Langsung ke konten utama

Ketika Orang Tua Menganggap Mendidik Anak Bukan Lagi Urusan Mereka


Dok. Majalah Anak Cerdas


Bagian ke-2  dari 3 Tulisan 


 Oleh Hasbi Yusuf

Saya tidak akan melanjutkan pembahasan penggunaan media menjadi topik yang berwacana, karena perkembangan di lapangan tentu banyak ahlinya, meskipun lebih banyak lagi yang masih gagap teknologinya. Malah ada yang sama sekali belum pernah mendengarnya, apalagi berhadapan dan mengoperasikannya. Lalu bagaimana sikap dan tindakan kita ke depannya? Tentu saja jawabannya adalah tidak usah terlalu panik dan tergesa-gesa. Marilah mulai merenung dan introspeksi yang mungkin untuk mulai memperbaikinya.  

Pendidikan anak harus kembali ke khittahnya. Boleh pendidikan umum, apalagi pendidikan agama.  Untuk merawat anak utamakan peran orang tua, selebihnya baru oleh pembantunya. Untuk membangun fondasi dasar pendidikan anak, bukan langsung diserahkan ke gurunya, melainkan oleh ayahanda, dan terutama ibundanya. 

Jika penghasilan suami sudah mencukupi kebutuhan keluarga, maka sebaiknya ibunda tetap tinggal di rumah menjadi perisai keluarga. Agar kita tidak kecewa dengan sikap dan perilaku anak saat remaja dan ke depannya. Tanamkan kepercayaan dan akhlakul karimah sesuai petunjuk Allah Swt. Orang tua harus menyadari bahwa fondasi pendidikan unggul ada di dalam keluarga. Orang tua tidak perlu over dosis dalam menaruh harapan pada anak mesti harus juara. Padahal berapa banyak anak frustrasi akibat gengsi orang tuanya.  Janganlah terlalu berambisi untuk memaksa anak harus sesuai dengan yang ada pada keinginan orang tuanya. Anak kecil tidak perlu dipaksa harus menguasai seluruh pelajaran secara tergesa-gesa, tunggulah ada masa pekanya. 

Yang menjadi tugas utama orang tua adalah membuka jalan kepada anak agar lebih tertarik kepada pendidikan agama, tetapi jika mendapat tantangan berat, maka ikuti minat dan bakat anaknya. Kegagalan seorang anak jangan langsung menyalahkan gurunya, tetapi cobalah teliti kembali adakah fondasi dan lanjutan pendidikan anak yang terlalu kita rekayasa. Dalam memilih lanjutan pendidikan anak jangan hanya melulu melihat jumlah orang tua yang berbondong-bondong mendaftar anaknya ke suatu sekolah, tapi periksa platform kurikulum dan visi dan misi sekolahnya. Keberlangsungan mutu suatu sekolah sangat dipengaruhi oleh sosok yang sedang memimpinnya, maka walau suatu sekolah selama ini sudah meraih mutu tinggi, namun dapat sirna bila dipimpin oleh kepala sekolah yang rendak kreatifitasnya. 

Guru-guru yang profesional sangat berpengaruh kepada mutu siswanya. Guru wajib berusaha semaksimal mungkin agar muridnya menguasai pelajaran yang diasuhnya, namun jangah terlalu beropsesi agar seluruh muridnya mesti ikut jejaknya. Setiap guru mata pelajaran harus menguasai ilmu dan keterampilan menyangkut bakat minat muridnya. Sering sekali kita jumpai siswa dan orang tuanya frustrasi akibat setiap pulang sekolah anak membawa tugas Pekerjaan Rumah (PR) yang begitu berjubel dari setiap gurunya, sehingga membuat suasana keluarga kacau balau karenanya. 

