Langsung ke konten utama

Mencintai Bahasa Daerah



Oleh Linda Mustika Hartiwi
Berdomisili di Banyuwangi, Jawa Timur



Ketika beberapa waktu yang lalu membaca angket di sebuah majalah perempuan terkenal di negeri ini, saya tertarik dengan tema yang diangkat yaitu mengenai apakah kita sebagai orang tua masih mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak kita? Beragam pendapat pun menanggapi angket tersebut. Ada yang mengatakan pasti mengajarkan karena si pemberi pendapat adalah seorang guru bahasa daerah. Ada pula yang mengatakan tetap mengajarkan bahasa daerah walaupun tinggal di luar daerah tempat tinggal atau bahkan di luar negara. Sebagian yang lainnya berpendapat harus mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak.

Sebuah angket yang bagus menurut saya untuk menanamkan rasa cinta akan bahasa daerah kepada anak-anak kita serta melestarikan keberadaan bahasa daerah tersebut.

Seperti diketahui bersama, sekarang ini banyak fasilitas komunikasi yang digunakan untuk menjalin silaturahmi atau pertemanan dengan banyak orang dan untuk menunjang kelancaran berkomunikasi tersebut menggunakan alat komunikasi bersama yaitu bahasa. Kebanyakan orang menggunakan bahasa nasional kita yaitu bahasa Indonesia. Beberapa anak atau orang menggunakan bahasa gaul yang sulit untuk dipahami oleh sebagian orang lainnya. Untuk yang saling mengenal secara akrab akan menggunakan bahasa daerah yang sama karena sama-sama mengerti artinya. Tidak jarang pula orang menggunakan bahasa internasional yaitu bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dalam berkomunikasi dengan sesama yang lain. Bentuk komunikasi antar manusia yang satu dengan manusia yang lain bisa dilakukan secara langsung dengan saling bertatap muka atau melalui sarana komunikasi seperti HP dan telepon rumah.

Di negeri kita ini berlaku Ejaan Yang Disempurnakan ( EYD ) sebagai panduan secara baik dan benar dalam penggunaan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Walaupun dalam penulisan maupun pengucapan bahasa Indonesia kadang masih ada kekurangan bagi orang yang menggunakannya, diharapkan dengan memahami EYD yang berlaku keadaan tersebut dapat diminimalisir.

Demikian pula dengan bahasa daerah yang ada di negeri ini, walaupun tidak ada ketentuan baku untuk penggunaan yang sama karena banyak bahasa daerah yang tersebar di berbagai wilayah daerah, hendaknya kita dapat menggunakan bahasa daerah sebagai alat komunikasi secara baik dan benar serta santun dalam kehidupan sehari-hari.

Saya berasal dari suku Jawa yang sejak kecil telah diajarkan oleh kedua orang tua saya sebuah bahasa daerah yaitu bahasa Jawa serta mendapatkan pelajaran bahasa daerah di sekolah. Pengajaran bahasa daerah tersebut secara teori dari pelajaran Bahasa Jawa di sekolah dan secara praktek dari pengajaran dalam berkomunikasi sehari-hari di rumah atau di lingkungan sekitar. Saya bisa mengetahui dan mengerti ada tingkatan-tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa yang membedakan saat kita berbicara kepada orang yang lebih muda dari kita atau sepadan dengan kita atau orang yang lebih tua dari kita. Tingkatan bahasa tersebut adalah bahasa ngoko, ada lagi bahasa krama untuk yang lebih halus, serta bahasa krama inggil untuk tingkatan yang lebih halus lagi atau sangat halus. Walaupun kata-kata yang ada dalam tingkatan bahasa Jawa tersebut tidak harus dihafalkan, dengan membiasakan diri untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari saat berkomunikasi dengan orang lain akan mewujudkan peranserta dalam rangka melestarikan keberadaan bahasa daerah.

Saya tidak mengetahui apakah untuk bahasa daerah yang lain juga mempunyai tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa tersebut. Yang terpenting adalah berusaha untuk mencintai bahasa daerah kita masing-masing dengan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari secara baik dan santun. Karena seperti telah diketahui bersama, saat ini masih banyak orang tua yang tidak membiasakan dan mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anaknya. Siapa lagi yang akan melestarikan bahasa daerah sebagai salah satu aset budaya bangsa selain kita dan anak cucu kita?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Mimpi Besar Arisqa Rinaldi Terwujud dalam Usaha dan Doanya

Arisqa murid kelas 5 SDN 2 Kandang, Kecamatan Kleut Selatan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada ilmu pengetahuan, yaitu di bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Setiap malam, dia selalu meluangkan waktunya untuk membaca buku-buku tentang sains, melakukan eksperimen sederhana dan bertanya kepada gurunya tentang berbagai fenomena alam yang menarik minatnya. Keinginannya untuk memahami dunia di sekitarnya tidak pernah kandas dan mimpi terbesarnya adalah menjadi juara dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di tingkat Kabupaten Aceh Selatan. Arisqa menyadari bahwa untuk mencapai mimpinya, dia harus bekerja keras dan berlatih dengan tekun.  Dengan dukungan penuh dari orang tuanya yang selalu mengingatkannya di depan pintu gerbang sekolahnya, ayahnya berkata, “Nak teruslah berproses dan jangan lupa hormati gurumu”.    Dengan    bimbingan dari guru-guru di sekolahnya, Arisqa mempersiapkan diri dengan baik. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Arisqa selalu menyempat...

Media Dapat Mempengaruhi Kesehatan Mental

Oleh Ida Rayyani, Mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Saat ini kita hidup di era media sosial. Sosial media adalah sebuah media untuk bersosialisasi satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Masing-masing individu dipastikan memiliki akun pribadi di Facebook, Twitter, Path, Youtube, Soundclouds, dan lain-lain. Media sosial juga memudah pengguna memperoleh informasi dengan cepat, sebagai media promosi dalam bisnis, dan memudahkan dalam berkomunikasi   (mendekat yang jauh). Memang, berinteraksi di jejaring sosial menjadi hiburan tersendiri bagi kita di tengah rutinitas yang padat. Selain memiliki banyak manfaat media sosial juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan mental pengguna. menurut WHO kesehatan mental merupakan status kesejahteraan dimana setiap orang dapat menyadari secara sadar terkait kemampuan dirinya, kemudian dapat mengatasi berbag...