Langsung ke konten utama

KAMPUNG YANG BERSIH DAN INDAH


Oleh Nurul Syamsiyah
Pelajar  SMPN 4 Bandar Dua Pidie Jaya, Aceh


Desaku adalah desa yang sangat bersih dan indah yang terdapat di UleeGle, kabupaten Pidie Jaya. Alkisah ada kepala desa kami yang namanya Nurdin yang memajukan desa kami.
Pada suatu hari kepala desa kami mengadakan rapat di kantor desa. Pada saat itu desa kami belum ada nama. Setelah diadakan rapat desa dan melalui musyawarah dengan perangkat gampong atau desa, diambillah nama desa kami dengan sebutan desa “Gahru”.
Di desa kami selalu diadakan gotong royong bersama. Di setiap lorong semuanya dibersihkan, tidak ada yang tinggal. Semua orang hadir dan rela meninggalkan pekerjaannya untuk membersihkan desa.  Semua orang sangat senang, karena dalam bergotong royong kita juga bisa mempererat silaturrahmi bersama kerabat, rekan desa dan keluarga dan kita juga bisa berkumpul bersama bercanda, ketawa. Aku sangat bangga dengan desaku yang indah dan warga-warga yang baik, ramah. Selain itu,  warga di sini sangat senang membantu sama lain.
Di desa kami banyak balai pengajian dan anak-anak setelah pulang sekolah lalu mereka pergi mengaji. Setiap harinya anak-anak menghabiskan waktunya untuk belajar mengaji dan sebagainya. Di balai juga sering diadakan gotong royong bersama santriwan dan santriwati untuk membersihkan balai agar bersih dan indah.
Warga sangat suka kalau membersihkan desanya dari itu kita bisa hidup aman, nyaman, senang, tentram dan damai, Nah, dengan bergotong royong juga bisa membuat kita percaya akan lingkungan bersih dan sehat, bebas dari penyakit lingkungan bersih. Udara pun segar. Desa terlihat hijau dan bersih wargapun ikut senang. Karena kalau desa kotor, kuman-kuman di sekitar akan sangat banyak dan menyebabkan warga tidak nyaman dan sering sakit-sakitan.
Dari situlah kita bisa melihat kedamaian, keamanan, ketentraman warga dan lingkungan terjaga, karena dari itu kita harus menjaga lingkungan dari bahaya apapun dan jangan membuang sampah sembarangan, itu kuncinya. Warga semua terhindar dari bahaya yang merajalela dan kuman-kuman pun hilang dan musnah. L,ingkungan bersih warga senang semua aman dan desapun menjadi segar dan bersih. Inilah kisah kampungku yang bersih dan indah. Wassalam …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TERPAKSA MEMBUANG DAN MEMBUNUH BAYI

Oleh Kinanthi Anggraini Mahasiswi Pascasarjana P.Sains UNS Penulis dan Model Hijab ‘Kekejaman ini telah diawali oleh sejarah masa lalu. Di zaman raja Fir’aun, yang akan membunuh setiap bayi berjenis kelamin laki-laki dan  zaman Jahiliah, yang akan membunuh setiap bayi yang terlahir perempuan. Dan kini, bayi-bayi yang dibuang dan dibunuh justru berlaku untuk bayi laki-laki dan juga perempuan’ Perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, pasti akan kesulitan untuk membuat keputusan, apakah akan dilanjutkan atau melakukan tindakan aborsi. Hal ini terjadi pada semua perempuan tanpa memandang usia. Pengambilan keputusan yang tepat sangat terpengaruh oleh tingkat kesiapan mental dan tekanan lingkungan sekitar.  Pada umumnya yang mengalami kehamilan dalam kasus ini belum siap secara emosional, kognitif dan finansial untuk menjalani peran sebagai orangtua yang kerap disebabkan oleh tiga faktor besar yaitu; hamil di luar nikah, hubungan gelap dan ...

MENGENAL AKSARA JAWI (ARAB-MELAYU)

Oleh Drs. Hasbi Yusuf (Berdomisili di Banda Aceh) Bahasa Atjèh termasuk bahasa yang sangat unik dalam pengucapan dan penulisannya, dan juga merupakan bahasa yang sangat kaya perbendaharaan kosa katanya. Selain kosa kata asli yang lumayan banyak, diperkaya lagi oleh sejumlah kosa kata serapan dari bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Melayu.  Bahasa Melayu yang telah terserap dan teradopsi secara alamiah dan harmonis melalui pergaulan yang lumayan luwes dan lama dari suku Atjèh sendiri dengan suku Melayu. Lebih-lebih beberapa kerajaan Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaka memang pernah berada di bawah pengaruh kerajaan Atjèh. Diantara beberapa bahasa lain yang paling dominan mempengaruhi, mewarnai dan menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Atjèh adalah bahasa dari empat negara atau bangsa yang terkait dengan nama Atjèh itu sendiri.  Konon nama "ATJÈH" berasal dari gabungan singkatan nama beberapa negara, yaitu: A = Arab; TJ = Tjina;  È = Èropa, H = Hindia.  Dari ...

Sekda Bahagia: Kita Harus Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Banda Aceh  -   Sebagai insan yang beriman,  kita tidak mungkin mengelak dari bencana. Semua bencana di atas bumi ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melai n kan sesuai  dengan  kehendak dan ketentuan Allah  SWT. “Namun y ang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita belajar hidup berdampingan dengan bencana,” demikian ungkap Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh Bahagia saat membuka Simulasi Gempa dan Tsunami di Dayah Terpadu Inshafuddin, Senin (19/2/2018). Kegiatan ini digelar oleh UNDP Indonesia bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Banda Aceh dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banda Aceh melalui dukungan Pemerintah Jepang. Menurut Sekda Bahagia,   kegiatan  sosialisasi   maupun simulasi  tentang pengurangan risiko bencana  sangat penting dilakukan. “Memberikan pengetahuan tentang   kesiapsiagaan sekolah menghadapi risiko bencana  merupakan langkah awal dalam mem...