Langsung ke konten utama

Inovasi Edukasi di Era Revolusi Industri 4.0



Oleh : Ilham Ramadhan Nur Ahmad 

Revolusi industri 4.0 merupakan fenomena yang mengkolaborasikan teknologi cyber dan teknologi otomatisasi. Konsep revolusi Industri 4.0 yang pertama kali dicanangkanoleh Prof. Klaus Schawb, mengatakan bahwa konsep tersebuttelah merubah hidup dan cara kerja manusia. Perubahan yang terjadi mulai dari teknologi dan informasi, ekonomi, sosialbudaya, dan pendidikan menuntut generani muda Indonesia untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan yang begitu cepat. Kini, revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerjamanusia secara fundamental. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti fundamental adalah sesuatu yang mendasar(pokok atau prinsip) dalam suatu hal. Jadi, fundamental merupakan sesuatu yang menggambarkan berbagai hal, kegiatan, dan prinsip-prinsip yang sangat penting danmempengaruhi sifat dasar dari hal-hal lain atau elementerpenting pada berbagai bidang.

Teknologi dalam dunia pendidikan mengalamiperkembangan yang sangat pesat. Saat ini, dunia pendidikandihadapkan pada era revolusi industri 4.0. Era revolusi 4.0 merupakan proses kelanjutan dari revolusi industri 3.0 yang mengintegrasikan antara digitalisasi, optimation dancustomization produksi, otomasi dan adaptasi, interaksi manusiadengan mesin, value added service and business, automatic data exchange and communication serta penggunaan teknologiinformasi.

Dalam dunia pendidikan, terdapat dampak negatif yang ditimbulkan oleh revousi industri 4.0 bagi generasi mudaIndonesia, mulai dari radikalisme, diskriminasi, lunturnyabudaya lokal, tawuran hingga tindakan kriminal dari sosialmedia maupun dunia nyata yang ditimbulkan dari kurangnyapemahaman mengenai pendidikan multikultural di era sekarang. Oleh karena itu, betapa pentingnya pemahaman pendidikan multikultural bagi generasi muda, karena pada era revolusi industri 4.0. Salah satu kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah kemampuan generasi muda untukmemecahkan masalah (problem solving), dengan penanaman pendidikan multikultural yang benar akan menghasilkan generasi muda di era revolusi industri 4.0 yang kreatif, inovatif, serta generasi yang berkarakter, berintegritas dan menjunjung tinggi toleransi sesuai identitas nasional bangsa Indonesia.

Untuk itu, inovasi teknologi di bidang pendidikan sangatmendukung pembelajaran yang dibutuhkan pada era ini. Sebab, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), supaya bisa bersaing di kancah global dan menciptakan generasiyang bisa memecahkan masalah yang ada di dunia terkhusunyabangsa ini. Setelah melalui tiga tahap evolusi industri tersebut, tahun 2018 disebut sebagai awal zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Untuk menghadapirevolusi industri 4.0, diperlukan berbagai persiapan, termasukmetode pembelajaran pendidikan yang tepat.

Pertama, Peran pemerintah dalam mengubah metodepembelajaran pendidikan

Pemerintah tentu saja memiliki peran yang sangat pentingdalam perubahan metode pembelajaran pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak merupakan hal yang penting untuk disediakan olehpemerintah. Salah satu caranya adalah dengan menyediakanteknologi yang mumpuni. Diperlukan perpindahan makna KKN menjadi Komunikasi, Kolaborasi, dan Networking untukmembangun generasi muda Indonesia yang lebih baik. Denganmenyediakan berbagai fasilitas yang sesuai kebutuhan dantuntutan zaman, diharapkan anak-anak muda Indonesia dapatmengantongi bekal yang cukup dalam menghadapi berbagaitantangan di era revolusi industri 4.0 ini. Mengingat kondisiteknologi yang selalu berubah, diperlukan kemampuan adaptasiyang tinggi agar tidak ketinggalan zaman. Anak-anak mudaIndonesia juga diharapkan mampu bersaing dan memiliki nilai-nilainya sendiri.

