Langsung ke konten utama

Industri Perkebunan Sawit tidak Peduli dengan Kemiskinan Rakyat Nagan Raya

Ilustrasi :Gapki

Kita mengkritik pelaksanaan program Coorperate Social Respontability ( CSR ) atau yang lebih dikenal dengan tanggung jawab social Lingkungan bagi perusahaan yang beroperasi di Nagan Raya. Ada belasan perusahaan perkebunan besar yang ada di Nagan Raya tetapi kontribusi mereka dalam mengentaskan kemiskinan penduduk sekitar sangat rendah dan bahkan terkesan tidak peduli.
Secara Nasional, Aceh berdasarkan data BPS tahun 2017 termiskin di Sumatra. Untuk tingkat Kabupaten/kota, Nagan Raya ada di urutan 10 termiskin diantara kabupaten lain yang ada di Aceh. Coba bayangkan betapa dalam kemiskinan yang diderita Rakyat Nagan Raya ditengah gemuruhnya operasional belasan Indutri perkebunan skala besar.
Penyebab lain yang disinyalir mengundang tingginya angka kemiskinan adalah besarnya ketidak adilan Agraria di Nagan Raya. Padahal daerah ini merupakan zonasi Perkebunan tetapi penguasaan areal tidak diawasi oleh pemkab. 
Praktek yang terjadi di Nagan Raya adalah belasan industry Perkebunan yang beroperasi tidak patuh pada undang-undang guna memberi Plasma pada masyarakat. Disamping itu kita juga berhadapan dengan kerakusan Oknum-oknum tokoh masyarakat yang mengusai tanah ratusan Ha per orang secara pribadi, kondisi ini dibiarkan oleh Pemkab dan tentu berkontribusi memperdalam ketimpangan dan kemiskinan di Nagan Raya. Padahal dampak yang ditimbulkan oleh ketimpangan Agraria dapat diminimalisir jika Perusahaan perkebunan mau menjalankan program CSR bagi masyarakat seputar Perusahaaan
Amanah tentang kewajiban CSR dapat kita temukan dalam beragam regulasi seperti dalam pasal 74 UU No 40/2007 tentang Perseroan Terbatas,pasal 15 dan 16 UU No 25/2007 Tentang Penanaman Modal. Malah pada UU Penanaman Modal dalam pasal 34 juga diterakan sanksi bagi Penanam Modal yang tidak menggindahkan pemberian CSR berupa pembekuan dan pencabutan kegiatan usaha.
Di internal perusahaan sendiri jika kita tanya mereka masing-masing mengaku telah memberi program CSR tetapi ini tidak dikordinasikan dengan Pemkab berapa besaran yang diberikan dan program apa yang dijalankan. Masa kasi bola voly juga dikatakan program CSR. Jika kita merujuk pada pasal 65 Qanun No 7/2014 tentang Ketenaga Kerjaan setiap pelaksanaan CSR, perusahaan harus berkoordinasi dengan Pemkab. Saya juga meminta agar Bupati Nagan Raya secepat mungkin melahirkan qanun CSR guna menentukan besaran CSR yang harus dikeluarkan perusahaan dan sedapat mungkin alokasi dana CSR di utamakan sektor Pendidikan karena banyak sekali anak-anak Nagan Raya yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke peguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi orang tuanya.
Ket : Perusahaan Perkebunan Sawit di Nagan Raya
1.    PT Socfindo (Kebun Seumayam)
2.    PT Socfindo (Kebun Kuala Pesisir)
3.    PT Surya Panen Subur I
4.    PT. Surya Panen Subur II
5.    PT. Kalista Alam
6.    PT. Neubok Dalam
7.    PT. Raja Marga
8.    PT. Gelora Sawita Makmur
9.    PT. Hensem
10. PT. Fajar Baizuri Brother
11. PT. Nagan Makmur
12. PT. KIM
13. PTPN
14. PT. Agro Sinergi Nusantara


Seuneuam,13 September 2018
dto
Abdullah Yunus (HP 085362284004)

Aktivis Rawa Tripa Institute

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...