Langsung ke konten utama

Kuncinya Terlatih




Oleh Ahmad Rizali
Berdomisili di Depok

Intensitas aktivitas, apapun memang sangat tergantung dengan kebiasaan atau sering tidaknya atau frekuensi aktivitas. Ada guru yang entah guyon atau serius mengatakan, membaca artikel lebih dari 1 halaman membuat kepalanya puyeng. Jika itu fakta, maka saya menduga "hipotetically" memang wajar karena saluran saraf otak yang akan aktif saat membaca tidak terlatih. Saraf itu akan meregang dan kejang-kejang seperti otot kaki yang tak biasa jogging, dipaksa jogging.

Berbuat baik dan yang lebih khusus lagi, berprasangka baik juga mesti dilatih agar tidak "irritating" karena kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter itu wajib dimulai dengan aksi dan dilakukan dengan pembiasaan atau frekuensi aktivitas yang tertata dan dijalankan dengan disiplin. Sama juga dengan berbuat buruk. Kondisi terpaksa saja, jika sejak awal belum pernah mencuri, maka akan merasa "irritating" tak nyaman. Namun jika sudah terlatih alias sering dilakukan, maka perilaku buruk itu sudah nyaman dilakukan. 

Tuhan Maha baik, Dia memberi insentif pahala ketika manusia baru berniat berbuat baik. Ibarat punya rekening pahala, niat saja sudah akan ada pahala yang ditransferNya menjadi deposit. Dia tidak akan mencatat sebagai "transaksi" jika baru niat. Bahkan jika urusannya langsung denganNya seperti larangan tidak terkait manusia lain, maka sangat mudah di "write off". Jadi, Tuhan memang mendorong manusia memulai kebiasaan dan menuju ke karakter baik.

Jadi, ketika memulai sesuatu, apalagi belum pernah dilakukan sebelumnya, pasti akan timbul ketidaknyamanan. Fisik dan Psikis sama saja. Jika hal itu perilaku baik dan memberi efek ketidaknyamanan yang niscaya terjadi, maka jangan stop. Atur saja agar tidak cidera dan terus lakukan dengan konsisten hingga menjadi terbiasa. Alangkah dahsyatnya yang terjadi ketika manusia kecanduan bernalar sehat, berprasangka baik, tidak mencuri, menulis kalimat positif dlsb yang sejenis. 

Kuncinya adalah terlatih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...