Langsung ke konten utama

Anjungan Aceh Peduli Lingkungan


Guna mengantisipasi epidemi penyakit menular dan faktor yang mempengaruhi penyebarannya seperti virus Corona ( Covid-19 ), Anjungan Pemerintah Aceh bekerjasama dengan Taman Burung melakukan Fogging / pengasapan dan penyemprotan cairan Desinfektan di lingkungan kerja Anjungan Pemerintah Aceh, TMII Jakarta, Kamis ( 19 /3/ 2020 ).
Aktifitas ini dilakukan seiring dengan Intruksi PLT Gubernur Aceh, kepada ASN Pemerintah Aceh yang bekerja di Badan Penghubung Pemerintah Aceh ( BPPA ) untuk melakukan Work From Home( WFH ) sejak 17 - 31 Maret 2020, Intruksi PLT Gubernur juga mengimbau agar semua ASN Pemerintah Aceh di Anjungan Aceh, TMII Jakarta untuk membatalkan berbagai kegiatan keramaian yang selama ini di laksanakan sampai batas waktu yang kondusif.
Sesuai dengan Intruksi PLT Gubernur Aceh, tanggal 17 Maret 2020, Kepala Badan Penghubung Aceh, Almuniza Kamal SSTP, MSi, mengarahkan agar semua ASN Aceh yang bekerja di Anjungan Aceh, TMII untuk tetap merasa aman dan nyaman dalam melakukan tugas di rumah dan tanpa rasa cemas untuk ASN yang bertugas piket jaga di lokasi kerja.
Menyikapi arahan Kepala Badan Penghubung dan dalam rangka strelisasi lingkungan kerja, serta untuk mencegah penyebaran virus dan berbagai penyakit lainnya, telah di lakukan Fogging ( pengasapan ) dan penyemprotan Desinfektan di Anjungan Aceh, yang kedua kegiatan ini sangat berguna.

Fogging yang dilakukan focus ke Desinfektan dengan kandungan yang di pakai antaralain dengan kandunganberbasis klorin, untuk mematikan mikro organisme kontaminan seperti          virus  dan  bakteri, serta aman untuk manusia dan     hewan.

Fogging dan penyemprotan di lakukan selama 2 jam menyeluruh kepada semua lokasi ruang terbuka dan tertutup ( Kantor ) Anjungan Aceh seluas 6.552 m2.
Kata bijak, menyatakan “ Sabun dan Air, dan akal sehat adalah Desinfektan terbaik”.
serta Fogging dan penyemprotanpun solusi yang bijaksana untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih, aman dan sehat.
Aksi peduli lingkungan yang di lakukan oleh Manajemen Anjungan Aceh ini adalah aksi ke empat setelah Anjungan Riau, Jawa Timur dan Bali untuk melakukan hal yang sama dalam rangka peduli lingkungan dan upaya sehat bersama 34 Anjungan pemerintah se- indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...