Langsung ke konten utama

Ribuan Perguruan Tinggi Gelar Aksi Serentak Melawan Radikalisme pada 28 Oktober



Banda Aceh, 6/10/2017. Pimpinan Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia sepakat untuk menggelar aksi kebangsaan Perguruan Tinggi melawan radikalisme secara serentak di seluruh Indonesia pada 28 Oktober 2017 mendatang, bertepatan dengan peringatan hari sumpah pemuda.
Hal demikian disampaikan Ketua DPD Pospera Aceh Tarmizi yang turut hadir pada konferensi pers Aksi kebangsaan Perguruan Tinggi melawan radikalisme, di Jakarta, Kamis (05/10).
Tarmizi menyebutkan, kegiatan tersebut nantinya dilakukan dalam bentuk kuliah akbar dan orasi kebangsaan, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan deklarasi Perguruan Tinggi melawan radikalisme.
Kegiatan itu kata Tarmizi, akan berlangsung serentak di 350 kabupaten/kota di 34 Provinsi di Indonesia, dengan melibatkan 4,5 juta peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, civitas akademik, serta pihak lain yang dianggap se ide dan setujuan menjaga Indonesia dari isu SARA, kebencian, fitnah dan adu domba.
“Ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan pimpinan perguruan tinggi akhir September lalu di Bali, yang saat itu turut dihadiri oleh Presiden Jokowi,”tambah Tarmizi.
Tarmizi menambahkan tujuan dari kegiatan tersebut antara lain, untuk mempertegas sikap Perguruan Tinggi se Indonesia untuk melawan radikalisme dan intoleransi, serta menjadi benteng bagi Pancasila, UUD 1945, Bineka Tunggal Ika dan NKRI.
Selanjutnya, melakukan sosialisasi lebih luas, khususnya di kalangan civitas akademik dan masyarakat pada umumnya, mengenai isi deklarasi kebangsaan Perguruan Tinggi melawan radikalisme.
“Diharapkan dengan kegiatan ini pada hari sumpah pemuda menjadi spirit untuk mahasiswa dan pemuda di perguruan tinggi untuk merevitalisasi kembali nila-nilai dan semangat sumpah pemuda agar dapat diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai modal bersama mewujudkan Indonesia yang aman, adil, makmur dan sejahtera,”pungkas Tarmizi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...