Langsung ke konten utama

Belajar Memahami Anak

 
Oleh Linda Mustika Hartiwi SE
Berdomisili di Genteng – Banyuwangi, Jawa Timur

Sudah seringkali diberitakan, baik di media elektronik atau media cetak tentang kasus kekerasan atau penganiayaan terhadap anak-anak. Misalnya ketika ada berita tentang seorang anak berumur 7 tahun yang meninggal dunia akibat dihajar oleh bapaknya gara-gara berebut kaos dengan kakaknya. Ada berita tentang penyekapan seorang anak berumur 14 tahun oleh orang tuanya hingga menyebabkan si anak meninggal dunia, hanya gara-gara si anak membolos sekolah dengan alasan ingin bermain ke pantai bersama teman-temannya. Ada juga berita tentang seorang anak yang dibakar oleh ibunya sendiri karena tidak mau menurut keinginan orang tua. Kisah terbaru tentang kekerasan atau penganiayaan yang terjadi pada anak hingga mengakibatkan kematian adalah kasus yang menimpa Engeline, bocah manis berusia 8 tahun, yang harus meregang nyawa di tangan orang tua asuhnya.

Prihatin, itu yang dirasakan saat melihat apa yang telah dilakukan oleh para orang tua seperti kisah yang terjadi di atas. Peristiwa yang terjadi menimpa anak yang mungkin karena luapan emosi dari orang tua yang tinggi dan tidak tertahankan saat melihat sikap anak yang menurutnya tidak patut dilakukan, tanpa melihat dan mendengarkan alasan dari anak tentang apa yang dilakukan oleh anak. Kisah di atas hanya sebagian kecil kisah penyiksaan anak yang diangkat menjadi berita. Tentunya masih banyak kasus serupa yang terjadi menimpa anak dan tidak dipublikasikan. Satu pertanyaan yang timbul atas kasus penganiayaan terhadap anak ini, mengapa orang tua sampai tega melakukan penganiayaan kepada anak?

Anak sebagai bagian dari sebuah keluarga, seyogyanya mendapatkan perlakuan yang baik dari orang tuanya untuk mendapatkan suasana yang nyaman dan tenang dalam kehidupannya. Adalah hak seorang anak untuk mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari orang tuanya, selain hak untuk mendapatkan perawatan saat menderita sakit atau hak untuk didengarkan pendapatnya. Bukan sebaliknya, saat terjadi seorang anak lebih banyak dibentak atau dimarahi ketika apa yang dilakukan atau diucapkan dianggap tidak patuh atau melanggar ketentuan yang telah ditetapkan oleh orang tua. Sangat diperlukan sebuah pemahaman dari orang tua terhadap anak tentang perbuatan dan tutur kata anak seiring pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik atau kejiwaannya.

Seringkali terjadi sikap arogan orang tua terhadap anak dalam pola pengasuhan yang dijalankan. Anak dituntut untuk mematuhi dan menaati semua ketentuan yang telah dibuat oleh orang tua. Saat anak sedikit saja melakukan kesalahan yang tanpa disadari atau sadar dilakukan dengan alasan yang dimiliki anak, orang tua sangat sulit untuk bisa memaklumi dan memaafkan kesalahan anak. Sebagai akibatnya akan timbul bentuk hukuman dari orang tua yang dijatuhkan kepada anak dan fatalnya hukuman itu kebanyakan berupa penyiksaan fisik terhadap anak seperti menjewer telinga anak, mencubit bagian tubuh anak juga memukul bagian tubuh anak dengan emosi yang menguasai diri. Apa yang dilakukan tersebut dengan harapan agar anak merasa jera dan tidak mengulangi kesalahan yang dilakukannya.

Sebenarnya mengingatkan kesalahan anak atau menghukum anak tidak harus dengan melakukan penyiksaan kepada anak. Jangankan melakukan penyiksaan, membentak kepada anak pun sebenarnya sangat disarankan untuk tidak dilakukan, karena akan membuat anak merasa takut dan lambat laun akan membuat anak menjadi trauma. Sehingga sangat membahayakan bagi perkembangan jiwa anak. Mungkin lebih baik untuk memberitahu anak dan memberikan pengertian tentang kesalahan yang telah dilakukannya. Tentu tidak cukup sampai di situ, tetapi sebaliknya juga memberi kesempatan anak untuk mengemukakan alasan atau pendapatnya atas apa yang telah dilakukan yang menurut orang tua itu merupakan sebuah kesalahan. Tidak hanya mendoktrin anak untuk selalu menurut kepada orang tua, tetapi juga melihat apa yang telah terjadi menimpa anak dan belajar memahami perilaku serta tutur kata anak.

Kasus-kasus sepele yang terjadi menimpa anak seperti sulit untuk belajar, tidak mau mengerjakan apa yang diperintahkan oleh orang tua, sering bertengkar dengan saudara dan teman, atau terlibat pergaulan yang kurang baik di luar rumah sebenarnya tidak perlu diselesaikan dengan melakukan tindakan kekerasan fisik kepada anak. Hal itu tidak akan secara cepat menghentikan kelakuan anak atau membuat jera, tetapi akan membuat anak tersiksa batin dan raganya. Dalam jangka waktu tertentu anak akan trauma karena merasakan jiwa yang tersiksa dan merasakan kesakitan karena mengalami penyiksaan fisik. Bahkan dalam kasus tertentu karena emosi orang tua yang berlebihan saat melakukan penyiksaan kepada anak akan mengakibatkan kematian anak. Akhirnya hanya penyesalan yang tersisa dan tiada guna dari orang tua karena anak telah pergi untuk selama-lamanya akibat kebrutalan emosi yang telah dilakukan orang tua kepada anak, seperti kisah yang telah disampaikan di atas.

Lebih arif untuk melakukan pendekatan yang baik kepada anak saat menegur atas apa yang telah dilakukannya yang menurut orang tua merupakan sebuah kesalahan. Menanyakan kepada anak, mengapa ia melakukan kesalahan dan belajar untuk sabar mendengarkan alasan yang disampaikan anak. Kalau masalah sudah jelas, perlahan menasehatinya dengan penuh kasih sayang. Keributan atau kesalahan yang dilakukan anak tidak harus ditegur dengan melakukan tindakan kekerasan kepada anak. Dibutuhkan pengertian dan pemahaman yang tinggi akan keberadaan seorang anak serta pelimpahan kasih sayang yang tulus dari orang tua dalam mengasuh, merawat dan membimbing anak. Tidak kalah pentingnya juga adalah sikap orang tua untuk selalu menjaga komunikasi yang baik dengan anak. Sehingga kehidupan akan berjalan tenang dan tercipta hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...