Langsung ke konten utama

Bernafas Dalam Lumpur


 
Salam Redaksi POTRET 80

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini semakin pesat dan mendorong semakin cepatnya perubahan dalam berbagai sector kehidupan. Perubahan dalam berbagai hal semakin tak terbendung dan tak dapat dihindari. Banyak produk teknologi informasi dan komunikasi yang dulu canggih dan terkesan mewah, kini tinggal kenangan. Satu contoh saja adalah pesawat telpon yang dahulu hanya menjadi milik orang-orang (kalangan) tertentu, kini sudah tidak dipakai lagi. Penggantinya lebih canggih, yakni berbagai macam jenis telepon selualar yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, asal ada layanan internet. Semua informasi ada di tangan, semua ruang bisa dijangkau dalam waktu yang sangat cepat. Ruang semakin sempit dalam genggaman globalisasi.

Karena, dengan satu klick, semua informasi ada di genggaman kita. Tak dapat dipungkiri bahwa penyampaian dan penyebaran informasi bisa berjalan dalam hitungan detik dengan cara yang paling mudah dan semakin murah. Orang-orang mengatakan, ini zaman digital.

Benar kan? Dulu, orang-orang yang mencari sebuah berita tentang sebuah peristiwa yang terjadi di belahan bumi atau dunia sana, harus menunggu waktu satu hari untuk mendapatkan beritanya. Mengapa demikian? Ya, karena harus menunggu berita surat kabar harian. Sehingga, peristiwa yang terjadi hari ini, baru bisa dibaca keesokan harinya. Pembaca pasti ingat tentang bencana gempa bumi yang melanda Pidie jaya, Aceh. Berita tersebar begitu cepat. Inilah bukti kecepatan berita itu, bisa langsung dibaca dengan tersedianya jaringan internet. Tidak harus menunggu terbitnya koran besok atau koran sore. Apalagi menunggu berita dari majalah mingguan, maupun bulanan. Pasti bukan zamannya lagi.

Nah, sejalan dengan cepat dan kencangnya perubahan tersebut, di sector media cetak, banyaknya media yang dahulu menjadi andalan kini, mulai ditinggalkan, walau tidak seluruhnya hilang dengan tiba-tiba. Namun membaca gelagat yang ada saat ini, banyak fakta yang membuktikan bahwa banyak media cetak, baik surat kabar, bulletin, maupun majalah yang selama ini menjadi pilihan untuk dibaca atau diakses, kini satu per satu, media tersebut tumbang, gulung tikar atau mati. Tidak percaya? Silakan diidentifikasi media yang ada di sekitar kita.

Bagi kami, tidak perlu jauh-jauh menengadah ke atas, atau melihat ke bawah, di antara sekian banyak media yang sulit untuk bangkit dan berkembang, majalah POTRET adalah salah satu contoh yang mengalami kesulitan itu. Keberadaan majalah POTRET bagai kerakap tumbuh di batu. Ya, hidup enggan bahkan susah, namun tak mau mati. Nasibnya juga bagikan bernafas di dalam lumpur. Ya, sangat sulit. Kesulitan itu sebenarnya bersumber pada kemampuan finansial, berupa biaya yang harus dikeluarkan setiap kali terbit. Kekuatan finansial sebuah media, bersumber dari dukungan iklan. Iklan menjadi nafas bagi sebuah media untuk terbit, sementara hasil penjualan adalah pendukung kedua, karena pada tataran penjualan, sangat ditentukan oleh seberapa besar jumlah pembeli dan pelanggan sebuah media. Majalah POTRET, sejak awal, miskin iklan, miskin dukungan, baik perusahaan maupun pemerintah daerah. Namun, alhamdulilah bisa bertahan hingga 14 tahun, hingga kini. Kekuatan yang ada hanyalah sebuah idelisme dan komitmen untuk tetap terbit, walau terbirit-birit. Sebagai contoh, edisi 80 ini yang seharusnya terbit beberapa bulan lalu, namun karena terkendala dana, tidak ada iklan atau pariwara seperti yang dipasang oleh pemerintah local di media tertentu, team POTRET harus berusaha dan berdoa untuk mendapatkan dukungan dana, paling tidak sebagai biaya cetak saja.

Lalu, mengapa tetap terbit? Jawabnya sederhana. Impian untuk membangun budaya literasi, sebegaimana pada awal penerbitan ini, masih belum selesai. Upaya membangun budaya baca, budaya menulis dan meningkatkan daya baca di kalangan masyarakat kelas bawah, kelas miskin dan perempuan, masih belum tercapai. Sementara kini keinginan menulis para remaja, perempuan yang mulai tumbuh, membutuhkan media untuk menampung aspirasi dan karya mereka. Kondisi ini juga membuat hati terenyuh dan bertekat tetap terbit, walau tidak teratur sebagaimana yang direncanakan. Walau bagai bernafas dalam lumpur, Alhamdulilah, POTRET edisi 80 ini kini bisa ada di tangan anda. Terima kasih kepada pihak yang sudah berkontribusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Mimpi Besar Arisqa Rinaldi Terwujud dalam Usaha dan Doanya

Arisqa murid kelas 5 SDN 2 Kandang, Kecamatan Kleut Selatan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada ilmu pengetahuan, yaitu di bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Setiap malam, dia selalu meluangkan waktunya untuk membaca buku-buku tentang sains, melakukan eksperimen sederhana dan bertanya kepada gurunya tentang berbagai fenomena alam yang menarik minatnya. Keinginannya untuk memahami dunia di sekitarnya tidak pernah kandas dan mimpi terbesarnya adalah menjadi juara dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di tingkat Kabupaten Aceh Selatan. Arisqa menyadari bahwa untuk mencapai mimpinya, dia harus bekerja keras dan berlatih dengan tekun.  Dengan dukungan penuh dari orang tuanya yang selalu mengingatkannya di depan pintu gerbang sekolahnya, ayahnya berkata, “Nak teruslah berproses dan jangan lupa hormati gurumu”.    Dengan    bimbingan dari guru-guru di sekolahnya, Arisqa mempersiapkan diri dengan baik. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Arisqa selalu menyempat...

Media Dapat Mempengaruhi Kesehatan Mental

Oleh Ida Rayyani, Mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Saat ini kita hidup di era media sosial. Sosial media adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Masing-masing individu dipastikan memiliki akun pribadi di Facebook, Twitter, Path, Youtube, Soundclouds, dan lain-lain. Media sosial juga memudah pengguna memperoleh informasi dengan cepat, sebagai media promosi dalam bisnis, dan memudahkan dalam berkomunikasi   (mendekat yang jauh). Memang, berinteraksi di jejaring sosial menjadi hiburan tersendiri bagi kita di tengah rutinitas yang padat. Selain memiliki banyak manfaat media sosial juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan mental pengguna. menurut WHO kesehatan mental merupakan status kesejahteraan dimana setiap orang dapat menyadari secara sadar terkait kemampuan dirinya, kemudian dapat mengatasi berbag...