Langsung ke konten utama

JNIB: May Day Momemtum Perbaikan Kesejahtraan Buruh



Tiap 1 Mei, peringatan hari buruh sedunia dilaksanakan di sebagian besar belahan dunia, merayakan hari pengakuan dan capaian gerakan buruh sedunia dalam berbagai front. Meski berbagai negara merayakan dengan selebrasi berbeda-beda, namun pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup buruh di dunia.

Di Indonesia perayaan buruh lebih difokuskan pada hak-hak pekerja yang masih terpasung dan belum setara dengan majikan. Padahal buruh merupakan bagian penting dari alat produksi untuk menghasilkan satu uni produk.

Tuntuntan para buruh di Indonesia dalam peringatan 1 Mei 2018 menyuarakan masalah nyata dihadapi kaum buruh hari ini. Menurut Nachung Tajudin, Ketua Umum JNIB, masalah nyata dihadapi buruh lemahnya posisi mereka menghadapi PHK, penerapan status Out-sourcing-masih menjadi primadona pada perusahaan. Padahal outsourcing dan PHK yang tidak seimbang semakin memarginalkan poisisi buruh. 

Apa lagi kata Nachung, harga-harga kebutuhan pokok terus naik sementara perbaikan kesejahteraan buruh masih buruh. Seharunya, kata Nachung, kenaikan harga bahan pokok juga harus diikuti kenaikan perbaikan kesejahtraan buruh.

Ditingkat kebijakan kata Nachung, PP 78 tahun 2015 yang mengkebiri upah buruh tidak masih dibiarkan, kebebasan berserikat terhambat. Pemerintah yang mengeluarkan Perpres No 20 Tahun 20018 memudahkan tenaga kerja dari luar masuk ke Indonesia. Regulasi ini, kata Nachung, semakin membebani pengganguran merajalela, kesenjangan kesejahteraan telah terjadi kebijakan yang adil bagi buruh. 

Tenaga kerja asing boleh masuk, namun hanya ternaga kerja dengan keahlian khusus, yang tidak ada di tanah air. Tenaga kerja asing saat ini dipenuhi oleh pekerja yang dapat dipenuhi di Indonesia, baik sektor manufaktur dan sektor lainnya, “ tegas Nachung.

Dibidang NGO internasional, menurut Nachung, bidang pekerjaan selama ini tidak pernah di kontrol negara, semakin banyak pekerja NGO asing di tanah air. Padahal pekerjaan tersebut tidak membutuhkan keahlian khusus dan dapat dilakukan dengan putra putri Indonesia. Namun faktanya, banyak tenaga kerja asing. Apa lagi pekerjaan mereka kadang bertentangan dengan tujuan pembangunan nasional.

Akumulasi tuntutan tersebut di atas, menurut Nachung Tajuddin, JNIB mendunkung penuh tuntutan buruh pada Mei Day 2018 sembari berharap pemerintah memperhatikan dengan sungguh-sungguh kesejahtraan buruh.

Di luar itu, bagi Ketua Umum JNIB, hari buruh tidak sekedar dijadikan aksi gagahan, tetapi kepada serikat Buruh berjuang dengan sungguh-sungguh menghapus hambatan kesejahtraan buruh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...