Langsung ke konten utama

Ibu yang Cerdas di Era Global



Oleh: Tabrani Yunis 
Direktur CCDE Banda Aceh

Ibu yang cerdas. Ungkapan ini sudah sering kita dengar dalam setiap ceramah agama, pelatihan dan dalam banyak tulisan di media massa. Berbagai macam ungkapan itu bisa dibaca dan didengar di media massa maupun media orasi di podium dan sebagainya. Ungkapan tentang, ibu cerdas, anak pun cerdas.. Ibu cerdas keluarga ikut cerdas. akan melahirkan generasi yang cerdas, bahkan menjadi materi iklan-iklan produk yang cukup laku untuk dijual. Dalam konteks Negara, perempuan adalah tiang Negara. Perempuan juga sebagai tiang agama. Apakah makna dari semua ungkapan itu?

Semua ungkapan itu mengisyaratkan betapa pentingnya kaum ibu (perempuan) itu cerdas. Merujuk kepada tujuan pembangunan nasional, dan tujuan pendidikan nasional, kecerdasan ibu dan perempuan berkorelasi positif yang ingin mencerdaskan bangsa. Kunci untuk mencerdaskan bangsa ada di tangan ibu (perempuan). Oleh sebab itu maka sangat rasional kalau perempuan harus cerdas (smart). Ibu yang cerdas akan bisa memberikan pendidikan yang cerdas kepada anak-anak. Jadi, eksistensi perempuan atau ibu yang cerdas dalam keluarga berperan penting untuk menyiapkan masa depan anak-anak kita yang cerdas pula. Alasannya sangat realistis. Secara psychologis, tidak dapat terbantahkan bahwa ibu adalah sosok teladan anak yang paling dekat. Ibu adalah tempat anak-anak bertanya. Ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak. Ketika teori pendidikan menyebutkan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi anak, maka ketika kita masuk dalam lembaga keluarga, ibulah yang menjadi guru pertama dan utama bagi anak. Apapun yang ingin dipelajari oleh anak, maka nara sumber dan fasilitator pertama dan utama adalah ibu itu sendiri. Suara ibu adalah suara yang sangat didengar oleh anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan phisik dan psykologis. Walau sebenarnya dalam keluarga ada sang Bapak atau ayah, namun hubungan anak yang paling dekat adalah ibu.

Sebuah pengalaman yang tidak bisa kita lupakan terkait dengan pertanyaan anak kepada ibu. Sebuah pertanyaan sensitive yang sering tidak diberikan jawaban oleh ibu, karena factor kurangnya kecerdasan ibu. Ingatkah pembaca ketika kecil, kita sering bertanya kepada ibu. Bu’ dari mana datangnya adik ?”. sang ibu sering menjawab dengan jawaban “ jatuh dari pesawat”, atau juga jatuh dari langit” Kita pun terdiam setelah mendapatkan jawaban itu dan tidak lagi bertanya. Anehnya ketika sang anak semakin bertanya dan bertanya, karena keterbatasan pengetahuan ibu, maka ibu mencari alternatif agar anak tidak lagi bertanya. Biasanya dilakukan dengan menyuruh anak bermain dan ibu memberikan sedikit uang jajan.Ujungnya, anak tidak mendapatkan jawaban yang ingin diperolehnya, tetapi sebuah kesalahan yang dilakukan ibu untuk menutupi kelemahan ibu sendiri. Semua ini, kini sudah ketinggalan zaman dan tak perlu kita lakukan.

Kini Era Global, bu

Kini era globaliasi. Sebuah era dimana tatanan kehidupan manusia yang semakin dekat tanpa batas atau sekat Negara (borderless) untuk menyampaikan informasi, produk dan gaya hidup. Globalisasi yang dirancang oleh Negara-negara maju lewat produk teknologi yang canggih, telah membuat jarak antar negera, bangsa, produk dan lain-lain semakin dekat. Semua berbau sangat kapitalis, internasionalisasi, liberalisasi dan sebagainya yang sangat kompetitif. Tentu saja, interaktif sosial, budaya dan agama semakin cepat terjadi. Oleh sebab itu di era globalisasi sekarang ini, perubahan gaya hidup, moralitas dan mentalitas suatu bangsa berubah secara cepat, tergantung pada pengaruh kekuatan suatu budaya, produk yang dipromosi dan diusung oleh sebuah Negara maju. Di era global seperti sekarang setiap Negara maju maupun yang sedang berkembang bersaing ketat menjual produk budaya, agama, politik, social dan segalanya. Akibatnya gaya hidup kebanyakan bangsa pun mengikuti arus global.

