Langsung ke konten utama

MIFTARY TERPILIH MENJADI KETUA FORUM ANAK PROVINSI ACEH



Banda Aceh – Miftari Rauzah, siswi SMU Negeri 1 Calang, Aceh Jaya terpilih sebagai ketua Forum Anak Tanah Rencong (FATAR) provinsi Aceh periode 2018-2020 menggantikan M Farhan Ghalib. Pemilihan ini diputuskan dalam  forum Duek Pakat Aneuk Aceh 2018 yang diikuti oleh perwakilan forum anak dari 23 kabupaten/kota di provinsi Aceh. 

Acara duek pakat yang diadakan setiap dua tahunan ini merupakan wadah untuk komunitas atau forum anak berkumpul dan menyampaikan aspirasi serta masukan, yang nantinya bisa menjadi bahan pertimbangan pemangku kebijakan dalam mengeluarkan keputusan terkait dengan isu anak.  

Miftari Rauzah, Ketua FATAR yang baru saja terpilih mengatakan, selama ini  aspirasi anak masih kurang didengarkan dan anak kurang dilibatkan dalam perencanaan atau program daerah. Padahal suara anak perlu diperhitungkan dalam setiap pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kepentingan anak. Ini dikarenakan anak berbeda dengan orang dewasa dan merupakan pihak yang paling mengetahui masalah, kebutuhan dan keinginan anak itu sendiri. “Sehingga diharapkan melalui forum ini, partisipasi anak dalam pembangunan tidak terabaikan dan suara anak ke depannya bisa lebih didengarkan oleh pemerintah.”


                                                        
forum duek’ pakat aneuk Aceh 2018 yang berlangsung sejak 14-16 April 2018 diisi dengan acara pemilihan ketua dan pengurus baru forum anak, perumusan suara anak dan rencana aksi, promosi hak anak di acara car free day dan pemberian award atau penghargaan kepada Forum Anak kabupaten/kota yang berprestasi.

Bagian dari rangkaian acara duek’ pakat tersebut, Fatar juga ikut serta dalam event car free day. Even regular yang dilaksanakan setiap minggu pagi itu dimanfaatkan oleh Fatar untuk mempromosikan  hak anak dan berdialog dengan walikota Kota Banda Aceh, Aminullah Usman. Dalam dialog tersebut Fatar menanyakan sejauh mana komitmen pemerintah terkait kebijakan anggaran untuk mendukung kegiatan perlindungan dan pemenuhan hak anak, serta bagaimana jaminan hukum terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak di Aceh.

“Saat ini memang sudah banyak regulasi terkait perlindungan dan pemenuhan hak anak, tapi kondisi anak-anak semakin memprihatinkan. Ini membuat kami bertanya masalahnya itu di mana?” tambah Miftari.

Dalam forum duek pakat aneuk Aceh 2018 yang mengangkat tema “Duek Pakat Untuk Sepakat” tersebut, juga dirumuskan beberapa kesepakatan aspirasi anak dari 23 kabupaten/kota di provinsi Aceh. Di antaranya :
1.    Tingkatkan pembuatan akte kelahiran secara merata di seluruh daerah provinsi Aceh
2.    Libatkan forum anak dalam setiap kebijakan terkait perencanaan pembangunan daerah Aceh
3.    Mendukung pemerintah dalam upaya pendewasaan usia perwakilan di provinsi Aceh
4.    Tingkatkan pola asuh yang memenuhi hak dan kewajiban anak secara optimal
5.    Tingkatkan kualitas pendidikan melalui sekolah ramah anak di seluruh daerah Aceh
6.    Tingkatkan pengadaan fasilitas dan akses pelayanan bagi anak-anak di provinsi Aceh
7.    Mendukung pemerintah dalam upaya pengendalian iklan dan promosi rokok di provinsi Aceh
8.    Lindungi anak dari segala bentuk kekerasan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak
9.    Tingkatkan penggunaan dan pengawasan internet sehat bagi seluruh elemen masyarakat
10. Melibatkan forum anak dalam implementasi Desa Layak Anak di provinsi Aceh


Forum du’ pakat tahun ini juga memberikan award atau penghargaan kepada Forum Anak daerah untuk menghargai kinerja dan ke-aktifannya. Pemenang FATAR Award tahun 2018 ini diberikan ke Forum Anak Simeulue. Di urutan ke-dua diberikan kepada Forum Anak Aceh Jaya dan urutan ke-tiga Forum Anak Nagan Raya.

Selain itu ada enam kategori penghargaan lainnya yang diberikan untuk Forum anak kabupaten/kota. Seperti Forum Anak berpartisipasi yang diberikan kepada Forum Anak Banda Aceh, Forum Anak Teraktif, diberikan kepada Forum Anak kota Lhokseumawe, Forum Anak tersolid  diberikan kepada Forum Anak seribu bukit Gayo lues, Forum anak tersosial media diberikan kepada Forum anak Aceh Barat, Forum anak terkreatif  diberikan kepada Forum Anak Aceh kota Langsa dan Forum anak terinovatif diterima oleh Forum anak Aceh Tamiang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...