Langsung ke konten utama

MENCARI PERMATA DI LEUBOK PUSAKA



(Catatan Perjalanan ke Sekolah Terpencil)

Oleh Baihaki
Berdomisili di Banda Aceh
Selama ini saya hanya mendengar dari cerita sohibku Khaidir Rasyid, guru yang bertugas di SMP Negeri 5 Langkahan, sekolah terpencil yang berada dalam kawasan Kabupaten Aceh Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Bener Meriah.

Sebelum menuju ke Kabupaten Aceh Tamiang dalam rangka kegiatan Hari Aksara Internasional (HAI) tingkat Provinsi Aceh tanggal 22 Oktober 2019 esoknya. Shubuh itu, saya turun dari bus di terminal Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara. Rasa penasaran saya dimana lokasi SMP Negeri 5 Langkahan itu terpenuhi. Tepat pukul 08.00 WIB  pagi, saya bersama Khaidir Rasyid dengan mengendarai Motor Yamaha MX dari Panton Labu langsung menuju Langkahan.



Cuaca mendung diiringi hujan rintik tak menjadi halangan untuk menembus jalan terjal bebatuan yang sebagiannya dikelilingi hutan. Akhirnya, perjalanan 40 Km dengan jarak tempuh dua jam perjalanan sampai juga ke SMP Negeri 5 Langkahan. SMP Negeri 5 Langkahan berada di Gampong Leubok Pusaka. Tak terduga, ternyata jarak SMP tersebut sekitaran 30 meter, ada SMA Negeri 2 Langkahan. Baik SD, SMP dan SMA di sana masuk dalam sekolah terpencil yang menerima tunjangan khusus dari pemerintah.



Namun, khusus untuk SMA Negeri 2 Langkahan tidak masuk dalam kategori sekolah 3 T (Terpencil, Terdepan dan Terluar) yang tidak menerima tunjangan khusus dari pemerintah pusat. Semoga pemerintah memberikan khusus terhadap SMA tersebut.

Saya salut dengan kehadiran guru-guru di SMP Negeri 5 dan SMA Negeri 2 Langkahan yang setiap hari hadir ke sekolah, sekalipun berada di daerah terpencil. Kebanyakan guru-guru di sana yang berasal dari luar Kab.Aceh Utara, memilih untuk berdomisili sekitaran Langkahan.

Menariknya, siswa yang bersekolah di sana sangat majemuk. Siswa-siswinya menggunakan Bahasa Aceh, Gayo, Alas, Singkil dan Bahasa Jawa. Semangat belajar mereka luar biasa sekalipun berada di pedalaman Kabupaten Aceh Utara.

Permata di Leubok Pusaka telah kutemui. Para pelajar di pelosok negeri ini memiliki prestasi, guru-guru profesional sudah ditempatkan oleh Dinas Pendidikan Aceh Utara pada jenjang Dikdas dan Dinas Pendidikan Aceh pun telah menempatkan enam guru baru berstatus PNS jenjang Dikmen.



Hadirnya guru-guru muda di Langkahan, apalagi Sekretaris IGI Kabupaten Aceh Utara, Khaidir Rasyid, harus mampu menggelorakan semangat literasi di SMPN 5 Langkahan, demikian juga halnya dengan beberapa orang guru di SMAN 2 Langkahan mantan aktivis BEM FKIP Unsyiah.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...