Langsung ke konten utama

Siswa Berkarakter

ilustrasi /eureka


Oleh : Sadri Ondang Jaya, S.Pd
Guru SMA Negeri 1, di Gosong Telaga-Singkil

Ada kekuatiran yang menyeruak, ketika menyaksikan pelajar menjadi ‘preman’ lantas tawuran antar sesama mereka. Ada kegalauan muncul, kala menjumpai banyak kaum remaja kita bergaya punk, dan kebarat-baratan. Malah, ada memasuki sekte aliran sesat. Ada kegelisahan timbul, saat membaca berita, bahwa dari 4.500 remaja di 12 kota, 95 % remaja gandrung nonton film porno, 62,7 % pernah berhubungan seks pranikah, 27 % melakukan aborsi. (hasil survei yang dilakukan oleh KPIA Menkoinfo). Hasil penelitian Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bahwa tahun 2010, 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pranikah. Penyalagunaan Narkoba menunjukkan, dari 3,2 juta jiwa yang ketagihan Narkoba, 78 persen di antaranya adalah remaja. Sedangkan penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya yang pengidapnya kebanyakan remaja.

Ada kegundah-gulanahan membuncah, tatkalah menyaksikan, para remaja kita di sekolah berperilaku antisosial, seperti datang terlambat, mematahkan bangku, menjebol papan tulis, membuang sampah secara sembarangan, usil pada teman, bersorak-sorak atau berisik, mencoret –coret dinding, bangku dan meja. Tidak ketinggalan pula tingkah laku kasar, menyaksikan video porno melalui hp, dan seabrek penyimpangan lainnya.

Mengapa kuatir, galau, gelisah, dan gundah-gulana? Ini karena perilaku generasi muda itu, mulai tercerabut dari budaya dan tatanan kebenaran. Perilaku mereka, tidak lagi sesuai dengan karakter bangsa. Padahal, pemuda hari ini, pemimpin masa depan. Oleh karena itu, semua pihak, terutama orangtua, masyarakat dan guru di lembaga pendidikan, harus berupaya untuk mengantisipasi maraknya perilaku antisosial di kalangan remaja ini, tentunya, dengan segera mengajarkan mereka budaya dan karakter bangsa ini di lembaga –lembaga pendidikan. Sebab, lembaga pendidikan ini sebagai alternatif konkret yang bersifat preventif untuk melakukan pembinaan terhadap perilaku prososial dan mencegah perilaku antisosial. Walaupun diakui hasilnya akan terlihat dalam waktu yang relatif lama. Tetapi, akan memiliki daya tahan dan dampak yang kuat bagi masyarakat.

Budaya dan karakter bangsa yang bakal diajarkan di sekolah ini, menurut para ahli pendidikan. Pertama, untuk mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif siswa sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. ketiga, untuk menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa. Ke empat, mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Di samping itu, pendidikan karakter bangsa yang akan diintegrasi pada kurikulum beberapa mata pelajaran ini, akan bisa menyuguhkan perilaku prososial yang standar, konkret, terarah, dan bisa aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku prososial yang standar ini, tentunya harus diidentifikasi dari nilai-nilai yang sudah mapan dan mengakar di masyarakat. Seperti nilai-nilai agama, nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai budaya, dan dari tujuan pendidikan nasional.

Dari empat sumber nilai ini akan muncul nilai aplikatif dan mudah diterapkan oleh para siswa seperti, religius, bersifat jujur, bertoleransi, berdisiplin, suka bekerja keras, aktif atau kreatif, bersifat mandiri, demokratis, punya rasa ingin tahu, memiliki semangat kebangsaan, cinta tanah air, suka menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta pada perdamaian, peduli lingkungan, peduli sosial, dan punya rasa tanggung jawab.

Apabila nilai-nilai ini sudah tertanam dan merasuk dalam jiwa para siwa, diyakini, perilaku antisosial tidak akan kita saksikan lagi. Baik dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Paling tidak suatu langka awal yang baik dalam memberikan nilai-nilai alternatif dan positif pada siswa sejak dini. Sehingga selanjutnya siswa ini menjadi manusia yang bertanggung jawab dan prososial.

Tanggung jawab

Guru sebagai stake holder di sekolah bertanggung jawab penuh agar perilaku antisosial ini tidak berkelanjutan dan membesar. Guru harus bisa memberikan pengetahuan dan pencerahan pada siswa. Ia harus mampu menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik pada pelaku atau siswa sejak dini. Guru sangat berperan untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut paling tidak meminimalisasi dampak buruk yang bisa ditimbulkannya.

Salah satu peran yang efektif dimainkan guru untuk membasmi perilaku antisosial dan menumbuh-kembangkan perilaku prososial, dengan cara menanamkan pada siswa nilai standar yang telah dirumuskan dalam pendidikan budaya karakter bangsa. Hal lain, melalui kegiatan-kegiatan sekolah yang edukatif, bermanfaat serta guru harus bisa memberikan teladan dan contoh-contoh perilaku prososial atau nilai positif yang konkret.

Kalau guru hanya sibuk dengan mengajar saja (mentransfer ilmu) tidak melakukan peran mendidik atau guru bersifat permisif alias membiarkan saja perilaku antisosial yang terjadi, jelas akan merongrong bangunan sosial yang telah mapan. Lebih ironis, ada pula guru yang mempertontonkan di hadapan siswanya, perilaku antisosial dan perbuatan yang tidak elok untuk digugu dan ditiru. Kalau guru sudah berbuat demikian, adagium, guru kencing berdiri murid pun kencing berlari malah murid mengencingi gurunya akan menjadi kenyataan.

Malcolm Allererd, seorang pakar pendidikan mengatakan, profesionalisme guru dalam proses pembelajaran belumlah cukup, guru harus membarenginya pula dengan akhlak yang baik, sikap dan kepribadian yang matang, dan terpuji.

Jansen Sinamo, dalam bukunya, “8 Etos Keguruan” mengatakan, agar peserta didik atau generasi muda kita berkarakter, terlebih dahulu harus diawali oleh guru yang berkarakter. Menurut Jansen, ada delapan etos keguruan atau karakter keguruan yang harus dimiliki guru. Pertama, mengajar adalah sebagai rahmat. Guru harus mengajar dengan ikhlas dan penuh rasa syukur. Kedua, keguruan adalah amanah. Guru mengajar dengan benar penuh tanggung jawab. Ketiga, keguruan adalah panggilan. Guru harus mengajar tuntas dan penuh integritas. Keempat, keguruan adalah aktualisasi. Guru harus mengajar dengan serius dan semangat. Kelima, keguruan adalah ibadah, guru mengajar dengan cinta dan penuh dedikasi. Keenam, keguruan adalah seni. Guru mengajar dengan cerdas dan penuh kreativitas. Ketujuh, keguruan adalah kehormatan. Guru mengajar dengan penuh keunggulan. Kedelapan, keguruan adalah pelayan. Guru mengajar sebaik-baiknya, penuh kerendahan hati.

Nah, sehebat apapun program pendidikan budaya dan karakter bangsa yang diusung dan dicanangkan, sangat tergantung pada karakter guru. kalau gurunya tidak berakrater, maka siswa pun tidak akan berkarater sesuai dengan yang diharapkan. Akhir perbuatan antisosial pun akan selalu kita saksikan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...