Langsung ke konten utama

Satpol PP/WH Banda Aceh Tertibkan Trotoar Jalan Tgk Chik Ditiro



Banda Aceh - Petugas Satpol PP/WH Kota Banda Aceh menertibkan trotoar di sepanjang area depan pertokoan di Jalan Tgk Chik Ditiro, Peuniti, Rabu (27/9/2017). Selama ini, trotoar di kawasan tersebut yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan kaki, digunakan sebagai lapak jualan oleh para pedagang maupun pemilik toko.

Amatan di lokasi, puluhan petugas Satpol PP/WH turut dibantu secara sukarela oleh para pemilik maupun karyawan toko untuk memindahkan rak-rak dagangan ke dalam toko. Usai penertiban, trotoar di lokasi tersebut terlihat bersih dari barang dagangan termasuk sepeda motor yang kerap diparkir di sana.

Kabid Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP/WH Banda Aceh Hardi Karmy menjelaskan penertiban yang dilakukan pihaknya berdasarkan Peraturan Wali Kota Banda Aceh Nomor 11 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat.

“Penertiban yang kita lakukan hari ini secara persuasif, dan alhamdulillah para pedagang maupun pemilik toko dapat memakluminya. Bahkan mereka ikut membantu petugas kita untuk memindahkan barang-barang dagangan dari atas trotoar,” katanya di sela-sela operasi penertiban.

Menurut Hardi, jauh-jauh hari sebelum penertiban, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada para pemilik toko atau pengusaha yang mayoritas membuka usaha penjualan handphone tersebut, hingga memberikan peringatan/teguran tertulis. “Jadi tidak serta merta kita lakukan penertiban tetapi step by step sesuai dengan aturan yang berlaku.”

Ia menambahkan, setelah penertiban trotoar di sepanjang Jl Tgk Chik Ditiro, pihaknya juga akan melakukan operasi serupa di seluruh kota. Dalam waktu dekat petugas akan menyasar trotoar di sepanjang Jl T Nyak Arif, Jl Tgk Daud Beureueh, Jl. Panglima Nyak Makam, dan Jl Teuku Umar.

“Bukan hanya penertiban penggunaan trotoar, tetapi juga keberadaan neon box dan kanopi yang melanggar aturan. Aset atau ruang publik secara aturan memang tidak boleh dikomersilkan sehingga menghambat akses publik. Harapan kita ke depan, seiring dengan semakin meningkatnya kesadaan warganya, Banda Aceh bisa benar-benar menjadi kota yang aman dan nyaman bagi semua,” pungkasnya. (Jun)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...

Tak Selamanya Belajar Berbayar

Oleh Ida Fitri Handayani Guru SMA Negeri 4 Banda Aceh, anggota Warung Penulis. Belajar adalah kewajiban bagi semua muslim, baik di sekolah yang terbilang formal, mau pun di luar sekolah, yang non formal. Seperti privat dan bimbingan belajar yang kini makin terstuktur. Hakikat belajar tidak mesti di sekolah. Di Aceh banyak sekali balai edukasi yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Ada yang berbayar dan tidak sedikit pula yang menganut sistim lillah, alias gratis. Akhir-akhir ini, Allah menghendaki kesempatan bagi saya untuk masuk ke sebuah lembaga, yaitu Yayasan Cahaya Aceh, yang didirikan pada tahun 2017, atas inisiatif putra Aceh, Azwir Nazar. Azwir Nazar adalah mantan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki Koordinator Amerika Serikat tahun 2016-2017. Nah, Sebelum mendirikan yayasan ini, ia sempat kuliah S1 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, S2 di Universitas Indonesia, dan menyelesaikan S3 di Haccetepe University, Ankara-Turki. Setelah menyelesaikan stud...

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...