Kedua, Mengusung pendidikan 4.0

Pendidikan 4.0 merupakan istilah umum yang dipakai olehpara ahli teori pendidikan untuk menggambarkan beragam caradalam mengintegrasikan teknologi cyber, baik secara fisikmaupun tidak, ke dalam dunia pembelajaran. Konsep ini jugamerupakan lompatan dari Pendidikan 3.0 yang lebih mencakuppertemuan ilmu saraf, psikolofi kognitif, dan teknologipendidikan menggunakan teknologi digital dan mobile berbasis web. menurut menurut Ketua Kelompok KeahlianTeknologi Informasi Sekolah Elektronika dan Informasi ITB, Dr. Armein Z R Langi merupakan kesempatan belajar yang dimiliki oleh orang-orang yang berselera tinggi akanpengetahuan dan kapasitas “metabolisme” pengetahun yang tinggi pula.

Dalam hal ini, pendidikan 4.0 berada jauh di atas hal tersebut. Bahkan dalam beberapa hal, pendidikan 4.0 merupakan fenomena yang timbul sebagai respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0, di mana manusia dan mesin diselaraskan untuk memperoleh solusi, memecahkan berbagai masalah yang dihadapi, serta menemukan berbagai kemungkinan inovasi baruyang dapat dimanfaatkan bagi perbaikan kehidupan manusia modern.

Ketiga, Teknologi informasi dan komunikasi untukpembelajaran di era revolusi industri 4.0

Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, diperlukanpendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif. Hal tersebut salah satunya dapat dicapai dengancara mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik. Indonesia pun perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai duniakerja dan tuntutan teknologi digital.

Sudah saatnya kita meninggalkan proses pembelajaran yang cenderung mengutamakan hapalan atau sekadar menemukan satu jawaban benar dari soal. Metode pembelajaran pendidikan Indonesia harus mulai beralih menjadi proses-proses pemikiran yang visioner, termasuk mengasah kemampuan caraberpikir kreatif dan inovatif. Hal ini diperlukan untuk menghadapi berbagai perkembangan teknologi dan ilmi pengetahuan.

Keempat, Meningkatkan dan memperbaiki Sumberdaya Manusia (SDM)

Meningkatkan SDM dalam era revolusi industri 4.0 sangat diperlukan, karena menjadi tolak ukur sebagai pandangannegara untuk maju. Melainkan dengan perbaikan SDM, perbaikan SDM adalah salah satu hal yang harus sangat diperhatikan. Perbaikan tersebut dapat terlaksana salah satunyadengan cara mengubah metode pembelajaran dalan dunia pendidikan yang ada. Salah satunya ialah guru.

Menurut Bapak Nadiem Anwar Makarim, “ Perubahan adalah hal sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Tapi, perubahan tidak bisa dimulai dari atas. Semuanya berawaldan berakhir dengan guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambilah langkah pertama, dimanapunkeberadaannya lakukanlah perubahan kecil di kelas anda.”Searah dengan pesan Mendikbud RI ketika penyampaian pitado untuk memperingati Hari Guru tahun 2019, yaitu:
Pertama, ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Kedua, Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Ke tiga, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Ke empat, temukan suatu bakat dalam diri murid yang kuräng percaya diri. Ke lima, tawarkan bantuan kepada guru yang sedan mengalami kesulitan.

Nah, ada tiga hal yang perlu diubah di Indonesia dari sisi edukasi. Pertama adalah mengubah sifat dan pola pikir anak-anak muda Indonesia dengan literasi revolusi yang berkaitan erat dengan Literasi Data, Literasi Teknologi, danLiterasi Manusia. Kedua, pentingnya peran sekolah dalam mengasah dan mengembangkan bakat generasi penerus bangsa. Ketiga adalah pengembangan kemampuan institusi pendidikan tinggi untuk mengubah model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan era revolusi 4.0. Perubahan ini bertujuan until memerdekakan pendidikan di Indonesia agar menjadi pendidikan yang berinovasi seiring perkembangan zaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...