Langsung ke konten utama

PUISI-PUISI ALI HAMZAH



SURAT UNTUK DUA DARA SATU AGAM

(Untuk Tiga Buah Hati)

 

Kurebahkan sukma dengan balutan jasad yang mulai renta

langkah kaki tak lagi seimbang

tangan tak lagi kuat menjangkau asa

hanya tinggal sukma yang kian meronta

akankah sampai kutitipkan Sembahku kepadamu anak-anakku

 

Sejauh mata memandang

langit tak lagi biru

mawar tak lagi ranum

bulan tak lagi purnama

bintang-bintang tak lagi bersinar

bahkan matahari pun tak lagi bercahaya

akankah sampai kuulurkan sajadah kepadamu anak-anakku

agar kau tadahkan tangan

untuk lafatkan

Allahumma firlana

untukku

Secercah warta menggores tajam

telinga mendengar

alunan ombak tak lagi syahdu

kicau camar tak lagi merdu

desiran angin tak lagi sejuk

desauan dedaunan tak lagi menenteramkan pipit

lantunan nina bobok bulan tak lagi menidurkan bintang

akankah sampai warkahku  untukmu anak-anakku

agar kau tahu

siapa yang kau sembah

agar kau paham

arti hidup dan kehidupan

 

Sementara,

rindu mulai mendera

sepi mulai mengangkasa

risau mulai meracau

galau mulai menghimbau

 

Dalam sunyi aku sendiri

menangkap sepi di pucuk hidung sendiri

sukma merana memandang asa yang terperangkap dalam siksa

akankah engkau anak-anakku dua dara satu agam

mampu mengeja sepi memuji Ilahi

agar aku nanti tak sendiri 

dalam sepi                           

Manggeng, 8 April 2020


ENTAHLAH

 

Aku 

di sini

asyik menimang-nimang sepi

matahari terus berlari

mennggalkan bebukitan

 

Entah apa

yang melenakan kalbu

hingga aku hanya bermimpi menyunting bulan

dengan mahar bayangan semu.

Entahlah.

Lhang, 9 April 2021


 

MENGEJA  LANGKAH

Kalbuku

patah dan jatuh ke tanah kerontang

tak berpenghuni

 

kalbuku

tenggelam dan hanyut ke lautan

tak bertuan agung

 

Sunyiku

mengeja  langkah kemarin

 

: ke mana semangat akan kusandarkan

 Tuhan!

Ujung Serangga, 12 April 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIODATA

Assalamualaikum warahmatullahi warakatuh.

Saya bernama Ali Hamzah dengan nama Pena Hamzah Zaiby, dilahirkan di sebuah desa kecil dan terpencil, yaitu Desa Pasi Merapat, Kecamatan Kandang, Kabupaten Aceh Selatan bertepatan tanggal 31 Desember 1968, buah cinta dari (Alm) Zainuddin dan (Alm) Salbiyah. Putra bungsu dari 6 bersaudara ini mulai berkiprah di dunia sastra, terutama menulis puisi sejak  tahun 1990, tapatnya masa-masa kuliah   di FKIP Unsyiah  yang sekarang USK Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.

Kini terus menulis dan menulis. Karya-karya yang dimuat di media massa, seperti di Serambi Indonesia, Atjeh Post, Warta Unsyiah, Swadesi, Waspada, dan Majalah Kiprah, dan lain-lain.

Sekarang aktif sebagai guru , tepatnya sebagai Guru SMA Negeri 8 Aceh Barat Daya, dan sebagai dosen terbang di beberapa perguruan tinggi di Kabuapaten  Aceh Barat Daya.

Demikian biodata singkat saya dan terima kasih atas segalanya.

Manggeng, 27 Juni 2021

Penulis,


Ali Hamzah 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...