Langsung ke konten utama

Indahnya Pemandangan Alam di Desaku


Oleh: Natasya Ulya
Siswi Kelas 8-2 SMPN 7 Satap Bandar Baru, Pidie Jaya


Matahari mulai memancarkan cahayanya di ufuk timur, kicauan burung-burungpun menghiasi indahnya pagi. Angin menyapa lembut kulitku ketika kubuka jendela kamarku. Aku menggunakan baju kaos lengan panjang dan dilengkapi celana olah raga sekolahku yang bertuliskan SMP Negeri 7 Satap Bandar Baru. Sekarang hari sudah mulai terang, sehingga aku terburu-buru mengambil sepedaku dan mengayuhnya menuju rumah temanku Mira. Aku dan Mira tinggal di desa Ara kemukiman Musa kecamatan Bandar Baru kabupaten Pidie Jaya. Jarak rumah Mira dengan rumahku tidak terlalu jauh, hanya 500 meter saja sudah sampai. Aku dan Mira sudah janjian kemarin waktu pulang sekolah bahwa hari Minggu pagi kami ingin jalan-jalan sambil menghirup udara segar dan menikmati indahnya pemandangan alam yang ada di desa kami.
Aku sudah sampai di rumahnya Mira dan ternyata dia juga sudah siap dengan baju olah raganya. Kami pun langsung mengayuh sepeda kami melewati jalan aspal yang di sampingnya ada sungai yang terhubung ke sungai Lueng Putu. Rumah-rumah penduduk berjajar rapi di pinggir jalan yang kami lalui dan yang paling menyejukkan mata ketika perjalanan kami tiba di sawah-sawah penduduk. waah ! sungguh begitu indah, apalagi ketika angin berhembus, daun padi seolah-olah ikut melambai-lambai tangannya ke arah kami.
Desaku memang tidak jauh dari jalan raya tetapi sangat dekat dengan sawah dan sungai. Aku sering menjadikan sawah itu sebagai objek mengarangku kalau ada tugas mengarang yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolahku. Selain menyejukkan mata, sawah bisa membuatku lebih leluasa dan berimajinasi dalam mencipta baik itu mengarang ataupun dalam membuat puisi. 
Aku dan Mira berjalan di pematang sawah yang di sampingnya ada parit kecil yang dialiri air. Parit itu digunakan untuk menaikkan air ke dalam petak sawah masing-masing petani. Lalu, kulihat ada seorang laki-laki yang berjalan di pematang sawah. Laki-laki itu memakai topi kerucut dan kemudian membungkuk sangat lama . Mungkin laki-laki itu sedang melihat keadaan padinya. Setelah puas menikmati kesegaran dan keindahan sawah yang ada di desa kami, aku dan Mira berangkat pulang dengan hati yang senang.
Hamparan sawah yang indah itu hanya bisa kita temui di desa. Bahkan kalau di kota, pemandangan seperti itu sudah tidak ada. Itulah gambaran singkat tentang 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...