Langsung ke konten utama

ARISMAN MENEBAR VIRUS LITERASI DI UJUNG NEGERI



(Catatan di Sekolah Pedalaman Pulau Banyak Barat)
Oleh Bayhaqy
 
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ujong Sialit, Kecamatan Pulau Banyak Barat, merupakan salah satu sekolah paling terpencil di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh. Mungkin saja ada yang belum pernah tahu dengan nama desa, lokasi sekolah ini berada, karena letaknya yang di pulau yang disebut pulau Banyak itu. Konon ini termasuk dalam jajaran pulau terluar. Pasti tidak  mudah untuk bisa  menjangkau atau sampai menginjakan kaki ke sana.  Dikatakan demikian, karena untuk menuju Pulau Banyak, dari Singkil kita harus  menempuh perjalanan selama empat, sampai lima jam dengan menggunakan kapal ferry atau Speedboat.  Cukup lama. Ya, begitulah perjuangan untuk bisa sampai ke ibukota Kecamatan Pulau Banyak yang disebut  dengan Pulau Balai.

Maka, bila anda  berkunjung ke sana, sesampai di dermaga Pulau Balai dan ingin menuju ke Haloban, ibukota Kecamatan Pulau Banyak Barat, anda harus menempuh  lagi perjalananan darat sepanjang 35 Km. Selanjutnya dari Haloban menuju Desa Ujung Sialit menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dengan menggunakan perahu. Perjalanan yang sangat panjang dan menantang, bukan?

Di sinilah SD Negeri Ujung Sialit yang menjadi sasaran atau target menebar virus literasi itu. Dapat dibayangkan betapa jauhnya sekolah itu. Sekolah yang berada di pedalaman Kecamatan Pulau Banyak Barat ini, dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang masih minim, apalagi jauh dari akses informasi bahkan aliran listrik dari PLN sama sekali tidak ada. Masyarakat di sana menikmati listrik hanya dari pukul enam sore hingga pukul sepuluh malam. 

Adapun aliran listrik yang di peroleh oleh masyarakat setempat bersumber dari mesin milik desa dan sebagiannya ada yang menggunakan genset. Barangkali akibat keterbatasan kesediaan alat penerang di malam hari, salah satu faktor seperti yang di beritakan Harian Serambi Indonesia Minggu yang lalu, desa ini memiliki enam sampai sembilan orang anak dalam satu keluarga.

Desa Ujung Sialit bisa dikatakan daerah berbatasan dengan Pulau Nias-Sumatera Utara. Karena letak geografisnya yang langsung tembus ke Pulau Nias melewati lautan, sehingga mayoritas masyarakat di desa ini beragama Kristen. Namun guru-guru yang mengajar pada SDN Ujung Sialit beragama Islam berasal dari Pulau Banyak.

Terlepas dari perbedaan budaya dan keyakinan. Tidaklah menyurutkan langkah bagi Arisman Pulo, seorang guru PNS alumni S-1 PGSD FKIP-Unsyiah ini yang siap ditugaskan dimana saja, sekalipun di daerah paling terpencil. Bagi Arisman ini adalah tantangan sekaligus pengalaman untuk mencerdaskan anak negeri di mana saja, siapa saja dan kapan saja.

Pada awal bulan Oktober  2017 yang lalu, Arisman dipanggil oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Aceh untuk menerima penghargaan (award) sebagai salah seorang guru berdedikasi dari daerah khusus. Ia  penerima hadiah Anugerah Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Provinsi Aceh Tahun 2017 yang diserahkan di Kota Banda Aceh oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

Lelaki humoris dan murah senyum ini, seorang alumni FKIP-Unsyiah. Ia  seorang sarjana pendidikan yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia bertekat untuk bisa melakukan pengabdian yang terbaik bagi anak-anak dan masyarakat di pedalaman Pulau Banyak Barat. Sebagai sosok yang sangat peduli akan nasib anak-anak sekolah di tempatnya. Maka, ketika ia berada di Banda Aceh, menjelang kembali ke Pulau Banyak, ia sempat membeli satu paket majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas. Paket yang berisi lebih kurang 100 majalah POTRET dan Anak Cerdas. Ya,  satu kardus berisikan seratusan Majalah Anak Cerdas dan Majalah POTRET yang sebagiannya dibeli oleh Harisman, ia sisihkan dari uang hadiah yang diterimanya dari Pemerintah Aceh pada malam anugerah Hardikda dan sebagian lagi merupakan sumbangan bahan bacaan dari majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas. Sumbangan bacaan yang dijadikan  sebagai modal untuk menggerakkan "Literasi di Ujung Negeri." Semoga memberikan manfaat bagi anak-anak di Pulau Banyak yang jauh dari akses perpustakaan dan toko buku.

Komentar

  1. alhamdulillahirabbil"alamin... semoga selalu diberi kekuatan, sudah tiga tahun berlalu. sekarang Arisman alhamdulillah diberi kepercayaan mengelola sekolah baru berdiri di Ujung Sialit (SMPN 1 Pulau Banyak Barat) semoga jika berkenan sekali2 bolehlah diliput sekolah ini yang tahun ajaran 2020-2021 ini sudah lengkap siswa 3 (tiga) kelas.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...