Langsung ke konten utama

Bon Kontan Alat Tukar Warga di Langsa di Zaman Awal Kemerdekaan


BANDA ACEH – Kota Langsa merupakan salah satu daerah yang menjadi saksi bisu atas kolonialisme Belanda di tanah Serambi Mekkah. Letak geografis Kota Langsa yang sangat strategis, serta berbatasan langsung dengan Selat Malaka membuat Belanda menjadikan kota ini sebagai basis pemerintahan khususnya di Aceh.
Namun karena perjuangan yang hebat akhirnya Belanda bisa dikalahkan. Karena sudah diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, masyarakatpun menghapus uang Belanda sebagai alat tukar yang biasa digunakan dan sambil menunggu dikeluarkannya uang Republic Indonesia, penguasa saat itu menerbitkan bon kontan bernilai Rp 100 dan Rp 250 sebagai alat tukar.
Bon kontan dicetak pada 2 Januari 1949. Uang revolusi ini dicetak di Bale Juang Langsa, yang saat itu menjadi pusat perkumpulan para pejuang kemerdekaan, gedung tersebut kini menjadi gedung Museum Kota Langsa.
Bon kontan berlaku untuk seluruh daerah gubernur militer, yaitu daerah Aceh, Langkat, dan Karo, dan akan ditukar dengan uang Republik Indonesia dalam waktu sesingkat singkatnya, hal tersebut berdasarkan nota Plt Gubernur Militer daerah Aceh, Langkat dan Karo.
Bon kontan merupakan bukti sejarah, betapa besarnya peran Langsa pada masa itu dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI. Heroik kemerdekaan yang sangat berasa tampak jelas dalam perjuangan ekonomi masyarakat Kota Langsa. Hal tersebut dapat terlihat dengan jelas dengan terteranya kalimat : Sekali Merdeka, Tetap Merdeka pada uang tersebut.
Gedung Balee Juang merupakan bangunan peninggalan Belanda yang didirikan sekitar tahun 1920. Kini setelah Indonesia merdeka, gedung ini menjadi salah satu tempat tempat sejarah di Kota Langsa. Memiliki gaya arsitektur yang menarik khas Eropa, menjadikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Tak hanya itu, kisah sejarah yang melatar belakangi gedung ini juga menarik untuk disimak.
Sebelum dikenal sebagai Gedung Balee Juang, bangunan ini dinamai oleh Belanda Het Kantoorgebouw Der Atjehsche Handel-Maatschappij Te Langsar. Kala itu, gedung ini juga sempat digunakan sebagai kantor percetakan uang yang dikenal dengan Bon Kontan bernilai Rp. 100.
Sejarah menarik ini dapat disimak ketika berkunjung ke anjungan Kota Langsa di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7.
Selain sejarah kemerdekaan Indonesia, anjungan Kota Langsa juga memamerkan aneka barang peninggalan sejarah dan benda langka lainnya.
Koordinator Anjungan Kota Langsa Sumiyati mengatakan, benda-benda bersejarah ini merupakan koleksi Museum Kota Langsa, tapi sebagiannya juga merupakan milik seorang kolektor benda bersejarah yang berasal dari Kota Langsa yakni Tgk Nur Iman.
“Diantaranya ada koleksi Al-quran tulisan tangan yang usianya sudah ratusan tahun lalu, kemudian benda-benda semasa kerajaan Aceh, dan juga ada dipamerkan fosil tulang ikan lumba-lumba yang ditemukan tahun 2013 yang lalu,” jelas Sumiyati, Kamis (9/8/2017).
Anjungan Kota Langsa juga memamerkan peti dan lemari berukir yang usianya sudah lebih dari 300 tahun lalu. 
Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Irmayani mengatakan, PKA-7 tahun 2018 banyak tampilan berbeda dengan tahun –tahun sebelumnya. Untuk 2018 ini, banyak keunikan yang ditampilkan. Ini semua untuk mengingatkan kembali akan sejarah-sejarah masa lalu di Aceh.
“Silakan kunjungi anjungan-anjungan setiap kabupaten/kota, pasti ada banyak keunikan dan sejarah masa lampau,” ungkap Irmayani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...