Langsung ke konten utama

Gampong Merduati Lakukan Pelatihan Pembinaan Lembaga Kemasyarakat Adat Perkawinan





Banda Aceh - potretonline.com, 25/02/21 Gampong (Desa) Meurduati menyelenggarakan Pelatihan Pembinaan Lembaga Kemasyarakatan Adat Perkawinan Aceh pada Senin (22/03/2021) di Kantor Keuchik Merduati Kecamatan Kuta Raja.

Pelatihan tersebut diisi oleh Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh melalui Bidang Pembinaan Benda Pusaka/Khazanah Adat.

Keuchik Gampong Merduati, Muchtar mengatakan pelatihan tersebut diikuti oleh 16 peserta terdiri dari tokoh-tokoh gampong tersebut.

"Ini pesertanya kita pilih tokoh masyarakat yang sudah kita jadikan satu tim, mulai dari unsur tuha peut, unsur PKK, unsur ule jurong, dan imum gampong, yang hadir ini memang tokoh-tokoh tertentu agar masalah adat ini disebarkan lewat kegiatan kemasyarakatan ainnya," kata Muchtar.

Muchtar mengatakan, pelatihan pembinaan lembaga kemasyarakatan adat perkawinan tersebut merupakan kegiatan yang harus diprioritaskan karena menyangkut kegiatan kerja hidup dan mati.

"Di Merduati adatnya macam-macam, nanti masalah adat ini akan kita dorong untuk mendampingi pelaksanaan kegiataan agama, sehingga menjadi contoh bagi anak-anak kita kedepannya," kata Muchtar.

Muchtar berharap, MAA Kota Banda Aceh bisa membagi pengetahuan dengan tim yang sudah dibangun, sehingga tim ini dapat membangun sebuah tim yang kuat untuk memberi pelayanan tentang informasi adat yang cukup untuk masyarakat.

Dalam materinya, Kepala Bidang Pembinaan Benda Pusaka/Khazanah Adat, Abdul Hamid Husen mengatakan pada pelatihan tersebut pihaknya tidak hanya memberi materi tetapi juga dibarengi dengan praktek.

"Kita memberi materi mulai dari proses cah roet, seulangke, ranub koeng haba, sampai pada nanti keputusan dari pihak linto baro untuk meminang," kata Hamid.

Hamit berharap agar masyarakat kembali mengangkat adat istiadat yang sudah ada jangan sampai mempermainkan adat. 

"Masyarakat jangan mempermainkan adat maksudnya begini linto baro tidak boleh dihadirkan pada saat acara pertunangan karena itu bukan adat Aceh, jangankan linto baro orang tuanya saja tidak dihadirkan itu karena sudah dikirimkan utusan dari gampong linto baronya," harap Hamid.(Rid/Hz)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Kehendak-Nya

Oleh Sitti Zahara Tarmizi Siswi SMA Negeri 1 Ule Glee, Pidie Jaya Tetesan embun menyerbu bumi Memaksa sang awan menangis Butiran-butiran bening menari Senyuman mentari menghilang  Langit gelap Perlahan-lahan menutupi bumi Suara sang katak mulai terdengar Mereka terisak Genangan air menghanyutkannya Mereka tenggelam Tak dapat diselamatkan Semua terdiam Tak ada bisikan Itulah kehendak-Nya