Seorang kepala sekolah yang berwawasan sempit, cenderung menjadi otoriter terhadap guru dan apalagi kepada murid. Suasana ini mempengaruhi kepada seluruh stakeholder sekolah, dan berimplikasi langsung kepada mutu pendidikan keseluruhannya. Dalam masa belajar secara daring ini kepala sekolah harus melakukan refocusing penggunaan anggaran menyesuaikan petunjuk untuk memperlancar proses pembelajaran secara daring. Dalam masa belajar secara daring ini guru bersama kepala sekolah harus lebih mengoptimalkan sarana dan prasarana pendukung pendidikan dalam rangka membantu pemahaman dan penghayatan siswa dalam mata pelajaran yang dipelajarinya. Dalam masa belajar secara daring ini betul-betul diperlukan kerjasama antara guru yang membimbing dalam jarak jauh dengan orang tua yang mendampingi lansung di tempat belajar, sehingga terjalin komunikasi yang efektif dan bermakna bagi kepentingan anak. 

Tugas pemerintah untuk pembayaran tunjangan sertifikasi guru lebih teratur dan terarah sesuai kriteria yang lebih merangsang semangat pengabdian guru.    Pemberian tunjangan sertifikasi guru jangan berorientasi hanya untuk perbaikan nasib guru, tetapi harus menjadi pemicu sekaligus pemacu semangat balajar mengajar yang ada yang bermuara kepada peningkatan mutu pendidikan secara lebih signifikan dan melahirkan lulusan yang mampu bersanding dengan lulusan dari negara lain, malah jika mungkin haruslah lebih unggul harapan kita.  

Belajar di masa pandemi dengan cara daring memerlukan perjuangan ekstra keras dan penyesuaian diri yang optimal bagi semua pihak. Murid harus segera meninggalkan sifat manja dan malasnya yang selama ini menjangkiti mereka. Murid harus berusaha sejak masa belajar merencanakan dan membangun masa depan sesuai harapan dan bakat minatnya. Orang tua terutama ibu harus meninggalkan egonya selama ini sibuk mengejar karir di luar sana. Dampingilah anak Anda semaksimal mungkin dalam mengikuti pembelajaran secara daring yang kita belum tahu apakah untuk sementara atau mungkin juga untuk waktu yang lebih lama, atau mungkin juga akan permanen seterusnya. 

Peran pemerintah mesti serius mendukung sarana dan prasarana pembelajaran secara daring seperti jaringan listrik, telekomunikasi dan transportasi serta dukungan kuota belajar mengajar secara daring harus tulus dan serius dilakukan.  Pemerintah dan stakeholderpendidikan harus sudah memetakan tingkat kemampuan guru dan murid dalam mengusai penggunaan gadgetuntuk belajar, dan jika ada yang kesulitan harus ada solusi kedaruratan. Untuk tahap awal pemerintah harus bekerja sama dengan layanan seluler yang ada, namun harus segera mampu secara dana dan penguasaan teknologi dan sumberdaya dalam rangka membangun sendiri untuk tujuan penyiapan nasib generasi dan masa depan bangsa. Stakeholderpendidikan harus menyeleksi dan merekomendasi jenis layanan aplikasi yang boleh dan unggul serta tak boleh digunakan dalam PBM siswa.

Bagi orang tua yang mampu segera mempersiapkan diri mambantu anaknya termasuk memanggil guru privat ke rumahnya untuk mata pelajaran inti saja. Bagi orang tua yang kurang mampu maka solusinya undanglah guru dengan cara berpatungan dengan orang tua yang sedesa atau berdekatan desa untuk belajar dalam kelompok kecil saja. Untuk semua orang tua berusahalah mengundang ustadz mengajarkan baca Al-Quran dan menghafalnya, semoga sekitar dua tahun ke depan kita akan menyaksikan sungguh banyak hafizd dan hafidzah yang ada di sekitar kita. Semoga negeri ini menjadi makmur karenanya, dan insya Allah akan Allah jauhkan Virus Corona dan musibah lainnya dari kita.

Allah Swt berfirman  dalam al-QuranSurat Muhammad (47) ayat 7:

Artinya : “Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong agama Allah , niscaya Dia menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...