Langsung ke konten utama

Puisi Rahma Atikah





Mahasiswa Jurusan KPI, UIN Ar-Ranirry Banda Aceh



Rintihan Sang Yatim

Setiap kali rasa rindu yang menyeruak hadir bersama kenangan-kenangan yang tak pernah padam .

Hati ini menagis, meronta bersama pantulan-pantulan suara yang tak bersumber.

Masih ingatkah engkau ayah ?

Aku adalah gadis kecilmu, yang dahulu engkau peluk sembari menanmkan benih-benih cinta dan kehangatan insani dalam ragaku ini.

Aku adalah gadis kecil mu yang dahulu engkau beri lantunan syair-syair indah penuh abdi selayak petuah diri.



Saat kepergian mu ke alam rahasia mimpi rohaniah penuh tanda tanya

Dunia begitu kelam nan hitam, merenggut saat-saat kebersamaan kita ayah.

Memisahkan kita antara jarak dan waktu dalam kerangka dimensi yang penuh perbedaan

Aku merasa terasingkan dan menyudutkan diri, saat hari demi hari kulewati tanpa sosok dirimu.

Layak aku seperti kucing kecil liar, dunia senantiasa mengungkung kebahagiaan demi kebahagian si kucing kecil yang dikesampingkan, tergusah pasrah

oleh kaki-kaki peremeh dunia.

Berlari dan bersembunyi dibalik dinding-dinding kenistaan dan kolong-kolong ketakutan



Seraya hati terus berguman “hendak kemana aku ini ayah”?

Persetan dunia mengejar kebahagiaan demi kebahagiaan ku dengan bersemangat

Merenggut satu persatu impian dan cita yang telah ku julangkan tinggi bersama bintang-bintang permohonanku

“Hendak kemana aku mengadu ayah”?

Dapatkah lagi ku bersembunyi di balik bahu kokoh mu dari segala persetan dunia Menghadang segalanya serta memeluk erat tubuh ku dari segala ketakutan yang berkepanjangan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Mimpi Besar Arisqa Rinaldi Terwujud dalam Usaha dan Doanya

Arisqa murid kelas 5 SDN 2 Kandang, Kecamatan Kleut Selatan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi pada ilmu pengetahuan, yaitu di bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Setiap malam, dia selalu meluangkan waktunya untuk membaca buku-buku tentang sains, melakukan eksperimen sederhana dan bertanya kepada gurunya tentang berbagai fenomena alam yang menarik minatnya. Keinginannya untuk memahami dunia di sekitarnya tidak pernah kandas dan mimpi terbesarnya adalah menjadi juara dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di tingkat Kabupaten Aceh Selatan. Arisqa menyadari bahwa untuk mencapai mimpinya, dia harus bekerja keras dan berlatih dengan tekun.  Dengan dukungan penuh dari orang tuanya yang selalu mengingatkannya di depan pintu gerbang sekolahnya, ayahnya berkata, “Nak teruslah berproses dan jangan lupa hormati gurumu”.    Dengan    bimbingan dari guru-guru di sekolahnya, Arisqa mempersiapkan diri dengan baik. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Arisqa selalu menyempat...

Profesor

Oleh Ahmad Rizali Berdomisili di Depok Jagat maya akademik sedang gaduh karena ibu Megawati memperoleh gelar Guru Besar Tidak Tetap Honoris Causa dari Universitas Hankam.  Beberapa sahabat saya sering jengah bahkan ada yang berang, karena kadangkala saat diundang bicara dalam sebuah perhelatan akademis, ditulislah di depan namanya gelar Prof. Dr.    Setiap saat pula beliau menjelaskan bahwa dirinya hanya S1.  Satu lagi sahabat saya yang bernasib sama dengan yang di atas. Kalau yang ini memang dasar "rodok kusruh" malah dipakai guyon. Prof diplesetkan menjadi Prov alias Provokator, karena memang senangnya memprovokasi orang dengan tulisan-tulisannya , terutama dalam diskusi cara beragama dan literasi.  Sayapun mirip dengan mereka berdua. Namun karena saya di ijazah boleh memakai gelar Insinyur, tidak bisa seperti mereka yang boleh memakai Drs, yang juga kadang diplesetkan kembali menjadi gelar doktor lebih dari 1. Saya pikir mereka yang pernah memperoleh gelar Do...