Langsung ke konten utama

Budaya Ukir Inai Dilombakan


BANDA ACEH - Sebanyak 16 kabupaten/kota di Aceh mengikuti perlombaan Boh Gaca (menghiasi tangan pengantin dengan inai) di Museum Aceh, Rabu (8/8/2018), dalam rangka memeriahkan serangkaian acara pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII. 
Pada kegiatan bertema “Boh Gaca” tersebut, masing-masing daerah mengutus lima orang peserta.  Seorang menjadi peraga mempelai wanita (pengantin) berbaring di kasur yang telah disediakan.   Sementara empat lainnya mengukir inai di tangan dan bagian atas telapak kaki sang mempelai. Setiap kelompok peserta menampilkan kerapian dalam mengukir inai sesuai ciri khas daerahnya. 
Ketua tim penjurian inai, Mughfirah menjelaskan sejarah inai masuk ke Aceh. Menurutnya, budaya inia merupakan pengaruh dari budaya Arab, Cina, Eropa, dan Hindia. Pengaruh budaya dari negara ini kemudian mewarnai kehidupan masyarakat di Aceh. 
“Perpaduan dari negara-negara inilah yang membawa seni ukir inai pada pengantin di Aceh,” ujarnya.
Kendati demikian, setiap daerah di Aceh memiliki ciri khas ukiran masing-masing. Akan tetapi, dalam perlombaan itu dewan juri membolehkan memodivikasi setiap ukiran inai. “Boleh dimodivikasi seperti memadukan antara ciri khas Aceh Besar dengan Aceh Utara. Itu boleh, walaupun masing-masing daerah itu punya ciri khas nya, kata Mughfirah.
Tak hanya itu, setiap ukiran inai masing-masing daerah tersebut juga memiliki makna dan ciri khas tersendiri. Dia mencontohkan,  seperti Aceh Barat terkenal dengan Bungong Awan Sion, dan  Awan Meucanek. Banda Aceh terkenal dengan Pinto Aceh. 
Begitu juga di Aceh Singkil mereka mempunya ciri khas motif yang sangat memberikan makna bagi masyarakatnya yaitu gambar cincin Nabi Sulaiman. Sementara Aceh Tenggara, dalam seni ukir inainya berbentuk lingkaran bulat. 
“Mereka memaknai lambing tersebut sebagai Tuha Peut.  Dalam kehidupan masyarakat itu ada Tuha Peut yang meluruskan berbagai masalah dalam kehidupan,” tuturnya.  
Di sisi lain, kata Mughfirah, inai juga bermanfaat bagi orang-orang yang bermasalah dalam kesehatan. Proses pembuatan inai ini sendiri, tergantung pada ukirannya dan bisa memakan waktu hingga sampai dua jam.
“Proses ukirannya ini membutuhkan waktu lumayan lama kadang sampai dua jam. Ukirannya itu mulai dari tangan hingga ke kaki,” ujarnya. 
Dari sisi sejarah, tambahnya, inai bermula pada masa Nabi Ibrahim. Ketika itu Nabi Ibrahim memiliki dua orang istri, Siti Sarah dan Siti Hajar. “Nah, yang namanya manusia pasti memiliki sifat cemburu. Oleh karena itu, Siti Sarah sebagai istri pertama kemudian melumuri inai di tangannya supaya menarik,” kata Mughfirah mengisahkan.  
“Setelah diukir, ternyata benar inai memiliki khasiat luar biasa. Siti Sarah lebih tampak mempesona. Jadi sejarah itulah mengapa seorang pengantin yang hendak dinikahkan supaya lebih mempesona diberikan ukiran inai,” tambahnya. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...