Langsung ke konten utama

AKU BENCI SEMBILAN NAGA




Oleh Satria Dharma

Berdomisili di Surabaya


Seorang teman terang-terangan bilang bahwa dia benci pada keturunan China karena mereka menguasai perekonomian negara kita.


“90% perekonomian kita dikuasai oleh mereka, utamanya oleh Sembilan Naga.” Katanya dengan sewot sambil sok tahu apa itu Sembilan Naga.


“Kan memang itu yang kita kehendaki?”, jawab saya dengan slow. Tentu saja dia jengkel dengan jawaban saya tersebut.


“Maksudmu…?! ,” tanyanya dengan nada sewot.


 “Kan yang lain sudah kita kuasai dan kita tidak memberi kesempatan pada warga keturunan China, kecuali di bidang ekonomi.” jawab saya.


“Semua bidang yang lain itu kita kuasai sepenuhnya, 99.9%. Coba perhatikan dari jutaan orang yang bergerak di bidang politik ada berapa gelintir sih warga keturunan China? Lha wong ada Ahok satu saja yang memusuhi sampai jutaan orang gitu lho! Para kepala daerah dan wakilnya, para ketua DPR, DPRD, dan anggotanya dari Sabang sampai Merauke itu semua orang kita. hampir tidak ada yang keturunan China.


Bidang Militer apa lagi… Dari ratusan ribu orang yang bekerja di Hankam dan TNI, ada nggak yang keturunan China?


Bidang keamanan begitu juga… Dari ratusan ribu orang yang bekerja di Kepolisian, ada berapa sih yang keturunan China? Lha wong ada satu Brigjen Polisi keturunan China aja sudah difitnah anaknya presiden China. Satpam dan Sekuriti juga kita kuasai sepenuhnya. Gak pernah deh saya lihat ada sekuriti sing Cino.


Bidang hukum sami mawon. Siapa yang menguasai Kehakiman dan Kejaksaan? Ada nggak orang keturunan Chinanya?


ASN dan PNS jelas-jelas dikuasai oleh yang non-keturunan China. Bahkan kampus-kampus negeri sangat jarang ada mahasiswanya yang Chinese. Makanya mereka bikin kampus sendiri yang lebih bagus.


Lha terus warga keturunan China disuruh kemana…?!”  tanya saya. 


Kita hanya menyisakan satu bidang kepada mereka, yaitu bidang ekonomi. Mengapa? Karena kita sendiri yang tidak mau menguasainya.


“Kok iso kamu bilang kita tidak mau menguasai ekonomi?” tanyanya tambah sewot.


“Lha kita kan memang tidak mau mengejar dunia. Pantang bagi kita mengejar harta dunia. Akhiratlah tujuan kita. Allahu Akbar…! Kita kan selalu bilang harta tidak dibawa mati. Urip sak madyo ae, ojo ngoyo. Jangan menjadikan dunia sebagai tujuanmu. Orang kaya itu sulit masuk sorga. Orang miskin itu mudah timbangannya kelak di akhirat. Masuk sorga mak wes…! Nek wis rejekine gak bakal salah alamat. Kalau sudah tertulis rejeki kita meski pun kita leyeh-leyeh di rumah nanti rejeki yang datang sendiri. Biar pun usaha tidak terlalu keras yang penting doa harus kenceng. Perbanyak doa, dzikir, dan shalawat. Barangsiapa yang mengejar dunia maka tak ada akhirat bagiannya. Mari kita penuhi masjid-masjid dan semarakkan mimbar-mimbar dakwah. Iyo opo ora…?!” sodok saya kepadanya.


Matanya langsung melotot. Mau membantah tapi tidak bisa. Akhirnya dia cuma bisa megap-megap kayak ikan koki. Entah mengapa saya kok menikmati klepek-klepeknya itu.


“ Karena kita tidak ada yang mau menguasai perekonomian dan memandang jijik pada hal-hal yang bersifat duniawi pada maka tampillah saudara-saudara kita keturunan China tersebut. “ 


“Baiklah saudara-saudaraku. Biarlah kami yang mengurus perekonomian ini. Silakan kuasai bidang yang lain sepenuhnya, “ jawab mereka dengan rendah hati. 


“Hati-hati, Bro Cokin. Harta itu banyak godaannya. Lagipula harta itu tidak dibawa mati.” Kata kita mengingatkan mereka. 


