Langsung ke konten utama

PELEPAS DAHAGA PENYERAP TENAGA KERJA



Oleh Bayu Pratama Putra
Mahasiswa Prodi Perbankan Syariah, FEBI UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh


Jika terdengar di telinga anda tentang pelepas dahaga, pasti gambaran yang terlintas adalah minuman isotonic dan beberapa jenis soft drink lainnya. Tetapi bagaimana jika anda disuguhkan dengan satu cup jus, apakah itu akan menghilangkan dahaga anda ? Lalu bagaimana jika anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Lima Ribu rupiah saja ? Pastinya itu akan menjadi suatu petimbangan bagi anda, bukan ?

Beberapa waktu yang lalu, dimana matahari terasa sejengkal di atas kepala, saya melintasi sebuah jalan. Lalu saya dikejutkan oleh sebuah fenomena yang janggal di mata saya, dimana saya melihat kerumunan orang dari yang berdasi merah Tut Wuri Handayani sampai yang berdasi panjang dengan motif polkadot. Sehingga badan saya serasa ditarik oleh medan magnet yang sangat kuat menuju ke sana. Setelah mendekat, ternyata itu adalah sebuah gerai jus lima ribu yang diberi nama One Juice.

Setelah saya merasakannya, tiba-tiba ada sesuatu yang lain pada jus ini, juga kondisi di sekitar saya terasa berbeda. Jadi saya langsung menjumpai sang pemilik usaha tersebut. Seketika saya merasa terkejut, Sang pemilik menjelaskan latar belakang dalam mendirikan usahanya. Beliau menjelaskan memulai usaha tersebut awalnya pada saat menginjakkan kaki di Banda Aceh dan kebetulan beliau sedang libur bekerja. Beliau berkeliling kota Banda Aceh dan melihat tidak ada seorangpun yang menjual jus seharga lima ribu rupiah, sedangkan di daerah asalnya sudah banyak yang membuka usaha tersebut. Kemudian sang pemilik mencoba bertukarfikiran dengan rekan sejawatnya. Akhirnya, beliau mengambil kesempatan ini untuk memulai bisnisnya dengan membuka gerai jus lima ribu.

Kemudian hal menarik lainnya yang saya dapatkan dari cerita beliau adalah tujuan utama dalam membuka usahanya yaitu beliau ingin membuka peluang kerja bagi para pengangguran, khususnya kalangan remaja. Sungguh mulia hatinya sampai berfikir seperti itu dan hal ini sepatutnya dapat ditiru oleh para pelaku usaha . Beliau beranggapan agar mereka tidak terjerumus pada kenakalan remaja seperti penyalahgunaan narkotika dan lainnya. Lalu bukan hanya karyawan yang digaji, tetapi sang pemilik juga membantu meningkatkan taraf hidup keluarga dari para keryawan beliau dengan menerapkan prinsip kekeluargaan agar tidak adanya kesenjangan antara sang pemilik dan para karyawannya. Maka dari itu, saya melihat para karyawannya bekerja dengan senyum terlukis lebar dan semangat yang sangat bergelora.

Untuk strategi yang diterapkan pada usaha itu, sang pemilik berfokus pada tiga prinsip dasar yaitu, kebersihan, pelayanan dan disiplin. Beliau berfikir dengan mengutamakan kebersihan itu akan menarik minat konsumen terutama konsumen “kelas atas” yang indentik dan sensitif dengan kebersihan. Hal itu juga dapat menjadi nilai lebih bagi usahanya.

Tak semua usaha itu dapat berjalan dengan mulus. Tentulah ada kerikil-kerikil kecil yang menghambat jalannya usaha. Dalam hal ini, sang pemiik juga memiliki beberapa kendala yang dihadapi seperti kendala dalam hal penyediaan bahan baku seperti buah, gula dan lainnya. Kita tahu bahwa buah itu sifatnya musiman, jadi ada suatu waktu dimana buah yang tersedia terbatas sedangkan jumlah permintaan konsumen tak terbatas. Juga masalah lainnya yang tak kalah mengkhawatirkan pemilik adalah problematika karyawan yang jumlah karyawan masih sangat minim. Upaya yang ditempuh sang pemilik adalah dengan merekrut karyawan baru, tetapi dengan catatan pegawai baru tersebut ditempatkan di bagian belakang sebelum mereka mampu untuk melayani konsumen.

Jika kita berbicara bisnis, maka dua hal yang akan kita hadapi, yaitu modal dan keuntungan. Dalam hal ini, saya mendapati bahwa sang pemilik usaha ini memulai dengan modal yang sangat sedikit. Padahal menurut penjelasan beliau, di awal berjualan itu cuacanya hujan tetapi jumlah konsumen malah meningkat. Setelah melalui sebuah proses yang sangat panjang diikuti dengan ketekunan dan kesabaran dalam menjalani bisnisnya sekarang beliau dapat meraup untung yang besar.

Walaupun dengan keuntungan besar yang diperoleh, beliau tidak pernah lupa akan hak orang lain yang ada pada rezeki yang diperolehnya. Beliau tidak pernah lupa untuk menyisihkan rezekinya setiap bulan untuk diberikan kepada anak yatim, panti jompo, dan dayah pesantren yang ada di kota Banda Aceh dan sekitarnya. Kemudian hal yang di luar dugaan pun terjadi, beliau berkata selama sering melakukan hal itu walaupun pesaing semakin banyak tetapi income baginya semakin besar.

Saya mencoba memberikan saran kepada sang pemilik, kenapa sejauh mata memandang tidak ada tempat duduk atau tempat khusus untuk orang yang datang membeli dapat menikmati jus di tempat itu. Jawaban dari sang pemilik adalah dulu pernah saya buka tempat duduk di dalam yang lebar, menyediakan fasilitas seperti tv dan bahkan sampai wifi untuk para pelangganya, tetapi kurang dimanfatkan dengan baik oleh para konsumen. Karena menurutnya, ketika adzan berkumandang para konsumen terlalu terlena dengan fasilitas yang ada, bahkan tidak terlalu memperdulikannya. Maka dari itu pemilik menghilangkan semua fasilitas itu. Jadi konsep berjualan sang pemilik adalah pelanggan memesan karyawan jus melayani lalu pembeli pulang dengan membawa pesanan jusnya.

Pelajaran yang saya dapatkan adalah dalam merintis usaha diperlukan kerja keras sesuai dengan konsep tanggal sukses agar mampu menjadi star class company, tetapi hal menarik dari sang pemilik adalah tujuannya dalam membuka usaha agar jumlah pengangguran berkurang, bisa membantu anak yatim dan ureung jak beut. Karena di dalam rezeki kita masih terdapat hak orang lain di dalamnya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT surah Al-Hadid ayat 7 “berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang telah membuat kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya menghasilkan pahal yang besar”. Maka oleh sebab itu, tujuan akhir dari melakukan sesuatu bukan hanya berorientasi dunia saja, tetapi sesuai konsep ekonomi islam yaitu kebahagaiaan di dunia dan akhirat (Falah).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...