Langsung ke konten utama

Remaja dan Pembangunan Berkelanjutan, Compatible or Not ?



Oleh Rachmat Arriz Saputra

Siswa SMA Negeri 4 Banda Aceh

Pemenang /Juara I Lomba Menulis Essay tentang Remaja dan Sustainable Development Goals yang dalam Rangka Sosialisasi SDGs, di Banda Aceh



Sebuah planet yang berusia 4,54 miliar tahun, mempunyai kekayaan alam yang melimpah, dan ditempati oleh lebih dari jutaan manusia. Di setiap permukaannya, merupakan representasi dari planet yang kita tinggali sekarang ini, planet ini bernama bumi. Bumi dapat kita analogikan dengan satu kata, yaitu Ibu. Karena, kita telah hidup, tumbuh, dan berkembang dengan memakai seluruh sumber daya alam yang ada di bumi dan mayoritas dari manusia menyebabkan timbulnya berbagai masalah di permukaan bumi. Masalah - masalah tersebut tidak hanya memberikan pengaruh buruk bagi eksistensi dan rusaknya bumi, namun juga memberikan pengaruh buruk terhadap masyarakat seperti : kelaparan, kemiskinan, dan rendahnya tingkat kesehatan dan lain-lain. Hal ini mendorong seluruh pemimpin dunia untuk menciptakan suatu gagasan “ Pembangunan Berkelanjutan” yang bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan pemenuhan kebutuhan yang dilakukan sekarang tidak mengganggu kegiatan pemenuhan kebutuhan yang sama bagi generasi selanjutnya. Menurut SDG’s ( Sustainable Development Goals ), target utama dalam kegiatan pembangunan berkelanjutan adalah remaja. Karena, remaja merupakan generasi yang berusia muda dan akan menjadi generasi penerus yang akan memimpin suatu Negara dan Bangsa dengan mimpi - mimpi mereka.

Aksi para remaja dalam menyuarakan pembangunan berkalanjutan adalah bagian terpenting dari kesepakatan SDG’s. Namun, aksi para remaja yang sering kita lihat setiap harinya, tidak merefleksikan bahwa mereka adalah bagian terpenting dari pembangunan berkelanjutan. Bahkan, ada yang masih tidak mengetahui pengertian dari pembangunan berkelanjutan. Hal ini sangat memprihatinkan bagi kalangan remaja, khususnya di Indonesia. Kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar masih cenderung rendah di kalangan remaja Indonesia. Menjadi tugas kita bersama untuk mendidik dan merubah pola pikir mereka mengenai pembangunan berkelanjutan. Hal yang penting untuk ditanamkan dalam diri setiap remaja yang masih belum mengetahui tentang pembangunan berkelanjutan adalah : Perubahan. Penyebab dari setiap tindakan atau aksi yang belum dilakukan oleh remaja adalah rasa takut untuk memulai. Maka, jika remaja takut untuk memulai perubahan, maka jadilah perubahan yang ingin remaja lihat. Setiap remaja harus menyuarakan dan melakukan tindakan tentang betapa pentingnya pembangunan berkelanjutan bagi setiap individu di muka bumi ini. Remaja bisa menyuarakan pendapat mereka melalui media cetak, sosial, dan alternatif lainnya.

Tindakan atau aksi remaja yang merepresentasikan kompatibelnya mereka dengan pembangunan berkelanjutan dapat kita lihat dari berbagai organisasi kemanusiaan yang peduli mengenai anak - anak, air bersih, perempuan, sumber daya alam, lingkungan, dan lainnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa, jika seluruh remaja di dunia besatu untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan, maka seluruh permasalahan yang kita hadapi sekarang akan terselesaikan dalam waktu yang singkat. Melindungi seluruh masyarakat dari kelaparan, kemiskinan, krisis air bersih, dan kelestarian bumi bukanlah hal yang mudah bagi remaja. Namun, menciptakan suatu lingkungan dimana masyarakat dan eksistensi bumi yang tidak perlu dilindungi lagi akibat kesadaran yang tinggi dari remaja merupakan hal penting dari pembangunan berkelanjutan. Hal ini yang sebenarnya mimpi dari kesepakan SDG’s.

Namun, apakah pembangunan berkelanjutan penting untuk remaja ?. Jawabannya adalah : iya. Karena, jika 17 masalah yang dirangkum oleh SDG’s tidak kunjung terwujud, maka anak dan cucu kita akan menghadapi semua masalah itu. Dalam hal ini, kita dituntut untuk tidak mementingkan diri sendiri. Sadarlah, bahwa kita sebagai seorang remaja merupakan agen pembangunan berkelanjutan. Sebagai contoh, bagaimana reaksi remaja disaat seorang anak kecil yang tidak punya rumah, kedinginan, dan dia meminta seorang untuk menyisihkan sedikit uang remaja tersebut agar dia bisa membeli jaket atau sesuatu yang dapat menghangatkan tubuhnya?. Hal ini merupakan percobaan sosial mengenai pembangunan berkelanjutan dengan target remaja di Youtube.com. Hasilnya cukup mengejutkan!. Dari 100 percobaan terhadap remaja yang dimintai uang, hanya 20 remaja yang memberikan sebahagian kecil uang mereka kepada sang pengemis. Ingat ini, jika seorang remaja tidak memulai untuk menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dari tindakan yang kecil, maka remaja tersebut akan kesusahan menerapkan prinsip itu dalam skala yang lebih besar. Pembangunan berkelanjutan bukan hanya tentang menanam pohon, menjaga kualitas air, mengolah limbah, mengatasi kemiskinan, dan lainnya. Hakikatnya, ini tentang kemauan dan tekad remaja untuk membesarkan hati mereka dan menolong sesama mereka dengan tindakan yang nyata dan menyuarakannya.

Kesimpulannya adalah, pembangunan berkelanjutan dan remaja merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Remaja dapat melakukan suatu perubahan jika didasarkan dengan niat dan semangat yang kuat. Hal ini menjawab pertanyaan di atas bahwa : Tentu saja kompatibel jika didasari oleh remaja yang memiliki hati yang besar dan niat yang ikhlas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...