“Baiklah. Kalau nanti ada godaan saya akan bertahan mati-matian. Kalau nanti saya mati  hartanya tidak akan saya bawa. Nanti hartanya saya bagikan pada anak-anak, keluarga, dan lembaga sosial saja.” Jawab mereka dengan merendah.


Dan di sinilah kita sekarang dalam posisi masing-masing. Ketika anak-anak kita dorong untuk jadi PNS, ASN, menguasai kantor-kantor semua kementrian, menguasai dunia perpolitikan, menguasai parlemen, menjadi tentara, menjadi polisi, menjadi jaksa, hakim sekaligus pengacaranya, menguasai pondok-pondok pesantren, menjadi penghafal Alquran, pembela Palestina, jadi tukang kayu, tukang batu, petani, Youtuber, artis sinetron, dan lain sebagainya, sedangkan Bro Cokin kita itu kita beri bidang yang tidak kita inginkan, yaitu bidang ekonomi. Biar dia saja yang nguber dunyo. Biar dia saja nanti yang kerepotan menjawab pertanyaan malaikat maut dan malaikat kubur untuk apa hartanya yang berlimpah itu. Kita ingin menguasai akhirat saja. Sorga jelas sudah ada di tangan kita. Bahkan duplikat kunci sorga sudah dalam tahap produksi."


“Ndasmu…!”seru teman saya sambil ngakak. Rupanya kena juga dia dengan wejangan saya.


“Ojok ngono, Bro,” katanya. “Ingat bahwa perekonomian kita sudah dikuasai oleh Sembilan Naga.” Keluar lagi istilah Sembilan Naga ini. Hadeeh…! 


“Yo gak apa-apalah, bro.”jawab saya. “Yang penting Sembilan Gajah, Sembilan Singa, Sembilan Badak, Sembilan Macan Tutul, Sembilan Kokokbelok, Sembilan Buaya Sungai dan Darat, Sembilan Manuk Dadali, Sembilan Lele Dumbo, Sembilan Perkutut, Sembilan Pocong, Sembilan Mafioso, Sembilan Debt Collector, dan yang lain sudah kita kuasai. Mau ngapain Sembilan Naga kalau yang lain kita kuasai.” 


“Asuuuu…!” akhirnya teman saya tertawa ngakak. Saya juga ikut ngakak. Soalnya saya membayangkan Sembilan Naga ikut ngakak sambil bilang, “Good…good…good…!” 


Surabaya, 30 Juni 2021

Satria Dharma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Mimpi Besar Arisqa Rinaldi Terwujud dalam Usaha dan Doanya

Arisqa murid kelas 5 SDN 2 Kandang, Kecamatan Kleut Selatan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada ilmu pengetahuan, yaitu di bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Setiap malam, dia selalu meluangkan waktunya untuk membaca buku-buku tentang sains, melakukan eksperimen sederhana dan bertanya kepada gurunya tentang berbagai fenomena alam yang menarik minatnya. Keinginannya untuk memahami dunia di sekitarnya tidak pernah kandas dan mimpi terbesarnya adalah menjadi juara dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di tingkat Kabupaten Aceh Selatan. Arisqa menyadari bahwa untuk mencapai mimpinya, dia harus bekerja keras dan berlatih dengan tekun.  Dengan dukungan penuh dari orang tuanya yang selalu mengingatkannya di depan pintu gerbang sekolahnya, ayahnya berkata, “Nak teruslah berproses dan jangan lupa hormati gurumu”.    Dengan    bimbingan dari guru-guru di sekolahnya, Arisqa mempersiapkan diri dengan baik. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Arisqa selalu menyempat...

Media Dapat Mempengaruhi Kesehatan Mental

Oleh Ida Rayyani, Mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Saat ini kita hidup di era media sosial. Sosial media adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Masing-masing individu dipastikan memiliki akun pribadi di Facebook, Twitter, Path, Youtube, Soundclouds, dan lain-lain. Media sosial juga memudah pengguna memperoleh informasi dengan cepat, sebagai media promosi dalam bisnis, dan memudahkan dalam berkomunikasi   (mendekat yang jauh). Memang, berinteraksi di jejaring sosial menjadi hiburan tersendiri bagi kita di tengah rutinitas yang padat. Selain memiliki banyak manfaat media sosial juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan mental pengguna. menurut WHO kesehatan mental merupakan status kesejahteraan dimana setiap orang dapat menyadari secara sadar terkait kemampuan dirinya, kemudian dapat mengatasi berbag...