Langsung ke konten utama

Ironi Tingkat Pelecehan Seksual Anak di Aceh



Oleh: Awalin Ridha
Berdomisili di Banda Aceh


Sebut saja namanya melati. Seorang anak perempuan yang memiliki cita-cita setinggi langit. Mempunyai senyum seindah mentari. Gadis itu sangat periang dan aktif. Hari-hari dilalui dengan semangat. Namun, sebuah peristiwa menghancurkan masa depannya. Peristiwa yang tak pernah disangka bahkan tak pernah sedikit pun dia mengira akan terjadi seperti ini.

Gadis kecil itu harus menerima kehancuran dirinya. Ternodai oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Masa depannya pupus. Senyum riangnya pudar. Hidupnya menjadi tak semangat. Dia harus menjalani hari-hari bersama masa lalu yang suram. Masa lalu yang telah membentuk ingatan buruk. Tubuhnya mulai trauma, jiwanya terusik, mentalnya jatuh. Sungguh kasihan gadis itu.
Kisah di atas adalah sebuah ilustrasi. Gambaran kejadian yang terjadi pada anak. Malah, tidak hanya satu pelaku, bisa dua, tiga, atau sebelas. Pelaku-pelakunya tidah hanya dari orang luar. Tapi juga orang-orang yang dikenal dekat seperti, Ayah, paman, kakek dan keluarga terdekat lainnya.
Menurut KPAI, dari tahun 2013-2014 kekerasan seksual terhadap anak meningkat 100 persen, baik mereka yang menjadi korban atau pelaku. Banyak latar belakang terjadinya pelecehan seksual terhadap anak selain penyimpangan seksual. Modusnya semakin beragam dan aneh. Tidak hanya anak-anak perempuan yang menjadi target, anak laki-laki juga sudah menjadi korban pelecehan.
Di aceh, kekerasan seksulitas terhadap anak meningkat setiap tahunnya. Menurut catatan Pusat Pelayanan Terpada Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) kota Banda Aceh, angka korban pelecehan seksual terhadap anak naik 80 persen dari Tahun Sebelumnya. Pada Tahun 2014 jumlah kasus pelecehan terhadap anak hanya 25 kasus, sedangkan pada tahun 2015 naik menjadi 50 kasus, dan pada tahun 2016 naik menjadi 81 kasus.
Berdasarkan data dan kasus yang ditangani oleh Kantor Pemberdayaaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Kota Banda Aceh, angka kekerasan seksual dalam 3 tahun ini meningkat. Pada tahun 2014 terdapat 59 kasus, tahun 2015 naik menjadi 133 kasus, sedangkan pada tahun 2016 relatif meningkat hingga januari-April 2016.
Polda Aceh sudah menangani 47 kasus kekerasan seksual anak sepanjang 2016. Semua korbannya adalah anak perempuan. Umumnya pelaku melakukan pelecehan akibat seringanya menonton video pornografi.
Data dan kasus tersebut tentu sangat mengejutkan. Sebab, Aceh yang sedang menerapkan syariat islam telah kecolongan. Banyak faktor yang mendominasi hal tersebut. Pesatnya arus globalisasi mendukung terjadinya pelecehan seksual.
Pengaruh IT dan mudahnya akses pornografi. Mendorong pelaku untuk melakukan tindakan pelecehan. Terlebih lagi, akses tersebut bisa di dapatkan di sebuah android yang dimana saja dapat diputar.
Kurangnya pengawasan orang tua dan keluarga juga menjadi fokus utama. Perlindungan terdekat datangnya dari orang tua. Akan tetapi, tak sedikit pelaku muncul dari orang yang terdekat. Butuh pencerdasan dan kedekatan relijius.
Ekonomi juga menjadi salah satu faktor maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak. Dengan diiming-imingi uang atau benda lainnya, korban dengan mudah terbujuk oleh pelaku.
Degradasi moral, menjadikan tabiat pelaku sangat buruk. Ketika ada kesempatan, pelaku pun akan bertindak menuruti hawa nafsunya tanpa berpikir terhadap konsekuensi yang akan terjadi.

Dampak pada korban dapat menimbulkan depresi, sindrom trauma perkosaan, disosiasi, gangguan makan, Hypoactive sexual desire disorder, dyspareunia, vaginismus serta diabetes tipe 2. Sedangkan dampak sosial, korban akan terkucilkan oleh masyarakat.
Upaya pemulihan terhadap trauma yang diderita korban, butuh waktu yang sangat lama. Karena tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses secara perlahan. Sebab, dampak perbuatan tersebut meninggalkan trauma yang sangat mendalam.
Selain itu, empati dan kesadaran masyarakat terhadap korban pelecehan anak harus terus dibentuk, agar korban merasa nyaman dan perlahan dapat mengurangi keguncangan jiwanya. Kemudian, mengkampanyekan Stop kekerasan seksualitas terhadap anak sebagai bentuk advokasi.
Oleh karena itu, pemerintah Aceh harus gencar dalam menangani pelecehan seksual anak. Jangan sampai generasi Aceh hancur. Pendekatan secara pengetahuan dan agama harus dimaksimalkan. Pemboikotan terhadap konten-konten dewasa harus semakin ditingkatkan lagi. Tontonan-tontonan di pertelevisian harus bisa disaring atau disensor. Ini dilakukan untuk menyelamatkan masa depan Aceh yang berlabelkan Syariat Islam.

Note: Setiap naskah lomba yang dimuat pada portal www.potretonline.com sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Setiap artikel lomba tidak melalui proses editing. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...