Langsung ke konten utama

Monkey Business


Oleh: Benny

Ekonomi lagi sulit kata teman saya, “Untung kita tidak pailit, kalau tidak bisa berabe urusannya di dunia. Diam-diam saya mengamini, perekonomian kita saat ini memang sangat lesu. Janji setiap rejim penguasa untuk memperbaiki kondisi perekonomian bagai angin meniup debu. Sakit! Kelilip mata! Kondisi ekonomi memang diperbaiki, tapi seringnya bagi golongan tertentu saja. Makanya tidak heran jika kita seing mendengar ungkapan “Cari yang haram saja susah, apalagi yang halal”! Banyak yang berpendapat bahwa kejujuran di bisnis era sekarang ini adalah sesuatu yang mustahil dilakukan. Padahal, jujur adalah salah satu syarat untuk mujur.

Jadi ingat pengalaman berbelanja ikan dulu. Saat memilih ikan, saya ingat betul ikan yang saya pilih hanya satu jenis dalam satu wadah. Namun saat pulang ke rumah, bim salabim, ikannya berubah menjasi ikan yang dicampur dengan jenis lain. Kalau nyampurnya dengan jenis yang lebih mahal sih untung, ini yang ada malah dicampur dengan ikan yang lebih murah, adanya malah bunting! Saya Cuma bisa nyengir, sambil bergumam dan menertawakan nasib sendir, “Bisnis Monyet nih”!

Bisnis monyet? Iya betul bisnis monyet! Begini ceritanya (mirip acara horror di tv dulu):

Alkisah, seorang bos dan asistennya datang ke desa dan memberitahu penduduk bahwa mereka siap membayar US$10 untuk seekor monyet. Penduduk menyambut tawaran itu, mengingat hutan di tempat itu penuh dengan monyet. Mereka pun masuk hutan, menangkapi monyet, dan sang bos dibantu asistennya membeli dan memasukkan monyet hasil tangkapan ke kandang. Namun karena populasi monyet berkurang, aktivitas perburuan menurun.

Melihat itu, sang bos menaikkan harga pembelian menjadi US$20. Penduduk terpicu untuk berburu ke seluruh hutan. Ketika nyaris tak ada lagi monyet tersisa, penduduk berhenti menangkap. Lagi-lagi, sang bos menaikkan harga pembelian monyet menjadi US$50. Lalu, ia kembali ke kota dan menyerahkan bisnis jual-beli monyet pada asistennya.

Di tengah kebingungan penduduk mencari monyet, asisten sang bos memberi tawaran menarik,”Monyet yang dulu kalian tangkap kini ada di kandang. Bagaimana jika kujual monyet itu seharga US$30 per ekor, dan kalian bisa jual kembali ke bos seharga US$50 setelah aku pergi.”

Tergiur uang gampang, penduduk desa menerima tawaran itu. Mereka menguras tabungan demi memborong seluruh monyet. Setelah itu, sang asisten berpamitan pergi dan itulah kali terakhir penduduk desa melihatnya. Hari berganti pekan, sang bos yang ditunggu-tunggu tak juga datang. Penduduk desa tak mendapatkan apa pun, selain warga yang stres dan ratusan monyet.

Kisah yang melahirkan istilah ‘monkey business’ itu, jika diterjamahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai suatu prilaku usaha yang licik penuh tipuan dan tidak beretika. Coba hitung tingkat keuntungan dari aksi nakal tersebut, kalau tidak salah lebih dari 38%. Kalau tidak percaya hitung saja sendiri. Saya sendiri senang mengucapkannya sebagai bisnis monyet, bukan dalam arti berdagang monyet, tapi prilaku oknum pedagang yang mirip monyet (tahu sendiri kan, monyet selalu digambarkan sebagai makhluk yang nakal).

Untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, oknum pedagang sanggup melakukan segala cara. Tidak heran jika kita sering mendengar dan melihat berbagai cerita tentang prilaku curang yang dilakukan oknum pedagang. Mulai dari tipuan sulap kelas jalanan hingga menggunakan berbagai jenis zat kimia sebagai pengawet, pewarna, perasa dan lainnya.

Masalahnya apakah kita yakin, jika melakukan hal tersebut usaha kita akan semakin maju? Untuk jangka pendek mungkin sepertinya begitu. Namun untuk jangka panjang, saya berani jamin, usaha kita akan bangkrut total dan akan sulit memulai usaha baru karena prilaku nakal kita akan diketahui oleh konsumen, cepat atau lambat.

Secara pribadi saya belum mendengar ada pengusaha yang bangkrut karena berlaku jujur, justru sebaliknya banyak oknum pengusaha yang bangkrut karena berlaku tidak jujur. Prilaku jujur dalam bisnis, mampu mendongkrak bisnis kita menjadi semakin baik setiap, inilah yang dinamakan dengan kejujuran sebagai prinsip ber-etika dalam bisni.

Mungkin akan terdengar sedikit aneh mendengar kejujuran merupakan sebuah prinsip dalam melakukan bisnis yang beretika. Terutam dalam dunia ekonomi kapitalis yang menganggap segala cara dapat dilakukan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Secara teori, ada 3 hal yang dapat menunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan pada prinsip kejujuran.

Pertama, kejujuran relevan dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Dalam mengikat perjanjian dan kontrak tertentu, semua pihak pelaku bisnis harus saling percaya satu sama lain, masing-masing pihak tulus dan jujur dalam membuat dan melaksanakan perjanjian dan kontrak. Seandainya salah satu pihak berlaku curang dalam memenuhi syarat-syarat perjanjian tersebut, maka pihak yang dicurangi itu tidak akan mau lagi menjalin relasi bisnis dengan pihak yang curang itu. Dalam skla kecil kontrak disini dapat diartikan sebagai perjanjian jual beli antara penjual dan pembeli.

Kedua, kejujuran relevan dalam penawaran barang dan jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Artinya sekali perusahaan menipu konsumen, entah melalui iklan atau melalui pelayanan yang tidak seperti yang dijanjikan, maka konsumen akan dengan mudah lari ke produk lain. Kenyataan bahwa banyak konsumen Indonesia lebih suka mengkonsumsi produk luar negeri daripada produk dalam negeri dikarenakan pengusaha luar negeri lebih bisa dipercaya kerena dengan jujur menawarkan produknya dengan kualitas yang baik dan tidak menipu konsumen.

Ketiga, kejujuran juga relevan dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan. Omong kosong bahwa suatu perusahaan bisa bertahan kalau hubungan kerja dalam perusahaan itu tidak dilandasi oleh kejujuran. Apabila karyawan terus-menerus ditipu oleh atasan dan sebaliknya, maka perusahaan itu lambat laun akan hancur kalau suasana kerjanya penuh dengan akal-akalan dan tipu-menipu.
Dalam ketiga wujud diatas, kejujuran terkait dengan kepercayaan. Kepercayaan yang dibangun diatas dasar prinsip kejujuran merupakan modal dasar bagi kelangsungan dan keberhasilan dalam berbisnis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...