Langsung ke konten utama

MRI Bireuen – ACT Aceh Gelar Baksos Kesehatan


Bireuen – Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Bireuen – Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh menggelar bakti sosial (baksos) di Gampong Pante Karya, Dusun Leubok Seutui, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, Jumat (21/6).
Kabid Program MRI Bireuen Sarah Savana mengatakan, kegiatan baksos berupa cek kesehatan gratis, penyuluhan hidup bersih dan sehat, game pendidikan bagi anak-anak, penyuluhan tentang penyakit yang tidak menular seperti diabetes melitus, kolesterol, tekanan darah tinggi, dan asam urat. Kemudian Penyuluhan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) difokuskan untuk anak-anak. 
“Kegiatan ini terbuka untuk umum. Apapun yang kita laksanakan merupakan upaya kita berbakti kepada masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan baksos yang dilaksanakan di meunasah setempat berlangsung lancar dan disambut penuh antusias oleh masyarakat. Acara yang dilaksanakan usai salat Jumat hingga pukul 17.45 WIB itu turut dibantu oleh aparatur gampong.  
Ia menuturkan, menurut informasi masyarakat, mereka sangat jarang melakukan cek kesehatan maupun berobat ke dokter. Hal ini dikarenakan jarak lokasi desa yang tergolong terpencil dan jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan. “Bila sakit mereka lebih memilih mengonsumsi obat kampung,” paparnya.
Diharapkan kegiatan baksos ini terus berlajut menjadi agenda rutinan setiap tiga bulan sekali. Melalui kegiatan baksos masyarakat semakin peduli betapa pentingnya pola hidup sehat. “Kesehatan sangat memengaruhi kelancaran dalam mencari rezeki, beribadah kepada Allah, serta terhindari dari hal lain yang tidak diinginkan,” sambungnya.


Virus-free. www.avast.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...