Langsung ke konten utama

Sedang di Yogyakarta? Jangan Lewatkan 5 Museum Favorit ini



Oleh Iqbal Perdana
Staf CCDE

Nama museum identik dengan kesan kuno, tua, sepi dan rasanya kurang menarik. Kalau musim libur, museum barang kali bukan tujuan pelancong. Padahal, mengunjungi museum juga menyenangkan dan dapat menambah wawasan. Seperti beberapa museum di Yogyakarta, yang memiliki daya tarik bagi wisatawan dan spot bagus untuk foto-foto.

1. Museum Benteng Vredeburg

Museum ini tidak jauh dari Malioboro, jika kamu sedang hunting belanjaan di Malioboro atau berburu batik di Pasar Beringharjo, singgah di Museum Benteng Vredeburg. Tiket masuknya hanya Rp 3000 saja, dengan tiket masuk yang murah, kamu sudah bisa menjelajah seluruh sudut museum yang khas Belanda.

2. Museum Kereta Keraton

Tidak jauh dari Keraton Yogyakarta, kamu akan mendapati sebuah museum, masyarakat menyebutnya Museum Kereta Keraton. Museum ini terletak di bagian barat Keraton Yogyakarta. Kereta-kereta kuda dari masa berabad-abad silam terawat baik disini. beberapa diantaranya ada yang buatan Eropa.

3. Museum Mini Sisa Hartaku

Jalan-jalan ke Merapi, rasanya tidak lengkap kalau tidak menyaksikan dahsyatnya sisa erupsi. Di Museum Mini Sisa Hartaku ini, kamu bisa menyaksikan rumah warga yang terkena dampat erupsi Gunung Merapi. Mulai dari peralatan perkakas, kendaraan, hingga sisa-sisa tulang sapi. Museum ini menjadi salah satu museum dengan keuinikan khasnya sendiri.

4. Museum Alam dan Ekologi Pantai Parangtritis

Jika kamu berkunjung ke Parangtritis, jangan lupa untuk singgah ke Museum Alam dan Ekologi Pantai Parangtritis. Bangunannya unik dengan berbentuk kerucut berwarna biru.

5. Museum Bahari

Museum ini barangkali digandrungi oleh pencinta novel dan film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Betapa tidak, di museum ini, kamu akan merasakan sensasi berfoto ala film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Kamu bisa foto dengan gaya menjadi seorang nahkoda atau awak kapal, ruang kemudi dan beberapa peralatan kapal juga lengkap di museum ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Mimpi Besar Arisqa Rinaldi Terwujud dalam Usaha dan Doanya

Arisqa murid kelas 5 SDN 2 Kandang, Kecamatan Kleut Selatan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada ilmu pengetahuan, yaitu di bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Setiap malam, dia selalu meluangkan waktunya untuk membaca buku-buku tentang sains, melakukan eksperimen sederhana dan bertanya kepada gurunya tentang berbagai fenomena alam yang menarik minatnya. Keinginannya untuk memahami dunia di sekitarnya tidak pernah kandas dan mimpi terbesarnya adalah menjadi juara dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di tingkat Kabupaten Aceh Selatan. Arisqa menyadari bahwa untuk mencapai mimpinya, dia harus bekerja keras dan berlatih dengan tekun.  Dengan dukungan penuh dari orang tuanya yang selalu mengingatkannya di depan pintu gerbang sekolahnya, ayahnya berkata, “Nak teruslah berproses dan jangan lupa hormati gurumu”.    Dengan    bimbingan dari guru-guru di sekolahnya, Arisqa mempersiapkan diri dengan baik. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Arisqa selalu menyempat...

Profesor

Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok Jagat maya akademik sedang gaduh karena ibu Megawati memperoleh gelar Guru Besar Tidak Tetap Honoris Causa dari Universitas Hankam.  Beberapa sahabat saya sering jengah bahkan ada yang berang, karena kadangkala saat diundang bicara dalam sebuah perhelatan akademis, ditulislah di depan namanya gelar Prof. Dr.    Setiap saat pula beliau menjelaskan bahwa dirinya hanya S1.  Satu lagi sahabat saya yang bernasib sama dengan yang di atas. Kalau yang ini memang dasar "rodok kusruh" malah dipakai guyon. Prof diplesetkan menjadi Prov alias Provokator, karena memang senangnya memprovokasi orang dengan tulisan-tulisannya , terutama dalam diskusi cara beragama dan literasi.  Sayapun mirip dengan mereka berdua. Namun karena saya di ijazah boleh memakai gelar Insinyur, tidak bisa seperti mereka yang boleh memakai Drs, yang juga kadang diplesetkan kembali menjadi gelar doktor lebih dari 1. Saya pikir mereka yang pernah memperoleh gelar Do...