepenuhnya aku terjemah dan membaca kau   Aku bersama sepi pada pusara pahlawan tak dikenang walau semalam berjuang tegakkan keadilan di negeri ini kini aku taman tanpa bunga kau daun yang tinggalkan dahan moga esok menghulurkan tangan ketiadaanmu berganti hidupku meriah dengan langgam-langgam bulan   Karya, MOHD ADID AB RAHMAN Jasin, Melaka 24 Disember, 2021     ...

17 Belas Tahun Lalu Aceh Berduka

Oleh: Faiza Warahmah (Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya) Mengayun kembali sejarah dulu Mengingat luka lama saat lautan itu mengamuk Menerkam bak srigala Menyantap bak harimau yang tengah memakan mangsa, Semua itu,  Menghabiskan nyawa dan Menyertakan tangis di depan mata Saat itu juga Teriakan pecah  dimana mana Orang tua kehilangan anak Anak kehilangan orang tua Mengenggam sudah tak bisa  Mencari entah dimana Suara takbir bergema di angkasa Membuat riuh seisi dunia  Kabar burung sudah terbang dilangit sana Memberi tahu aceh  sedang berduka Ya allah.. Sungguh luar biasa kuasaMU Sebuah gesekan menguncang tanah rencongku Mengibas peluh pada negriku Membuat isak disetiap sedu Ku tahu, semua bencana adalah takdir dan kehendaMU  Yang membuat sejarah kami pilu Banyak duka di antara cerita itu Dan semoga trauma mereka, kami dan kita cukup sampai disitu Ya allah tuhanku.. Ku tadahkan tangan ku kelangit Berdoa pilu untuk saudaraku Semoga surga semua ...

Untaian Puisi-Puisi Mustiar Ar.

                     PINJAMKAN AKU RINCONGMU Di sini  Gelisah mengapung Menyesak di dada Perjuanganmu diludahi Ampon.. Pinjamkan aku rencongmu Akan kuretas jantungnya ex korem, 12.06 2021 BULAN HAMIL III Ah bulanku hamil Ie ketuban berserak Di trotoar Meulaboh, 2020 AKU  Seekor camar gelisah  Rumahnya dihempas badai  Aku 2021 PUISIKU  Ribuan doa,disematkan Pada ratebnya - puisi hidupku Meulaboh, 2021 I B     U Kucium kening matahari dan sejumput asa kusemat di bahunya Ibu lihatlah anakmu kini masih saja tegar walau kadang badai ini mencabik tubuh - hingga berkeping keping Ibu Di hatiku penuh rasa cinta seperti yang kau ajarkan ketika di meunasah kubu  Meulaboh,22.12.2014

Rindu Diam Dalam Kalbu

Oleh Savitri Jumiati Ranting dedaun tak berkutat Senja merah semburat kulihat Tak ada angin yang berisik kudengar Hampir sunyi hujung jejalan menuju pulang Terenyuh aku tika suara adzan berkumandang Ini aku yang menatap pedih airmata Separuh jiwa diambingkan pekat Entah arah benak yang mulai lupa Saat lembar kalimat ku telah lesap Membawa wajah kembang Melayu Kali ini aku lepas kata Yang mana buta tak bertuan guru Sajak jiwa dalam hati Di kaki bumi merahnya tanah Rinduku diam pada kalbu Itu engkau .  Bekasi Minggu 19 Desember 2021 Telaga Sastra Cinta "Savitri J (Saju Enma)"

Teruntuk Yang Terkasih, Ibu

Oleh: Faiza Warahmah Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya   Ibu... Kau adalah wanita terhebat  Setiap sekat kau jadikan tanggung jawab Semua peluh kau buat runtuh Bahkan, semua rasa sendu kau buat jadi merdu Ibu... Kau Adalah satu kata yang tak mungkin Semua orang mengerti bahasanya Kata mereka, ibu    seperti ini Kataku, ibu merwarnai Kata mereka, ibu seperti itu Kataku, ibu membawa warna baru. Kata mereka, ibu pemarah, pengatur,    sadis Kataku. Ibu humoris Kenapa?  Karna ibu adalah tahta di atas segala tahta. Yang tanpa ibu hidup bagai syair tanpa makna Ibu... Sembari kumeneguk wedang jaheku Sembari kudengar rintikan hujan di kotaku Sembari itu pula aku terus mencintaimu Ibu... Selama ini kau membesarkanku. Menjadikan aku berguna pada masanya Dan kutau, bu, Ada denting nada luka yang mengalun di relung hatimu Bersimpuh pada sayatan luka yang menjadi Tapi, dengan tekad teguhmu, menguatkanku. Kau campakkan egomu demi menyelematkan egoku ...

Puisi-Puisi Dinar Puspita Ayu, S.Pd.I

  LENTERAKU Malam meregang nyawa Meminang semburat jingga Sepi bertunang hampa Senada seirama mengusik jiwa   Seribu hari belum berlalu Satu lentera lagi pergi tak kembali Satu lentera hidupku redup selamanya Temaram serasa isi dunia   Perih menganga tanpa suara Hanya goresan tinta jua aksara Temani malam beranjak dini Temani rasa yang mengusik sepi   Aku rindu Rindu selaksa peristiwa Yang hanya bisa kunikmati dalam memori   Aku rindu Rindu parasmu… senyummu Canda tawa serta nasehatmu   Aku tak mau sepi mengubur ilusi Tapi sepi membungkam rohani Yang tak akan pernah bertepi Setia temani ragawi   Walau dalam riuh rendah ribuan manusia Hanya hampa yang kini kurasa Doa serta asa yang kupinta pada sang maha cinta Semoga rinduku kelak bertepi di taman surgawi       TERCECER BERSAMA SENJA   Setahun lebih kepergianmu  Malam ini memoriku menari menemani delusi  Bola mata yang menganak sungai turut melengkapi Bahagiaku hampa  ...