Langsung ke konten utama

Umi Mawadah, Jago Cipta Komik Strip



Ditulis Oleh Laura Oktaviany Marantika



Umi Mawadah, yang kerap dipanggil Umi, lahir pada tanggal 09 November 2004 di Desa Jongar Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara. Umi adalah anak ke empat dari empat bersaudara. Umi ini adalah anak yang mengalami keterbatasan pendengaran dan wicara. Kita sering menyebutnya dengan tunarungu. Saat ini Umi duduk di bangku kelas IX/B SLB Negeri Pembina Provinsi Aceh yang beralamat di jalan Rel Kereta Api Desa Jurong Peujera Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar.


Kini Umi tinggal jauh dari orang tua dan saudaranya. Ia harus merantau demi menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa Umi dan rela tinggal di asrama dengan izin orang tuanya. Selama tinggal di asrama, Umi adalah pribadi yang baik dan ceria serta disenangi oleh teman-teman asrama. Juga teman kelas dan sekolahnya. Di asrama Umi dididik menjadi anak yang mandiri, mengurusi diri sendiri dan hal-hal pribadi lainnya. Umi juga setiap hari membantu ibu asrama seperti menyapu, menyiram bunga, mengepel dan kegiatan lainnya. Tentunya dengan jadwal piket yang telah disepakati anggota asrama lainnya. 


Saat masih tinggal di Kuta Cane, Umi Sekolah di Sekolah Umum. Karena keterbatasannya Umi sering dibully oleh teman-teman yang normal. Sekarang Umi sekolah di SLB Negeri Pembina Provinsi Aceh. Alhamdulillah telah mandiri dan mampu menorehkan beberapa prestasi. Salah satunya adalah Juara II “Lomba Cipta Komik Strip SMPLB/SMALB” tingkat Provinsi Aceh pada tanggal 16-18 Juni 2019.

Komik Teuku Umar dibuat dan digambarkan sendiri oleh Umi, berdasarkan cerita dan sinopsis yang diajarkan oleh guru pembimbingnya, yaitu Ibu Zahratul Idami, S. Pd. Berkat dukungan guru-guru dan teman-teman Umi sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman baru yang bermanfaat. Ke depannya, Umi akan terus belajar dan berusaha.

Berikut adalah Komik hasil karya Umi





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...