Nah, ketika gaya hidup semakin global, maka terjadi perubahan nilai, norma, moralitas , mentalitas dan kearifan lokal yang kita miliki. Ketika dunia semakin global, maka moralitas dan mentalitas kita juga menjadi semakin global tantangannya. Kita cendrung meninggalkan nilai moral yang kita miliki dan mengadopsi segala hal yang baru dengan tanpa menggunakan filter untuk memilih. Ini semua menjadi tantangan dalam membangun manusia Indonesia sebagaiamana yang kita cita-citakan ketika Negara ini diproklamirkan.

Bagi ibu-ibu dan para perempuan, globalisasi membaca konsekwensi tersendiri. Derasnya arus globalisasi yang kini telah masuk, menusuk ruang makan, ruang tidur dan bahkan ruang hati kita, harus bisa disikapi oleh perempuan secara cerdas. Risiko yang dihadapioleh kaum yang mengalami tindak diskriminasi selama berabad-abad, yang memposisikan perempuan pada posisi yang lemah dan melemahkan, membuat daya saing perempuan rendah. Sehingga posisi perempuan di ruang publik juga akan semakin sempit. Padahal, ketika era global yang didorong oleh kemajuan ilmu dan teknologi canggih ini, kesiapan perempuan menghadapi perubahan gaya hidup bangsa semakin dibutuhkan, bukan hanya karena factor kedekatan perempuan dengan anak sebagai genarasi baru, tetapi menyiapkan perempuan mampu bersaing agar tidak terlindas dan tertindas oleh arus budaya global.

Dalam perjalanan sejarah globalisasi, membuktikan banyak perempuan yang menjadi korban dari globalisasi. Perempuan banyak yang menjadi budak globalisasi, karena produk-produk global ikut mempengaruhi gaya hidup perempuan yang semakin konsumtif di tengah kelemahan sector ekonomi perempuan. Globalisasi banyak menyeret perempuan dan generasi muda dalam budaya global yang menindas. Kita memang jarang menyadarinya.

Oleh sebab itu, agar perempuan tidak kalah bersaing mendapatkan posisi yang layak dalam tata kehidupan modern, perempuan harus mau berbenah, belajar meningkatkan pengetahuan, ketrampilan serta sikap kreatif, inovatif dan kompetitif. Perempuan tidak boleh lagi malas membaca, malas belajar. Perempuan harus belajar, mengejar ketertinggalan dan juga untuk menjadi kuat agar perempuan menjadi ini kuat dan mandiri serta berkembang. Maka, teruslah belajar dan produktif dengan apa yang dipelajari. Sehingga mampu mengatasi perubahan global yang terus mengintai. Selamat Hari Ibu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Mimpi Besar Arisqa Rinaldi Terwujud dalam Usaha dan Doanya

Arisqa murid kelas 5 SDN 2 Kandang, Kecamatan Kleut Selatan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada ilmu pengetahuan, yaitu di bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Setiap malam, dia selalu meluangkan waktunya untuk membaca buku-buku tentang sains, melakukan eksperimen sederhana dan bertanya kepada gurunya tentang berbagai fenomena alam yang menarik minatnya. Keinginannya untuk memahami dunia di sekitarnya tidak pernah kandas dan mimpi terbesarnya adalah menjadi juara dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di tingkat Kabupaten Aceh Selatan. Arisqa menyadari bahwa untuk mencapai mimpinya, dia harus bekerja keras dan berlatih dengan tekun.  Dengan dukungan penuh dari orang tuanya yang selalu mengingatkannya di depan pintu gerbang sekolahnya, ayahnya berkata, “Nak teruslah berproses dan jangan lupa hormati gurumu”.    Dengan    bimbingan dari guru-guru di sekolahnya, Arisqa mempersiapkan diri dengan baik. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Arisqa selalu menyempat...

Media Dapat Mempengaruhi Kesehatan Mental

Oleh Ida Rayyani, Mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Saat ini kita hidup di era media sosial. Sosial media adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Masing-masing individu dipastikan memiliki akun pribadi di Facebook, Twitter, Path, Youtube, Soundclouds, dan lain-lain. Media sosial juga memudah pengguna memperoleh informasi dengan cepat, sebagai media promosi dalam bisnis, dan memudahkan dalam berkomunikasi   (mendekat yang jauh). Memang, berinteraksi di jejaring sosial menjadi hiburan tersendiri bagi kita di tengah rutinitas yang padat. Selain memiliki banyak manfaat media sosial juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan mental pengguna. menurut WHO kesehatan mental merupakan status kesejahteraan dimana setiap orang dapat menyadari secara sadar terkait kemampuan dirinya, kemudian dapat mengatasi berbag...