Langsung ke konten utama

Jadikan Sampah Lebih Bernilai dengan Sistem WCP




*Bisa Ditukar dengan Uang atau Sembako


Banda Aceh - Potretonline.com, 21/09/21. Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh mengajak warga kota untuk melakukan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.

Kepala DLHK3 Banda Aceh Hamdani Basyah SH mengatakan, dengan adanya pemilahan sampah sistem Waste Collecting Point (WCP), sampah akan memiliki nilai ekonomi.

"Jadi ayo lakukan pemilahan sehingga sampah bisa jadi lebih bernilai," ajak Hamdani, Senin (20/9/2021).


Ia menegaskan, program pemilihan sampah ini merupakan upaya pemerintah dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA. Diharapkan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah dapat mewujudkan Kota Banda Aceh bebas sampah pada tahun 2025 seperti arahan Wali Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman, SE.Ak, MM serta sesuai amanat dari Pemerintah Pusat melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2017 yang mewajibkan semua daerah bebas sampah pada 2025 mendatang.


Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Asnawi Z, ST, M.Si menjelaskan, terkait sistem pengelolaan sampah sistem WCP yaitu dengan memilah sampah dari sumbernya yakni dari rumah masing-masing sesuai jenisnya, lalu dikumpulkan di depo WCP yang telah disediakan.

Di Banda Aceh katanya, saat ini telah memiliki 30 titik depo WCP dari 16 di Kota Banda Aceh. Masing-masing depo WCP diketuai oleh warga yang dipilih dan menjangkau sebanyak 20-25 rumah.


Setelah terkumpul, petugas dari DLHK3 Banda Aceh akan mengambil sampah-sampah daur ulang yang telah terpilah di depo WCP secara rutin, kemudian dibeli sesuai dengan harga pasar.

“Sistem pengambilannya, seminggu sekali tim kami akan datang sesuai jadwal yang sudah ditetapkan. Di sanalah kita melakukan penimbangan, pencatatan lalu pengangkutan,” jelasnya.(Ah/Hz)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Kehendak-Nya

Oleh Sitti Zahara Tarmizi Siswi SMA Negeri 1 Ule Glee, Pidie Jaya Tetesan embun menyerbu bumi Memaksa sang awan menangis Butiran-butiran bening menari Senyuman mentari menghilang  Langit gelap Perlahan-lahan menutupi bumi Suara sang katak mulai terdengar Mereka terisak Genangan air menghanyutkannya Mereka tenggelam Tak dapat diselamatkan Semua terdiam Tak ada bisikan Itulah kehendak-Nya