Langsung ke konten utama

PGRI Pulau Banyak Barat Gelar Baksos di Sekolah Terpencil

 





Singkil -Potretonline.com, 29/11/21. Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2021 dan HUT PGRI ke-76, Persatuan Guru Repubik Indonesia (PGRI) Cabang Pulau Banyak Barat (PBB) Kabupaten Aceh Singkil menggelar bakti sosial ke beberapa sekolah terpencil.


Ketua Cabang PGRI Pulau Banyak Barat, Arisman SPd kepada media, Senin (29/11) mengatakan, kegiatan bakti sosial ini dalam rangka memeriahkan HGN tahun 2021 dan HUT PGRI ke-76.


"Adapun bakti sosial ini mengambil lokasi di empat desa dalam Kecamatan Pulau Banyak Barat, yaitu Desa Suka Makmur, Asantola, Haloban dan Desa Ujung," kata Arisman.


Dikatakannya, adapun bakti sosial ini bertujuan untuk membantu beberapa sekolah dengan membagikan Al Qur'an, Kamus, Majalah POTRET dan Anak Cerdas, Celengan dan penanaman pohon bunga serta memperkuat silahturrahmi antara pengurus dan anggota PGRI di Kecamatan Pulau Banyak Barat.


Arisman menjelaskan, dengan bantuan yang diserahkan lebih menguatkan budaya literasi bagi siswa khususnya di sekolah pedalaman yang berada di kepulauan.


"Guru, siswa dan masyarakat di empat desa tersebut sangat antusias menyambut bakti sosial itu. Selanjutnya setelah melakukan rangkaian kegiatan pengurus bersama anggota PGRI PBB berwisata ke Kepulauan Pandan yang masih berada dalam Wilayah PBB," ucap Arisman.


Ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensukseskan kegiatan bakti sosial ini dan apresiasi kami sampaikan kepada Tabrani Yunis pimpinan Majalah POTRET dan Anak Cerdas yang telah mengirimkan ratusan majalah dalam mensukseskan bakti sosial di daerah kepulauan terpencil, pungkas Harisman.


Kontributor : Baihaki

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...